
Antara Cintanya dan Hartaku
Bab 4
Sambil berusaha mencariku, dia tidak lupa membalas pesan dari Jessica.
[Sayang, hati-hati di jalan saat periksa kandungan, jangan sampai jatuh!]
[Baik-baik di sana ya. Aku merindukan dan mencintaimu.]
Hatiku yang semula tak mau peduli, menjadi sedikit terusik dan terasa sakit.
‘Mereka bahkan akan punya anak?’
Aku tidak pernah tahu kapan mereka menikah dan punya anak.
Beberapa menit kemudian, wanita itu mengirim sebuah pertanyaan.
[Aku sudah hamil dua bulan. Kapan kamu mau putus dengan perempuan itu?]
[Aku sekarang sudah jadi istrimu, kenapa kamu masih punya hubungan dengan orang lain?]
Ketika aku membaca pesan itu, jantungku berdebar kencang dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Awalnya aku berpikir bahwa Jessica juga sudah dibohongi sepertiku.
Aku bahkan sempat ingin menghubunginya terlebih dahulu dan bekerja sama dengannya untuk mengungkap kebejatan laki-laki itu.
Sekarang tampaknya itu tidak perlu lagi.
Mereka berdua adalah pasangan yang serasi, sama-sama jahat!
Tepat pada saat itu, muncul pesan lainnya.
Itu dari ibunya Candra.
[Candra, kenapa kamu masih tidak bisa membujuk seorang gadis bodoh?]
[Apa kamu sudah lupa semua yang pernah diajarkan Ibumu ini?]
Ternyata ibunya yang selalu baik dan ramah padaku juga tahu tentang semua kebohongan ini.
Aku tersentak dengan kejutan ini. Tanganku berpegangan pada meja untuk beberapa lama sebelum pulih kembali.
Semua yang kualami dalam tiga tahun terakhir ini ternyata tidak lain hanyalah penipuan yang sudah dirancang dengan cermat oleh para penjahat ini.
Hanya demi uang, mereka benar-benar tega melakukan ini semua.
Aku mencatat nomor kontak Jessica, lalu meninggalkan ruangan itu tanpa suara.
Setengah jam kemudian, Candra kembali ke rumah dengan keringat bercucuran.
Dia mengumpatku sambil menendang membuka pintu.
"Dasar wanita tidak tahu malu, berani sekali dia mengambil uangku.”
"Begitu kamu pulang, kuhajar kamu sampai mati!"
Aku bersandar di meja makan dan minum air dengan tenang, "Apa? Kamu mau menghajarku sampai mati?"
Candra terdiam sejenak, dia menatapku dengan dahi berkerut.
Dengan wajah dingin dan murka dia berjalan cepat ke arahku dan memegang erat pergelangan tanganku.
"Lian, kamu pindahkan ke mana uang kita?"
Aku letakkan gelas itu dan melepaskan diri dari cengkramannya.
Lalu berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa.
"Jangan bercanda, itu semua uangku, bukan uangmu.”
"Selama ini kamu hanya bisa menabung dua ratus jutaan saja. Bisa-bisanya kamu sebut itu uangmu tanpa malu."
Candra menelan ludah pahit, dan tangannya terlihat mengepal berulang kali.
Tinjunya terasa seperti akan mengenai wajahku sedetik kemudian.
Candra menahan amarahnya dan bertanya padaku dengan suara dingin.
"Kita akan menikah di masa depan, jadi ini adalah harta kita bersama. Kenapa kamu tarik uang itu tanpa bilang apa pun padaku?”
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan dengan semua uang itu?"
Aku menyilangkan kakiku dengan santai tanpa melihatnya.
"Aku beli sebuah rumah."
Candra terbelalak mendengar jawabanku.
Dia langsung meninggikan suaranya dan mengulangi pertanyaannya dengan nada tidak percaya.
"Apa kau bilang tadi?!"
Salah satu yang paling aku benci dalam hidupku adalah berbicara dengan alat perekam.
Aku sudah malas meladeninya, jadi aku mengambil ponselku dan mulai bermain gim.
Candra akhirnya tidak dapat menahan amarahnya lagi, dia mendekat maju dan menjatuhkan ponselku.
Ponsel itu jatuh dengan keras ke lantai, dan layarnya retak menjadi beberapa bagian dalam sekejap.
Candra menggila dan berteriak kepadaku, "Kalau uang itu kamu pakai untuk beli rumah, jadi bagaimana denganku?”
Anda Mungkin Juga Suka





