APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Aku dan Adik Tiriku

Antara Aku dan Adik Tiriku

Raffael akhirnya pulang setelah enam tahun pergi ke luar negeri akibat fitnah kejam dari adik tirinya, Syaqila. Meski kini Syaqila berniat tulus untuk meminta maaf atas kesalahan masa lalu yang membuat Raffael terasing, ia justru disambut dengan tatapan dingin dan penuh kebencian. Hubungan mereka pun kini berada di ujung tanduk. Apakah pertemuan ini akan menjadi momen rekonsiliasi yang damai, atau justru menjadi awal dari rencana pembalasan dendam Raffael?
Bab
Bagikan

Bab 2

Raffael terganggu dengan suara ketukan di pintu kamarnya. Dengan cepat ia mengenakan celana setelah melepas handuk yang semula melilit di pinggangnya. Dia berjalan mendekati pintu dan membukanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang perempuan yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan mulut menganga.

Raffael mengernyit. Ia seperti tak asing dengan wajah perempuan itu? Tapi, yang cukup membuatnya terganggu adalah ekspresi perempuan itu yang kelewat kampungan.

Raffael menjentikkan jari di depan wajahnya hingga perempuan itu mengerjap dan segera tersadar.

"Mulut," tegur Raffael mengingatkan.

Tangan perempuan itu menyentuh bibirnya yang terbuka. Tampak jelas ekspresi malu di wajah perempuan ketika menyadari sedari tadi dia memasang ekspresi memalukan. Dan parahnya, dia juga meneteskan air liur di mulutnya itu.

Raffael bergidik.

"Maaf," ucap perempuan itu. Dia berdehem sesaat, sebelum akhirnya kembali berani menatapnya dengan sikap biasa. "Itu ... mama menyuruhmu turun. Makan malam sudah siap."

"Mama?" Raffael menaikkan satu alisnya. Dia merasa sedikit heran.

"Iya. Mama." Perempuan itu tampak bingung. "Mama Utari. Kau tidak mungkin lupa padanya, kan?"

Raffael tidak mengerti untuk beberapa saat. Dia pasti mengetahui wanita yang menjadi ibunya itu. Tapi yang mengherankan di sini adalah perempuan di depannya yang memanggil dengan panggilan yang sama.

Raffael tidak bisa menahan pertanyaan yang bersarang di benaknya sejak tadi.

"Kau siapa?" tanya Raffael menyipit curiga.

****

Bolehkah Syaqila mengamuk sekarang? Sial! Apa maksud pertanyaan Raffael padanya? Apakah enam tahun tidak bertemu membuat pria itu lupa jika ia memiliki seorang kakak?

Baiklah. Syaqila akui, ia juga sempat lupa. Tapi, dia segera mengingatnya setelah ibunya dengan senang hati menjabarkan setiap keburukan yang pernah ia lakukan dulu. Syaqila tidak mungkin melupakannya.

"Kamu lupa?" tanya Syaqila memastikan sekali lagi.

"Pergi!" Bukannya menjawab, Raffael justru mengusir Syaqila dengan pandangan dingin. Dia tampak tak peduli siapa Syaqila. Karena kenyataannya memang tidak penting baginya.

"Tunggu dulu!" Syaqila segera menahan saat Raffael hendak menutup pintu kamarnya. Pria itu tampak menatapnya tajam. Tapi, bukan Syaqila namanya jika dia takut hanya dengan tatapan seperti itu. "Kita kenalan saja jika kamu memang lupa padaku."

"Tidak butuh!" balas Raffael menohok. Dia mendorong Syaqila dan menutup pintu dengan keras.

Syaqila terdiam dengan wajah mengeras. Berani sekali adiknya itu memperlakukannya seperti ini. Niat untuk meminta maaf pada pria itu seketika sirna. Syaqila lebih berhasrat untuk membalas sikap Raffael yang kurang ajar padanya.

"Dasar gendut! Cebol! Jelek!" sungut Syaqila. Dia berjalan pergi dari sana dengan menggerutu kecil.

Sementara Raffael di dalam kamarnya bergeming. Pria itu tercenung mendengar lontaran kata Syaqila yang memang ditunjukkan untuk mengejeknya habis-habisan. Raffael seolah baru menyadari sesuatu sejak tadi. Pria itu menoleh ke pintu, satu sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai.

"Syaqila." Dia akhirnya bertemu dengan perempuan yang ia sebut sebagai medusa di masa lalu. Raffael tidak akan pernah melupakan masa kecilnya yang kelam akibat perlakuan Syaqila yang sering menindasnya tanpa alasan. Tidak sekali dua kali Raffael terkena masalah akibat Syaqila. Bahkan Raffael kerap kali dihukum atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Semua karena perempuan itu. Perempuan siluman itu.

"Sepertinya akan semakin menarik setelah ini."

****

Raffael turun dari kamarnya. Dilihatnya, semua keluarganya sudah berkumpul di meja makan, begitu pula Syaqila yang kini duduk dengan wajah merenggut.

Raffael duduk di samping perempuan itu. Bukan keinginannya, tapi karena status mereka sebagai kakak adik, mereka harus berada di tempat yang berdekatan. Mereka duduk tepat di sisi kanan ayahnya yang duduk di kursi utama. Sementara ibunya duduk di seberang, tepat di samping suaminya.

Lalu disusul keluarganya yang lain, yang merupakan bibi, paman, serta keponakan mereka. Suasana rumah begitu berisik dan ramai. Raffael berusaha untuk tidak terganggu meski sebenarnya ia kurang menyukai suasana saat ini.

Saat tengah asik menikmati makan, seseorang di sisinya tiba-tiba tersedak. Sontak, Raffael mendelik tak suka pada Syaqila yang kini meraih gelas dengan ekspresi menyedihkan. Raffael memberi jarak supaya air liur perempuan itu tidak mengenainya. Tapi seperti tidak puas, ia justru mencengkram lengan kemeja Raffael. Raffael terbelalak, pakaian yang ia kenakan jadi kusut dan kotor. Rasanya dia sangat ingin menepis kasar tangan perempuan itu. Sayangnya, ia tidak bisa melakukan hal itu di sini, tepat di depan orang tuanya.

"Antar aku ke kamar," pinta Syaqila, menatap Raffael dengan pandangan memohon.

Sedikit pun Raffael tak tersentuh. Ia justru berusaha menahan diri untuk tidak menampar wajah perempuan itu supaya menjauh darinya.

"Raffa, sebaiknya antar Syaqila. Sepertinya dia kurang sehat," ucap Fabian, sang kepala keluarga di rumah ini.

Raffael ingin menolak, tapi itu tentu saja tidak mungkin. Dia tidak bisa membantah ucapan ayahnya.

Setelah menghembuskan napas kasar dari mulutnya, Raffael membantu Syaqila untuk pergi meninggalkan ruang makan. Suasana di sana tidak berubah meski mereka berdua pergi dari sana. Keluarga besarnya memang senang mengadakan pesta seperti ini. Tak ada satu atau dua orang di sana tak akan membuat suasana jadi berbeda. Mereka masih bisa bersenang-senang dan menikmati acara dengan orang-orang yang ada.

Setelah sampai, Raffael segera melepaskan Syaqila. Dia memberi jarak yang lumayan karena sejak tadi dia memang tidak nyaman merapatkan tubuh dengan perempuan itu.

"Kenapa?" Syaqila mengerjap bingung. Tingkah Raffael terasa berbeda, dan tampak tidak nyaman ketika bersamanya. Lebih dari itu, sebenarnya ekspresi yang ditunjukkan pria itu cukup membuat Syaqila tersinggung. Tapi ia masih berusaha menepis perasaan tidak enaknya itu.

"Sudah sampai. Sekarang aku akan pergi." Raffael berbalik, hendak pergi. Tapi lengannya ditahan sehingga terpaksa ia kembali berhenti. Dia segera melepaskan tangan Syaqila yang menyentuhnya.

Sikap Raffael itu membuat wajah Syaqila semakin kusut. "Apa maksud sikapmu itu?"

Dia tidak bisa membiarkan hal ini lebih lama. Berkat Raffael, harga diri Syaqila tersentil. Setidaknya pria itu harus mendapat hukuman karena berani memperlakukannya seperti ini.

"Menurutmu?"

"Apa kau jijik padaku?" tanya Syaqila curiga. Dari setiap sikap Raffael, hal itu sebenarnya sudah terlihat jelas. Akan tetapi Syaqila masih berusaha menepisnya. Tidak mungkin pria yang merupakan adik tirinya itu jijik padanya, kan? Dia mungkin hanya bersandiwara karena masih dendam atas kejadian di masa lalu.

"Sejujurnya, ya."

Jawaban Raffael tidak terduga, Syaqila yang tidak siap akan mendapat jawaban itu seketika membeku tak percaya.

Pria itu melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan Syaqila kembali memasang wajah bodoh itu lagi. Setelah enam tahun, perempuan itu bukannya menjadi lebih baik justru malah menjadi lebih buruk. Dia tidak terlalu cantik dan sikapnya tidak anggun sama sekali. Jangankan untuk mengagumi, memandangnya saja membuat Raffael malas.

"Aku tidak menyukaimu. Keberadaanmu di sekitarku itu sangat mengganggu. Jadi, kuharap ke depannya kamu tidak lagi bersikap seperti tadi. Demi Tuhan! Kamu itu menjijikan."

Syaqila membatu. Raffael sudah pergi setelah mengatakan kata-kata yang menusuk itu. Bahkan pandangan tajamnya masih bisa Syaqila ingat dengan sangat jelas. Sorot penuh kebencian itu begitu kental.

"Sialan!" Tangan Syaqila mengepal. Dia merasa terhina. Air matanya berjatuhan. Tapi ekspresi wajahnya hanya menunjukkan kemarahan. Dia ingin membalas, ingin melakukan pembelaan. Tapi hingga pria itu pergi, mulut Syaqila senantiasa terkatup rapat. Sisi hatinya merasa tak layak untuk bicara karena ia sadar kesalahannya pada Raffael di masa lalu juga tak bisa dimaafkan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menantu, Bukan Pembantu
9.2
Pernikahan atas dasar cinta yang kuat dengan Reza, pria dari kalangan terpandang, awalnya terasa indah bagi Fera. Namun, impian indahnya lenyap seketika saat kenyataan pahit mulai menerpa. Fera kini harus menghadapi tekanan luar biasa dari keluarga sang suami yang mengubah total jalan hidupnya. Di tengah badai cobaan yang terus menguji ketabahan, mampukah ia bertahan sebagai menantu di keluarga tersebut, atau justru memilih menyerah pada takdir barunya?
Sampul Novel Benang yang Tak akan Pernah Putus
9.2
Kaiyo Wrasasana bertekad kuat menghapus keberadaan sang ibu dari hidupnya. Demi memutus ikatan batin tersebut, Yoyo bahkan rela menempuh jalan paling menyakitkan. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, benang takdir yang menghubungkan mereka berdua terlalu kokoh untuk dipatahkan. Tanpa disadari, upaya kerasnya untuk menjauh justru melukai ibunya secara mendalam, sekaligus menggoreskan luka yang jauh lebih perih di dalam hatinya sendiri.
Sampul Novel Bercinta Dengan Sang Presdir
9.0
Pengkhianatan kejam adik tirinya menghancurkan mimpi Alice Harper untuk menikah dengan Dean Walcott. Setelah dipermalukan di hari pernikahan, Alice memilih pergi ke Birmingham demi menata ulang hidupnya. Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sang mantan kekasih, Dastan Lancaster, yang dulu pergi tanpa kabar. Pesona sang presdir kembali menyalakan api asmara masa lalu. Saat Dastan tiba-tiba melamarnya di hadapan publik, akankah Alice meraih kebahagiaan yang sempat sirna?
Sampul Novel Cabe-cabean Kekasih Vice President
7.8
Pertemuan tidak terduga di sebuah kelab malam mempertemukan Alexander Richard dengan Soraya, gadis berusia 19 tahun yang polos dan apa adanya. Walau perbedaan usia mereka terpaut delapan belas tahun membuat sang Vice President awalnya mengira hubungan ini tidak serius, ia justru jatuh hati teramat dalam. Sayangnya, masa lalu Soraya menyimpan rahasia yang berhubungan dengan luka lama Alexander. Kini, ia mesti berjuang mengatasi trauma besarnya demi mempertahankan cinta sang gadis impian.
Sampul Novel Hubungan Cinta Terlarang dengan Ibu Rina
8.7
Rina adalah seorang guru sejarah di sebuah SMA. Dia berusia 30 tahun, bercerai tanpa anak. Orang bilang dia mirip Demi Moore di film "Striptease". Tingginya 170 cm, berat 50 kg, dan payudara 36B. Semua muridnya, terutama yang laki-laki, sangat ingin melihat tubuh polosnya. Suatu hari, Rina harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya untuk tes rias wajah. Anto harus mengulang ulangan karena ketahuan menyontek di kelas. Anto juga dikenal dengan tubuhnya yang kekar karena sudah berlatih bela diri sejak SD sehingga harus menjaga kebugaran fisiknya. Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Dia diam-diam naksir dia. Itu sebabnya dia bermaksud memberinya beberapa "pelajaran tambahan" pada Minggu sore ini. "Sudah selesai, Anto?" Rina kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto sendirian selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang dilontarkannya. "Hampir, Nona." "Kalau sudah selesai, datanglah ke ruang tamu. Aku akan berada di belakang." "Oke." "Mbak Rina, aku sudah selesai," Anto memasuki ruang tamu dengan pekerjaannya. "Dimana Kak Rina?" "Dia di kamarnya Anto, sebentar," Rina mencoba membetulkan kausnya. Ia sengaja melepas branya untuk membangkitkan gairah muridnya. Di balik baju longgarnya, bentuk payudaranya terlihat jelas, terutama putingnya yang menonjol. Begitu dia pergi, mata Anto hampir melotot melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai, tidak seperti penampilannya biasanya di depan murid-muridnya. “Kenapa kamu tidak duduk dulu, biar aku periksa…” Wajah Anto memerah karena malu saat Rina tersenyum saat tatapannya terfokus pada payudaranya. "Bagus... bagus... Kamu bisa berbuat curang seperti itu?" “Maaf, Nona. Saya lupa belajar hari itu.” "Ah, benarkah?" "Anto, bisakah kamu membantuku?" Rina mendekat padanya di atas karpet. “Ada apa, Nona?” Tubuh Anto gemetar saat tangan gurunya memeluknya, sementara tangan Rina yang lain membelai area miliknya. "Tolong, bantu aku, dan berjanjilah untuk tidak memberitahu siapa pun." "Tapi...tapi...aku..." "Kenapa? Oh...kamu masih perawan?" Wajah Anto memerah mendengar perkataan Rina. "Ya." "Tidak apa-apa. Biarkan aku membimbingmu." Rina lalu duduk di pangkuan Anto dan Anto hanya menurut saja saat tubuh hangat gurunya menempel di tubuhnya. Dia bisa merasakan dada Rina mengeras. Keduanya berciuman mesra. Setelah memuaskan diri, Rina berdiri di hadapan muridnya yang masih tertegun. Rambut panjangnya tergerai seperti sutra di tubuhnya. "Ah, cepatlah Anto," erang Rina tak sabar. Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Anto...letakkan tanganmu di dadaku," dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina, merasakannya naik turun.
Sampul Novel Istri Lusuhku Jadi CEO, Setelah Aku Ceraikan
9.4
Setelah perceraian yang menyakitkan, Surya tega mengusir Anaya dan mengabaikan anak kandungnya sendiri. Selama tiga belas tahun, ia menghilang tanpa memberi nafkah atau mencari tahu kabar mereka. Namun, sebuah desakan hidup yang mendesak akhirnya memaksa Surya untuk melacak keberadaan anak-anaknya kembali. Ketika pencariannya berhasil, ia justru dihadapkan pada kenyataan mengejutkan bahwa nasib mantan istri dan buah hatinya kini telah berubah drastis di luar perkiraannya.