APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anon I love u

Anon I love u

Sheril, wanita 25 tahun yang belum pernah pacaran, kerap digunjingkan tetangga akibat jam kerjanya. Padahal, ada pria-pria memikat seperti Rey, Vero, dan Tedi di sekitarnya. Uniknya, ia justru terpikat pada Anon, pemilik akun misterius di aplikasi Minsta yang belum pernah ia jumpai secara langsung. Mengapa Sheril memilih pria asing tersebut? Siapa sebenarnya sosok asli di balik identitas anonim itu? Simak kisah romansa dewasa penuh misteri ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Bunyi ponsel dari notifikasi Minsta, membuat Sheril terjaga. Pikirnya siapa yang sudah mengganggu mimpi indah di pagi buta? Ia tak berharap notifikasi itu dari Narto, mantannya yang baru putus seminggu yang lalu.

Masih terbaring, tangan Sheril meraba lantai yang dingin untuk meraih ponselnya. Kasur yang ia tempati hanya beralaskan karpet kain. Tidak ada ranjang, atau nakas di kamar itu. Hanya ada kasur lantai lengkap dengan bantal dan sebuah lemari plastik.

Setelah berhasil menemukan ponselnya Sheril segera menyentuh layar untuk membuka kunci. Ternyata sebuah pesan dari aplikasi Minsta. Aplikasi populer tempat para Selebta, sebutan untuk influencer Minsta dengan followers minimal satu juta.

[.]

Begitulah isi dari pesan singkat di Minsta. Hanya satu tanda titik tapi membuat Sheril melongo.

[Apaan cuma titik doang]

Ia membalas pesan tersebut lalu bergegas turun dari kasur. Setelah membalas pesan tersebut, ia menyimpan ponselnya di atas kasur. Berjalan enggan keluar kamar sambil membawa handuk.

"Sher, kalau mau mandi sekalian cuci piring, ya!" teriak Fika, kakak ipar Sheril.

"Ya," jawabnya singkat. Sebenarnya, ia terlihat masih ngantuk. Namun, kerja pagi tidak bisa ditunda, jika tidak berangkat kerja dia tidak akan punya uang. Sementara kakak iparnya, meski bangun lebih pagi darinya, tapi sibuk main ponsel.

Entahlah, untuk dagang, kali. Begitulah Sheril berusaha berpikir positif.

Handuk ia sampirkan di pundak. Berdiri di depan wastafel yang penuh dengan piring kotor.

'Siapa saja sih yang makan? Perasaan kemarin nggak sebanyak ini.'

Sheril mulai memutar kran air, mengguyur spons untuk dicuci lebih dulu. Baru ia beri sabun dan sedikit air.

Bunyi piring yang beradu saat ditumpuk berdenting. Sheril berusaha pelan melakukannya meski licin. Setelah selesai mencuci piring, barulah ia melangkah ke kamar mandi.

Air yang dingin mengguyur tubuh. Rasa pegal yang mendera, beku seketika. Memberikan sensasi segar dan mengusir kantuk.

Setelah selesai mandi, ia berjalan menuju kamarnya. Handuk masih melilit tubuhnya, serta handuk kecil menutupi rambutnya yang basah. Sheril kembali meraih ponsel, ada notifikasi dari Minsta, sebuah pesan singkat dari akun yang sama.

[Kenapa? Nggak boleh?]

Sheril mengerutkan alis lalu mengetik sebuah balasan.

[Aneh aja.]

Sheril meletakan kembali ponselnya di atas kasur, lalu ia mengenakan baju dinasnya. Seragam biru bercorak warna merah melingkar di bagian dada.

[Biar beda, daripada cuma kata 'hi' tapi nggak di balas, kan?]

Notifikasi kembali berbunyi. Sheril yang sedang menyisir rambut segera meraih ponsel. Ia tertawa pelan.

[Oh.]

Jawab Sheril. Kata yang ia gunakan ketika malas atau ingin iseng menjahili teman onlinenya. Satu kata yang mampu membuat orang lain dongkol.

[Dih, cuma oh, doang. Aku sering lihat kamu tiap pagi, apa hari ini kerja juga?]

Sheril segera mengikat rambutnya. Ia mengingat-ingat setiap pagi saat ia berangkat kerja. Apa yang sedang chatting dengannya adalah orang yang pernah disapanya?

Tidak mungkin, sanggah Sheril. Karena yang sering menyapanya tiap pagi adalah bapak-bapak penjual bubur ayam atau pedagang sayur di komplek tempatnya tinggal.

[Kamu yang jualan bubur ayam?]

Sheril membalas pesan tersebut dengan sebuah pertanyaan.

Sementara di tempat lain, pria yang sedang berdiri di balkon lantai dua tertawa keras.

Sial, kenapa disangka tukang bubur?

Pria itu menghentikan tawanya, lalu mengetik sebuah pesan.

[Aku pastikan kamu lewat lagi dan tak menyapaku hari ini.]

Sheril yang sedang memakai sepatu, kembali mengambil ponselnya yang berbunyi. Ia mendengkus lalu mematikan data selulernya.

"Kak. Aku berangkat dulu, ya!"

"Kenapa nggak makan dulu, Sher?" tanya Fika. Ia sibuk dengan dua anaknya yang bersiap sekolah.

Sheril tak menanggapi kakak iparnya itu. Ia berangkat sambil celingukan. Mencari kemungkinan orang yang tak pernah disapanya apabila bertemu.

"Rajinnya Sheril, mau berangkat kerja?" tanya seorang ibu-ibu yang sedang memilih sayuran di tukang sayur.

"Iya, Bu Nis." Sheril tersenyum. "Permisi," ucapnya saat lewat.

"Anak zaman sekarang, ya, kelihatannya saja sopan, padahal murahan."

"Ssst. Nanti kedengeran. Biasalah, sopan santun demi tameng. Aslinya jual diri sama godain laki orang," jawab ibu-ibu di sebelahnya.

"Pantesan itu anak udah umur 25 belum nikah juga," ucap salah satu dari lima ibu ibu yang sedang belanja sayur.

Sheril sudah terbiasa dengan gosip seperti itu. Sudah seperti sarapan pagi. Apalagi pekerjaannya berangkat pagi pulang jam sepuluh malam. Membuat gosip para tetangganya seolah terasa nyata.

"Tumben Sheril nggak beli bubur?" tanya penjual bubur ayam saat Sheril melewatinya.

"Sudah sarapan, tadi, Pak." Sheril tersenyum. Ia berjalan sambil mencari seseorang yang mungkin bisa dicurigai sambil sesekali menyapa orang yang berpapasan dengannya.

Jalan gang yang sempit itu tak ada yang bisa Sheril curigai. Kemudian ia berjalan di jalan gang dengan tembok yang tinggi di salah satu sisinya. Perjalanannya menuju jalan raya masih jauh, karena itu ia bangun pagi hanya untuk jalan dari rumah kakaknya menuju jalan raya.

Sheril meraih ponselnya, mengaktifkan kembali data seluler. Tak lama kemudian, notifikasi dari Minsta muncul. Chat dari akun yang bernama "Alnonim"

[Kan, kamu nggak menyapa aku!]

Sheril menghentikan langkahnya. Lalu mengetik sebuah balasan.

[Tadi aku udah nyapa. Maaf ya, hari ini nggak beli bubur dulu, Pak!]

Sheril mendengkus. Lalu ia berjalan kembali.

Tak jauh dari Sheril berada. Seorang pria yang masih berdiri di balkon lantai dua rumahnya tertawa keras. Lalu ia menutup mulutnya dan menghentikan tawanya saat Sheril menoleh.

[Aku bukan tukang bubur!]

Balasan itu ia kirim kepada Sheril. Manik matanya tak henti menatap punggung Sheril yang menjauh. Lalu, Sheril berhenti di pinggir jalan raya sebelum menyebrang menuju halte bus.

[Kalau bukan, lalu kamu siapa?]

Sheril duduk di kursi sambil menunggu bus selanjutnya tiba. Jalanan masih lengang pagi ini. Kendaraan pribadi tidak banyak berlalu lalang.

[Kalau kuberitahu nanti kamu menyesal.]

Sheril mencebik saat membaca balasan dari teman online-nya itu.

[Oh]

Balasnya singkat.

[Coba kamu cari tau sendiri!]

[Nggak mau, capek!]

Sheril mematikan data selulernya lagi setelah membalas pesannya. Sebuah bus yang ditunggunya tiba. Sheril segera naik bus, jaraknya menuju tempat kerja tak jauh. Hanya perlu lima menit naik bus.

Setibanya di depan SevenMart, Sheril turun dan membayar bus dengan menempelkan card.

"Kak Sheril!" teriak pekerja part time saat Sheril masuk.

"Tumben, Wid, ada apa?"

"Hari ini aku terakhir kerja part time. Nanti ada pengganti aku. Tapi katanya mau satu shift sama Kak Sheril."

"Kamu mau pindah?" tanya Sheril.

"Bukan pindah, tapi keluar. Aku dapat kerjaan yang bagus!"

"Baguslah. Selamat, ya!"

"Eh, Kak. Kenapa kakak betah kerja di sini sih?"

"Ya daripada nggak ada kerjaan, kan? Aku hanya lulusan SMP, mana bisa pilih-pilih kerjaan." Sheril menjawab sambil diakhiri tawa.

"Aku pulang dulu, ya, Kak. Bye!"

"Eh, Wid. Rey nggak masuk?"

"Kak Rey ganti shift, jadi malam gantiin aku nemenin Kak Yuri."

Sheril mengangguk untuk mengiyakan. Lalu, siapa pekerja baru yang akan bersamanya?

Sheril menghela napas panjang. Ia berdiri di menatap mesin barcode. Setelah kepergian Widiya, Sheril belum mendapatkan pengunjung. Semua pekerjaan sudah dirapikan oleh Widiya. Sheril mengambil roti dan susu kotak yang letaknya tak jauh darinya, lalu menyantap sarapannya di pagi ini.

Denting suara pintu yang didorong membuat Sheril mendongak ke arah pintu. Dua pria berjalan ke arahnya sambil berbincang. Sheril segera menyimpan sarapannya yang belum habis itu, lalu menyapa pemilik SevenMart saat tiba di depannya.

"Selamat pagi, Pak Davin."

"Pagi, Sheril." Pria yang dipanggil Pak Davin itu, melempar senyum ke arah Sheril.

"Nah, Al, dia Sheril, teman kerjamu. Sheril, ini Alvero yang akan menggantikan Rey."

"Semoga betah, ya, Al." Davin menepuk pundak Vero lalu pamit kepada Sheril.

Vero menatap Sheril beberapa menit, lalu tertawa. Sheril yang masih sibuk melihat pemilik SevenMart pergi segera menoleh, ia mendengus kesal melihat kelakuan partner kerjanya yang tengil itu.

"Kenapa baru sarapan?"

Sheril yang hendak menggigit roti itu, menoleh ke arah Vero.

"Terserah aku, dong!" jawab Sheril tak peduli. Ia segera menghabiskan roti selai coklat itu lalu meneguk susu rasa pisang hingga habis.

Ponsel Sheril berbunyi, segera ia merogoh ponsel dari saku celananya. Ia mengumpat beberapa kali sambil berkutat dengan ponsel. Ada satu chat dari minsta yang masuk karena wifi SevenMart aktif. Ponsel yang diatur tersambung otomatis itu membuat Sheril menggerutu. Mau tidak mau ia membuka pesan tersebut.

[Kalau begitu, aku akan menemuimu!]

Sheril terpaku menatap layar ponsel. Sementara Vero, teman kerjanya berkeliling di ruangan SevenMart untuk mengenal lingkungan kerjanya.

[Temui saja kalau berani!]

Balas Sheril, lalu ia mematikan ponselnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Haram Milik Suamiku
8.1
Kebahagiaan rumah tanggaku runtuh seketika saat sebuah rahasia besar terungkap dari mulut suamiku sendiri. Bocah yatim piatu yang kami adopsi dan besarkan bersama dengan tulus, ternyata merupakan anak kandungnya. Bocah itu lahir dari perselingkuhan suamiku dengan perempuan lain di masa lalu. Janji manis pernikahan yang dulu ia ucapkan kini berubah menjadi kebohongan yang sangat menyiksa. Di tengah kehancuran rumah tangga kami, aku kini harus menghadapi kenyataan yang teramat pahit.
Sampul Novel Duda Kuat
9.7
Dalam setahun, Satria sudah bercerai tujuh kali karena semua istrinya tak sanggup melayani gairah ranjangnya yang luar biasa hingga tujuh kali sehari. Kondisi fisik yang tidak wajar ini membuat Satria bertanya-tanya. Ia mencurigai kekuatan berlebih tersebut muncul akibat efek samping obat misterius dari mendiang kakeknya semasa sekolah dulu. Kelanjutan dari kisah Kepincut Janda Tetangga.
Sampul Novel Gairah Membawa Petaka
8.3
Mengandung konten 21+ Harap bijak menentukan bacaan... Jangan lupa mampir juga cerita pertama "Mertua Hiperseks" Zakia Ananta Arman, gadis remaja yang masih sangat polos dan tidak pernah mengenal apa itu jatuh cinta sebelumnya. Dia terpesona dengan ketampanan pemuda tampan yang merupakan putra dari kyai pengasuh pesantren dikingkungannya. Malam itu gadis yang cakap dipanggil Kia itu secara sengaja masuk ke dalam kamar pria yang sering di panggil Gus Beren oleh para santri. Kia memasukkan obat perangsang dan alkohol secara bersamaan pada teh yang disajikan oleh Santri dan akan di minum oleh Gus Beren. Alhasil, malam itu tanpa sadar Gus Beren menyetubuhi Kia yang bersembunyi dibalik tirai gorden kamarnya, saat Gus Beren tengah membersihkan badan di kamar mandi setelah acara pengangkatan pengasuh baru di adakan di pesantren yang di miliki abahnya. Hubungan satu malam itu berakhir duka bagi Kia. Ia tidak pernah menyangka bahwa dari hubungan itu ia akan mengandung anak dari Gus Beren, tapi sayangnya Gus Beren tidak mau bertanggung jawab atas anak itu. Karena bagaimana pun anak itu tetap akan bernasab pada ibunya, sebab ia hadir sebelum terjadinya Ijab Qobul pernikahan. Apalagi Kia baru mengetahui, jika Gus Beren sudah memilik istri yang di nikahi secara siri, karena saat ini istri Gus Beren masih melanjutkan pendidikannya di Mesir. Kia teringat akan perbuatan papanya Arman beberapa waktu yang lalu, ia membawa Cantika yang merupakan wanita selingkuhannya ke rumah dan melakukan perbuatan mesum di depan mamanya Arini. Mungkinkah yang terjadi saat ini merupakan balasan atas perbuatan Arman, yang telah menyakiti Arini. Bukan hanya itu, Arman juga sering melampiaskan amarah pada mamanya dan juga kakaknya Zoni saat mereka memberontak kelakuan Arman untuk bermain panas dengan Cantika. Kata-kata Kia terngiang begitu dalam pada ingatan Arman, yang menyiratkan kebencian dari seorang putri yang sangat ia sayangi. Arman tak pernah begitu menyesal atas perlakuannya dan perkataannya yang sering menyakiti Arini dan Zoni, tapi untuk Kia, dia benar-benar menyesal karena telah membuat putri kesayangannya itu kecewa dan berkata kasar padanya. Teringat pada masa lalu kelam tentang Rania yang harus mati akibat ulah Ayah Arman, ia takut hal itu terulang kembali pada Kia. Akankah Kia bisa mendapatkan keadilan serta tanggung jawab dari Gus Beren untuk anak yang dikandung? Sedang usianya saat ini masih belum cukup umur untuk melangsungkan pernikahan karena ia baru 9 SMP. Ataukah ia akan menjalani sisa-sisa hidup dengan karma yang telah papanya perbuat selama ini? Siapakah Rania, yang menyisakan luka begitu dalam bagi Arman?
Sampul Novel KABUT CINTA DI KOTA HUJAN
8.9
Demi sang ibu, Gayatri rela menikah muda dengan Baskoro, walau ia tahu hati suaminya masih milik Saras. Kehidupan pernikahan mereka di Kota Hujan semakin dingin dan goyah saat Bima, bos Baskoro, mencoba mendekati Gayatri. Situasi kian rumit ketika Andika, mantan kekasih Gayatri, hadir kembali bersamaan dengan kepulangan Saras dari luar negeri. Di tengah kesibukan kuliah dan konflik yang tiada henti, mampukah pasangan muda ini bertahan dan menjaga komitmen pernikahan mereka?
Sampul Novel Pembalasan Sang Istri Tertindas
9.3
Pasca tewas mengenaskan, Amara terlahir kembali ke masa lalu demi membalas dendam pada suaminya, Rafael, dan Isabella sang pelakor. Mereka telah merebut harta sekaligus merenggut nyawa buah hatinya. Di tengah perjuangan menuntut keadilan dan membuat Rafael menyesal, muncul seorang pria dari masa lalunya yang siap melindungi dengan tulus. Amara pun bimbang untuk terus fokus pada dendamnya atau menyambut cinta baru yang hadir.
Sampul Novel Penyesalan Suamiku Setelah Kehilangan Diriku
8.6
Setelah tersiksa hingga kehilangan bayinya akibat obsesi Marvin menebus dosa atas kematian sahabatnya, Yoona, sang istri mendapat kesempatan kedua. Kembali ke hari pernikahan mereka, ia tidak lagi mempertahankan hubungan toksik ini. Kali ini, ia memilih mendorong Marvin kembali ke pelukan Yoona. Dengan mengubah takdirnya, ia bertekad menjadi mantan kekasih yang akan membuat Marvin benar-benar pergi meninggalkan dunia fana selamanya tanpa pernah bisa mengusik hidupnya lagi.