APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aldrich Delano And His Wound

Aldrich Delano And His Wound

Kebahagiaan Aldrich begitu membuncah saat mengetahui kehamilan Ara. Langkah besar ini ia ambil sebagai bentuk penebusan atas dosa-dosa masa lalunya. Ara yang selalu setia mendampingi keputusan Aldrich mulai menyadari bahwa masa sulit mereka belum usai. Alih-alih membawa kedamaian, kehamilan Ara justru menjadi titik awal dari babak baru yang penuh ujian. Badai konflik yang jauh lebih besar kini siap menguji ketahanan hubungan mereka berdua.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setengah jam sebelum kedatangan Aldrich.

"Bagus sekali. Ayah tunggu ya, hati-hati" Rayen menutup telponnya setelah mendapatkan jawaban pasti dari sang putra.

Kepalanya ia bawa menoleh kesamping, kearah putri bungsu sahabatnya yang sejak tadi menguping pembicaraannya.

"Bagaimana paman?" Tanya Ara penuh semangat.

Rayen memasang wajah lesunya, menatap putri kecil itu tak enak. Wajah Ara yang semula semangat ikut lesu, matanya berkaca-kaca.

"Dia akan datang" Rayen tertawa kecil, merasa berhasil mengerjai sahabat putranya itu.

"Aaaaahhh pamannnn. Papahhh, paman ngerjain Ara" Ara menatap papahnya menunjuk kearah Rayen yang masih tertawa.

"Lagian kamu ngapain nguping kaya gitu, anak nakal" Tegur Lesy.

"Kan Ara penasaran" jawab Ara membela dirinya.

BRAKK

Suara dobrakan pintu mengejutkan semua orang. Semua yang berada didalam ruangan menoleh kearah pintu. Disana, sosok yang sangat mereka benci tengah berdiri dengan pongahnya.

Dua orang pengawal berdiri dibelakangnya dengan wajah ketakutan. "Maafkan kami, tuan. Kami sudah berusaha menghentikannya"

"Pergilah" perintah Revano. Kedua pengawal itu pun mundur, kembali menutup pintu.

"Thomas!! Kamu ngapain disini?!" Teriak Ara.

Sosok yang dipanggil Thomas itu berjalan cepat menuju tempat Ara berdiri. Tanpa aba-aba memeluk tubuh mungil Ara.

"Thomas!! Lepasin!!"

"Aku sayang banget sama kamu, Ra. Please kembali sama aku ya" ucap Thomas.

Ara terus memberontak didalam dekapan pria itu. Dengan sekuat tenaga Ara berhasil mendorong tubuh Thomas menjauh darinya.

"Ra--"

"Thomas!!" Suara tegas Isabella menghentikan pergerakan Thomas yang hendak kembali memeluk Ara.

"Jaga tingkahmu didepanku!" Perintah Isabella tegas.

Wanita itu menatap tajam pria bajingan yang menjadi penyebab penderitaan kedua adiknya.

"Tapi ka Bella--"

"Jangan memanggilku kaka, karena aku bukan kakakmu! Panggil nona, karena kita tidak sederajat!" Ujar Isabella angkuh.

Isabella sangat tidak sudi nama indahnya keluar dari mulut manusia menjijikan seperti Thomas.

Thomas Alfan. Mantan kekasih Ara, atau lebih tepat disebut mantan tunangan Ara. Kejadian buruk lima tahun lalu bermula dari pria itu, yang dengan sengaja menghancurkan hubung Ara dan Aldrich demi balas dendam atas nama keluarganya. Bahkan hingga detik ini tidak juga memberikan titik terang bagi hubungan Ara dan Aldrich.

Dan sekarang pria bajingan itu malah berusaha menghancurkan rencana makan malam yang sudah susah payah mereka susun.

Ara meremat bagian bawah dress yang dikenakannya kuat. Sebentar lagi Aldrich akan datang, ia tidak ingin Aldrich melihat Thomas disini.

"Mendingan kamu pergi dari sini, Thomas!" Ucap Ara kesal.

"Gak! Aku gak akan pergi sebelum kamu kembali sama aku!" Bantah Thomas tak mau kalah.

Thomas kembali berusaha memeluk Ara, tapi kembali terhenti karena kini Thomas merasakan ujung pistol yang dingin menempel pada bagian belakang kepalanya.

"Menjauh darinya, Thomas! Atau aku ledakan kepalamu disini!" Suara dingin Kalvan terdengar dari belakang tubuhnya.

Kalvan Aldebaren, suami Gabrielle Aldebaren kaka kedua Aldrich. Kalvan adalah seorang mafia, anggota dari Phoenix. Kelompok mafia yang dipimpin oleh Devan, putra sulung keluarga Morgan.

Thomas mundur perlahan, sedikit menjauhkan tubuhnya dari Ara. Garis bawahi, hanya sedikit karena pria itu enggan untuk beranjak jika tidak disodori pistol dikepalanya.

Kalvan menurunkan pistolnya kembali, namun sayangnya hal itu dimanfaatkan Thomas untuk mencium Ara. Dengan gerakan tak terduga, Thomas kembali maju, dan mencuri sebuah ciuman dibibir Ara. Dan tepat saat itu, pintu ruang makan kembali terbuka, menampilkan sosok yang sejak tadi mereka tunggu kedatangannya, Aldrich Delano Caldwey.

"ALDRICH!!" Teriakan Danes menggema, mengambil alih atensi semua orang.

Ara mendorong tubuh Thomas menjauh, begitupun Kalvan yang menarik kerah baju bagian belakang pria bajingan itu. Tubuh Ara melemas seketika, mendapati ekspresi dingin dan tajam yang Aldrich layangkan padanya. Ia sangat yakin, setelah ini Aldrich pasti akan semakin menjauhinya.

"Pengawal!" Teriak Kalvan memanggil pengawal. Salah satu pengawal yang berjaga dipintu berlari masuk.

"Ya tuan"

"Bawa bajingan ini keluar dari sini, dan pastikan dia tidak datang lagi kesini, atau ku lubangi kepala kalian!" Ucap Kalvan tajam.

"Baik tuan" dengan cepat kedua pengawal tersebut menyeret paksa tubuh Thomas untuk keluar dari sana.

Riyani yang merasakan ketegangan sang putra buru-buru bangkit dan menghampiri anak bungsunya.

"Aldrich, kemari sayang" Riyani meraih lengan Aldrich menariknya lembut menuju meja makan.

Aldrich tersadar begitu lengannya disentuh sang ibu, wajahnya yang semula menampilkan ekspresi dingin perlahan berubah menjadi hangat.

"Bagaimana perjalananmu, sayang?" Tanya Riyani lembut.

"Baik ibu. Aldrich sangat lapar sekarang, bisa kita mulai makan malamnya?" Rengeknya kecil. Tangannya mengusap-usap perutnya yang mulai berbunyi.

Riyani terkekeh kecil. "Tentu, ayo" kembali menarik lengan putra bungsunya untuk duduk.

"Selamat datang, Aldrich" sapa Ravino.

"Terimakasih, paman"

"Ayo kita mulai makan malamnya" Ravino mengangkat setelah tangannya, mempersilahkan semua orang untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan.

"Terimakasih, ibu" ucap Aldrich setelah sang ibu mengisi penuh piringnya dengan steak dan beberapa sayuran.

"Makanlah yang banyak, Aldrich. Kami menyiapkan semua ini untukmu" ucap Sofia.

"Tentu, bibi"

Acara makan malam berjalan dengan lancar meski ada sedikit kejadian tak terduga diawal tadi.

"Bagaimana perjalanan bisnismu, Al?" Tanya Javin. "Berjalan lancar, abang. Semua masalah sudah teratasi" jawab Aldrich.

"Kau cukup cekatan mengatasi masalah sebesar itu ya. Meski memakan waktu yang cukup lama" puji Javin.

Aldrich tersenyum tipis. "Aku hanya menghindari kesalahan serupa terjadi lagi, jadi aku harus memastikan semuanya kembali berjalan normal"

"Terakhir kali aku melihat orang secekatan ini dalam berbisnis ketika Verrel mengambil alih perusahaan ayahnya" ucap Javin.

"Aku belajar banyak dari ka Verrel jika abang lupa" balas Aldrich. Javin tertawa kecil, ia jelas tau sebanyak apa Aldrich belajar bisnis dari adik sepupunya itu. "Kau benar"

Aldrich melirik jam tangan yang terpasang apik dipergelangan tangan kirinya. "Bisakah aku pamit sekarang?" Tanyanya sopan.

Pria itu menoleh pada sang paman dan ayahnya bergantian. "Silahkan. Beristirahatlah, Aldrich. Kita masih punya banyak waktu untuk berbicara lain kali" ucap Ravino.

"Terimakasih paman" Aldrich menoleh pada sang ayah. "Pulang ke mansion, nak. Bukan apartmentmu" perintah Rayen pada putra bungsunya.

"Aku akan pulang kemansion besok. Assistant ku membawa berkas kerjaku ke apartment"

"Alasan!"

"Ayolah ayah"

"Biarkan dia ayah. Tapi kau harus tepati janjimu, little boy" Gabrielle yang sejak tadi diam akhirnya buka suara.

"Siap, bos" Aldrich memberikan gestur hormat pada sang kaka.

"Baiklah baiklah. Hati-hati dijalan nak" Rayen akhirnya mengalah dan membiarkan putranya itu kembali ke apartmennya.

Aldrich berpamitan pada semua orang sebelum melangkah keluar dari sana.

Ara menatap sendu kepergian Aldrich, ia bahkan belum berbicara apapun, sahabatnya itu juga belum mencicipi puding buatannya.

Sofia mengusap lembut bahu putrinya. "Tidak apa-apa sayang, setidaknya kamu sudah melihat bagaimana Aldrich sekarang"

Ara tersenyum pada sang mamah. Wanita yang melahirkannya itu benar, Aldrich mau datang keacara ini saja adalah sebuah kemajuan yang baik.

"Bungkus puding itu, Ra. Nanti ka Danes bawakan ke Apartment Aldrich ya" perkataan Danes membuat senyum lebar Ara kembali terbit.

"Sungguh?" Ara menatap Danes sumringah. Danes mengangguk.

Dengan semangat, Ara mengangkat puding cokelat buatannya, membawanya kedapur untuk ia masukkan kedalam kotak makan.

"Kamu mau ke Apartment, Aldrich?" Tanya Ana istri Danes pada sang suami.

Danes mengangguk. "Aku ingin memastikan sesuatu" jawab Danes pelan.

"Tenangkan dia, Dan. Aldrich hanya akan mendengarkanmu" timpal Gabrielle.

"Tentu ka"

*

Dengan cepat, Aldrich melangkah keluar dari mansion. Pria tampan itu tanpa aba-aba masuk kedalam mobil dengan bantingan pintu yang cukup keras. Membuat sang sopir yang tengah menyesap segelas kopi terlonjak kaget, lalu buru-buru masuk kedalam mobil.

"Kita pulang, tuan?" Tanya sang sopir gugup. Agaknya sedikit takut melirik wajah menyeramkan atasannya dari balik spion.

"Apartment!" Jawaban singkat Aldrich keluarkan.

"B-baik tuan" Mobil melaju keluar dari pekarangan mansion keluarga Morgan.

'Aku membencimu, Ra! Sangat membencimu!' Seru Aldrich dalam hati.

*****

See you Next part

Kritik dan saran dipersilahkan

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARFESO
8.7
Hidup seorang gadis yang haus kasih sayang hancur setelah dikhianati lelaki pujaannya. Hamil di usia muda membuatnya dimurkai keluarga dan dicap murahan. Meski sang lelaki enggan bertanggung jawab dan menuduhnya menjebak, ia tetap melahirkan bayi bermata mirip ayahnya. Kini, saat ia bimbang antara menyimpan rahasia atau mengungkap kebenaran demi melindungi anaknya, sebuah misteri besar lain telah menanti di fase baru kehidupannya.
Sampul Novel BLIND HEART
9.7
Demi membiayai wisuda dan meringankan beban sang ayah, Silvana mengambil pekerjaan tak biasa. Mahasiswi akhir ini harus mengasuh Max Elgort, miliarder tunanetra yang terkenal sangat pemarah. Meski kerap menghadapi sikap kasar Max, Silvana justru mulai jatuh hati. Sayangnya, Max masih terjebak kenangan mendiang kekasihnya yang tewas dalam kecelakaan penyebab kebutaannya. Sanggupkah Silvana bertahan di tengah kesetiaan Max pada janji masa lalu?
Sampul Novel Cermin
8.7
Pasca-kecelakaan, Inestia Rossi bisa melihat hantu dan mendeteksi kematian. Baginya, cermin adalah satu-satunya media yang jujur mengungkap wujud asli mereka. Di tengah trauma cinta, ia bertemu Rangga, pria skeptis yang memberinya keberanian. Meski kerap terancam kasus mengerikan di apartemennya, Ines pantang menyerah. Walau konflik keluarga sempat memisahkan mereka, takdir mempertemukan keduanya kembali untuk berjuang dalam status hubungan yang baru.
Sampul Novel Cinta yang Telah Kandas
9.4
Pernikahan lima tahun hancur saat Nathan memaksa istrinya menggugurkan kandungan demi melindungi anak dari wanita simpanannya, Lucia. Tak cukup sampai di situ, Nathan bersekongkol dengan dewan direksi untuk mencopot sang istri dari jabatan wakil direktur agar bisa digantikan oleh Lucia. Namun, sang istri tidak tinggal diam menerima penindasan ini. Dengan penuh keberanian, dia melakukan perlawanan fisik dan konfrontasi langsung untuk membongkar kebenaran di balik pengkhianatan mereka.
Sampul Novel Gairah Liar Pembantu Lugu
7.9
Pasca-perceraian akibat hasrat yang tak terpenuhi, Valdi menjalani hidup yang terasa kosong. Kehadiran Mayang, gadis lugu anak mendiang pelayannya, menjadi celah bagi muslihat Valdi. Dengan memanfaatkan kepolosan Mayang, pria berpengalaman ini berniat memuaskan gairah terpendamnya. Mayang yang naif kini terjebak dalam manipulasi dan permainan dewasa yang penuh risiko. Akankah ia sanggup menyelamatkan diri, atau justru selamanya terbelenggu dalam jerat kendali Valdi?
Sampul Novel Terjerembap dalam Pelarian
9.6
Pernikahan berulang kali antara aku dan Rangga selalu kandas setiap kali Sarah, seorang selebritas yang ayahnya tewas demi menyelamatkan Rangga, kembali ke negara ini. Demi menjaga reputasi Sarah, Rangga selalu menceraikanku, lalu mengajakku rujuk saat wanita itu pergi. Setelah bertahun-tahun bertahan dalam kehinaan dan kesedihan, dari menangis di luar rumah hingga menguntitnya, aku akhirnya belajar untuk merelakan. Namun, saat Rangga menungguku di Kantor Catatan Sipil untuk menikah lagi, aku memutuskan untuk tidak pernah muncul kembali.