APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Tak Mau Dimadu

Aku Tak Mau Dimadu

"Aku menolak dipoligami!" tegas diriku. Tidak ada istri yang sudi berbagi cinta, begitu pula denganku. Keadaan terasa kian menyiksa karena calon maduku ternyata perempuan dari masa lalu yang pernah mengisi hati suamiku. Naya, ingatlah ini: sampai embusan napas terakhirku, aku bersumpah takkan membiarkanmu merebut suamiku. Aku akan berjuang mempertahankan pernikahan ini dan memastikan kau tidak akan pernah bisa memilikinya kembali.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Mas ... Umi, aku duluan masuk ke kamar, ya?" pamit Yumna seraya berdiri.

Baru lima menit mereka makan malam seusai sholat Isya, tapi Yumna sudah lebih dulu menyelesaikan makanannya dan sekarang justru ingin langsung masuk ke dalam kamar.

"Habis makan jangan langsung tidur, Nak, nggak boleh," tegur Umi Mae menasehati.

Ustad Yunus hanya menatap istrinya sebentar sambil masih mengunyah nasi didalam mulut.

"Enggak kok, Umi, aku nggak mau langsung tidur," jawabnya yang terlihat malu-malu. Lalu menatap sebentar ke arah suaminya. "Mas juga jangan lama-lama makannya, aku tunggu Mas di dalam kamar, ya??" pintanya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.

"Uhuk! Uhuk!" Ustad Yunus yang melihatnya langsung tersendak, buru-buru dia pun menenggak segelas air yang baru saja Umi Mae tuangkan.

"Kenapa sih kamu, Nus, kok enggak pelan-pelan makannya?"

"Enggak kenapa-kenapa kok, Umi." Ustad Yunus menggeleng, lalu mengulas sisa air yang membekas dibibir atasnya.

"Nggak usah grogi gitu kali, Mas. Kan Mas yang pengen," goda Yumna sambil terkekeh.

Melihat suaminya tersendak tadi bukannya kasihan, dia justru merasa itu adalah hal yang lucu.

"Pengen apa sih, Nak?" tanya Umi Mae penasaran.

"Ini ... Mas Boy kepengen ngajakin aku bikin cucu buat Umi. Do'ain kita, ya, Umi?"

Mendengar itu, Umi Mae langsung membulatkan mata dengan binar kebahagiaan. Sedangkan Ustad Yunus sendiri sudah tepok jidat.

'Bisa-bisanya Yumna enteng banget ngomong ke Umi. Apa dia nggak malu, ya?' batinnya dalam hati. Dia juga membuang napasnya dengan kasar lalu kembali menenggak sisa air pada gelas.

"Benarkah, Nak? Syukurlah kalau gitu. Semoga lancar, ya ... Umi do'akan yang terbaik pokoknya."

"Iya, Umi, aamiin ... terima kasih. Kalau begitu aku duluan ke kamar, ya?"

"Ya udah."

"Dahhh, Mas!!" Yumna melambaikan tangannya ke arah sang suami, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.

"Manis banget si Yumna ya, Nak," puji Umi Mae sambil tersenyum kepada sang anak. Entah yang dia maksud manis itu orangnya atau sikapnya, tapi sepertinya dua-duanya. "Kayaknya sih dia udah beneran jatuh cinta deh sama kamu."

"Umi jangan langsung percaya. Nanti yang ada sakit hati."

Ustad Yunus sendiri terlihat biasa saja, karena bisa saja apa yang Yumna lakukan hanya dibuat-buat atas permintaan Papinya.

Dia juga tentu ingat, saat siang tadi kedua mertuanya pamit pulang—mereka sempat mengharapkan Yumna untuk segera hamil.

"Berharap sedikit 'kan enggak apa-apa, Nak. Lagian Umi perhatikan ... selama kamu sakit, Yumna sudah banyak berubah. Dia juga lebih perhatian sama kamu. Kamu pasti sadar itu, kan?"

"Iya, aku sadar." Ustad Yunus tak mengelakkan hal itu. Yumna memang sangat perhatian padanya, sampai sempat ingin menyuapinya makan meskipun ditolak. "Tapi Umi juga harus sadar kalau di rumah sakit ada Papi sama Maminya Yumna. Bisa saja mereka yang meminta Dek Yumna untuk melakukan hal itu."

"Tapi 'kan kalau sekarang mereka nggak ada, Nak. Jadi otomatis Yumna bersikap seperti itu karena memang keinginannya sendiri."

Meskipun sudah pernah dikecewakan, tapi nyatanya sikap Umi Mae masih sama seperti dulu terhadap Yumna. Terlihat jelas jika dia menyayangi menantu perempuan semata wayangnya itu.

"Bisa saja Papi atau Mami sempat telepon Dek Yumna, Mi, tanpa sepengetahuan kita. Kita 'kan enggak tau."

"Kamu nggak boleh berpikir seperti itu, Nak. Dan sejak kapan juga kamu ini su'uzon sama orang? Kan nggak boleh." Nasihat Umi Mae.

"Maaf ...." Dia akui, benar memang apa yang dikatakan Umi. "Bukan maksud mau su'uzon Umi ... cuma memang aku belum percaya sama Dek Yumna."

"Enggak apa, Nak." Perlahan lengan Umi Mae terulur, lalu menyentuh punggung tangan Ustad Yunus. "Umi maklum kok. Seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa percaya padanya."

*

*

"Ohya, Papi sama Mami 'kan waktu itu sempat membelikan aku baju seksi. Apakah bajunya dibawa kesini dan ada dilemari?"

Seusai gosok gigi, Yumna melangkah menuju lemari kayu. Kemudian membuka salah satunya yang berisikan semua baju miliknya.

Dia memilah-milah baju yang dicari, dan akhirnya ketemu juga.

Ada tiga lingerie yang berhasil dia temukan. Dengan tiga model berbeda dan tiga warna. Tapi dari ketiganya itu sama-sama tipis dan berlubang pada area tertentu.

"Aku pakai yang warna hitam aja kali, ya?? Laki-laki 'kan suka warna gelap biasanya dan pastinya Mas Boy suka dengan warna baju ini."

Setelah dirasa sudah mantap dengan pilihannya, Yumna pun langsung mengganti pakaian. Kemudian menatap tubuhnya sendiri dari pantulan cermin.

Seketika wajahnya pun merona. Entah mengapa dia jadi grogi sekarang, ditambah jantungnya ikut berdetak lebih cepat.

"Seksi banget, ya, ternyata. Semoga Mas Boy suka deh." Buru-buru Yumna naik ke atas kasur, lalu duduk selonjoran seraya menyelimuti seluruh tubuhnya sampai leher.

Yumna sengaja, memilih untuk menyembunyikannya dulu. Biar nanti saat akan memulai, Ustad Yunus terkejut dan pasti keinginannya jadi makin menggebu.

"Mana, ya, Mas Boy? Kok lama banget, kenapa dia nggak masuk-masuk ke kamar?"

Sudah setengah jam menunggu sambil memerhatikan pintu, tapi rupanya belum ada tanda-tanda suaminya masuk ke dalam kamar.

*

*

Ustad Yunus secara tidak sengaja menemukan sebuah kotak bergambar wanita berbaju seksi di dalam dasbor mobil. Kotak tersebut berisi tissue magic yang pernah diberikan oleh Papi mertuanya pada hari pernikahannya dengan Yumna.

'Apa aku perlu menggunakan tissue magic untuk malam ini? Tapi bagaimana cara menggunakannya??' Ustad Yunus bertanya-tanya dalam hati, lalu membalik kotak itu untuk membaca petunjuk penggunaannya.

"Ustad Yunus. Assalamualaikum!"

Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang sangat familiar. Suara itu datang dari depan rumahnya dan orang tersebut sedang mengetuk pintu.

Ustad Yunus segera turun dari mobilnya, lalu mendekati sumber suara dan ternyata dia adalah Pak RT.

"Walaikum salam, Pak RT," jawabnya.

Pak RT terkejut, lalu menoleh ke arah Ustad Yunus. "Eh, Ustad. Bolehkah saya meminta bantuan Ustad, nggak?" tanyanya dengan wajah yang tampak cemas.

"Bantuan apa, Pak?"

"Adik ipar saya kesurupan, Tad. Tolong bantu untuk meruqiahnya." Pak RT langsung memegang lengan kanan Ustad Yunus, lalu tiba-tiba menariknya dan membawanya menuju motornya.

"Tunggu dulu, Pak, saya mau pamit dulu sama Umi dan istri saya!"

Ustad Yunus sudah langsung dibonceng dan dibawa pergi dari rumahnya. Pak RT tampak sangat panik.

"Ini darurat, Ustad, harus cepat. Saya takut adik ipar saya makan lemari. Soalnya dia ngamuk-ngamuk."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendamnya, Cinta Abadinya
9.5
Karier hancur dan harta keluarga ludes akibat jebakan kejam Darma Wijoyo serta Jihan Prameswari. Demi biaya berobat ibu, aku terpaksa menuruti ancaman Darma untuk mengakui kesalahan yang tak pernah kulakukan. Namun, janji bosku itu dusta belaka, dan aku hanya diperalat tanpa harga diri. Di tengah kehancuran dan kepahitan pengkhianatan ini, aku bangkit. Rasa sakit kini menjelma menjadi tekad membara untuk membalas dendam pada mereka yang merampas segalanya.
Sampul Novel Hukum Sang Pewaris Cacat
8.7
Pasca kematian istrinya, Don mafia Damon Valenti frustrasi karena Enzo, bayinya, terus menolak susu formula. Di tengah situasi kritis ini, ia bertemu Isabella Moreno yang baru saja kehilangan anaknya. Damon pun menawarkan sebuah kontrak kerja dingin agar Isabella bersedia menjadi ibu susuan bagi Enzo. Namun, kelembutan Isabella justru memicu obsesi gelap dalam diri Damon. Sang penguasa mafia kini terjerat gairah berbahaya pada wanita yang seharusnya hanya menjadi pekerja.
Sampul Novel Menikah Dengan Keponakan
9.0
Satu kekeliruan fatal memaksa Aeris dan Leon terikat dalam pernikahan tanpa rasa cinta. Perbedaan umur yang jauh serta watak yang bertolak belakang membuat rumah tangga mereka terus diwarnai perselisihan. Leon yang bersikap dingin kini harus bersabar menghadapi perilaku aneh Aeris sehari-hari. Situasi kian rumit ketika cinta pertama Leon mendadak kembali hadir. Akankah Leon sanggup bertahan menjaga komitmen pernikahannya, atau justru memilih kembali pada masa lalunya?
Sampul Novel Miliarder Mendadak!
8.4
Demi wasiat keluarga, Vera Dianthe terpaksa menikahi Dorian Ashford, sang CEO kapal pesiar mewah. Merasa terikat tanpa kehendaknya, Dorian pun mengajukan kesepakatan yang menyulitkan Vera. Namun, keteguhan dan keberanian Vera dalam menghadapi Dorian justru mulai memikat hati sang suami. Konflik semakin rumit saat Isabella Moreau, kekasih Dorian, mulai melancarkan serangan demi merusak hubungan mereka. Di tengah intrik kekuasaan ini, mampukah benih cinta sejati tumbuh?
Sampul Novel Pelit Bin Medit
8.5
Hesti menjalani kehidupan pernikahan yang menyesakkan bersama Pramono, sosok suami yang sangat kikir. Kebebasan finansialnya dirampas total, bahkan seluruh gaji Hesti dikuasai sepihak oleh suaminya. Tanpa uang pegangan maupun biaya perawatan diri, Hesti juga harus menghadapi kenyataan bahwa urusan dapur pun diatur sepenuhnya oleh Pramono. Di bawah tekanan nafkah yang tidak layak ini, sanggupkah Hesti bertahan menghadapi sikap suaminya? Ikuti pergulatan batinnya.
Sampul Novel Sugar Baby
9.0
Terdesak biaya kuliah, Vanya terpaksa mendaftar di situs kencan elite sebagai sugar baby. Takdir mempertemukannya dengan Erick, CEO berparas menawan yang tidak lagi memercayai ketulusan cinta. Hubungan mereka awalnya murni didasari kontrak bisnis yang sangat kaku. Namun, daya tarik kuat di antara keduanya tidak dapat dibendung. Kini, kesepakatan profesional itu perlahan beralih menjadi pergulatan emosi penuh risiko yang mengancam hati mereka.