APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Miskin, tapi Bohong

Aku Miskin, tapi Bohong

Demi melindungi sosok tercinta, Maya rela berpura-pura miskin dan menyembunyikan status aslinya sebagai pewaris takhta kekayaan. Namun, penyamaran ini berujung petaka. Dirga, sang suami yang dulu mengemis cinta, kini berbalik kejam dan meremehkannya demi menguasai tabungan Maya. Di bawah siksaan suami dan mertuanya, Maya terjebak dalam dilema besar. Sanggupkah ia melepaskan diri dari belenggu keluarga keji tersebut, ataukah ia akan selamanya menjadi budak mereka?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Sedang apa kamu di sini? Tuh cucian masih numpuk!" seru ibu mertuaku saat aku tengah duduk di dekat pintu.

Sudah sekitar lima bulan sejak pernikahanku dengan Bang Dirga dilaksanakan, aku dengan terpaksa harus ikut tinggal di rumah mertuaku. Bagaimana tidak terpaksa jika saja di rumah ini aku diperlakukan layaknya pembantu. Belum lagi aku juga harus bekerja untuk perekonomian keluarga ini. Belum cukup penderitaanku hanya di situ, setiap gaji yang harusnya aku dapatkan malah diambil alih oleh Bang Dirga dan diserahkan kepada ibunya yang ingin selalu terlihat modis.

"Aku capek, Bu. Istirahat sebentar ya," pintaku memelas.

"Tidak ada istirahat-istirahatan. Ini sudah siang sebentar lagi kamu kerja. Kalo kerjaan rumah gak beres siapa yang mau beresin. Ibu mana mau mengerjakan kerjaan pembantu seperti itu," tukas ibu mertuaku.

Bagi Ibu dan kakak iparku, mengerjakan pekerjaan rumah itu hanya pantas dilakukan oleh seorang pembantu. Jadi meskipun mereka menganggur dan hanya ongkang-ongkang kaki mereka tidak akan sudi untuk mengurus rumah ini.

"Kalo pekerjaan rumah belum selesai kamu gak boleh berangkat kerja. Kamu harus selesaikan pekerjaan rumah dulu baru boleh kerja." Ibu melotot kepadaku.

"Tapi, Bu kalo gak kerja aku gak dapat uang," aku menunduk. Menyembunyikan raut kesalku agar ibu mertuaku tidak mengetahui itu.

Aku ingin agar ibu hanya mengetahui bahwa aku menantu yang lemah dan penurut sebelum akhirnya akan kuberi kejutan yang mengesankan.

“Halah sok gaya kamu, kayak gaji berapa aja. Cuma pegawai biasa aja belagu sok-sokan mau datang tepat waktu,” kata ibu mertuaku penuh cibiran. “Dibayar berapa kamu sama bos di tempat kerja kamu sampe suka banget datang tepat waktu kayak gitu? Untuk kebutuhan kamu satu bulan saja kurang udah berani ngelawan, Ibu. Makanya cari kerja tuh yang bener. Yang gajinya gede jadi bisa bayar pembantu buat urusin rumah. Masa ibu yang urusin rumah, bisa kasar nanti tangan ibu,” sambung ibu mertuaku.

Gaji dengan posisi karyawan sepertiku saat ini memanglah sedikit. Hanya mampu menutupi kebutuhan rumah tangga satu bulan. Itupun harus pandai berhemat. Tapi seharusnya itu menjadi hakku seratus persen bukan. Kebutuhan rumah tangga itu seharusnya di tanggung oleh suami tapi di sini akulah yang harus jadi tulang punggung keluarga ini. Mengabdikan waktu dan tenaga untuk kebutuhan seisi rumah.

"Cepetan kerjakan, atau kamu tidak ibu kasih makan untuk hari ini," ancam ibu.

"Ba-baik, Bu," ucapku seraya berlalu ke tempat dimana setumpuk cucian telah menantiku.

Bukanya aku lemah dengan tidak pernah melawan setiap perlakuan mereka terhadapku. Tidak, aku bisa membalasnya dengan mudah hanya saja aku ingin melihat sampai mana mereka bisa merendahkanku seperti ini. Toh tanpa mereka pun aku masih bisa hidup dengan layak bahkan sangat jauh dari kata layak.

"Nanti kamu gajian kan, May?" tanya kakak iparku saat aku tengah mencuci baju miliknya.

"Iya, Mbak," jawabku tanpa menoleh kepadanya.

"Nanti kasih ke aku lima ratus ya jangan kasih ke Ibu semua. Aku perlu uang untuk beli baju couple dengan suamiku," Mbak Sinta berujar dengan penuh penekanan.

"Tapi, Mbak. Semua gajiku di kirim ke rekeningku sedangkan kartu ATM ku saja di pegang Bang Dirga," jujurku karena memang demikian meskipun aku masih memiliki kartu ATM yang lainnya. Yang tak seorangpun tahu.

Sejak menikah dengan Bang Dirga lima bulan lalu memang aku sudah tidak pernah lagi mengetahui dimana kartu ATM dan tinggal berapa uang yang ada di dalamnya.

Dulu sebelum aku menikah dengan Bang Dirga aku memiliki tabungan yang lumayan di rekeningku. Bahkan aku bisa menggunakan uang gajiku untuk memenuhi kebutuhan serta menabung sedikit demi sedikit untuk kebutuhan yang akan datang. Tapi, setelah aku menikah dengan Bang Dirga dengan paksa Bang Dirga mengambil buku rekening serta kartu ATM ku.

"Kamu minta sama Dirga lah," sinis Mbak Sinta kearahku.

Bagaimana aku akan meminta uangku pada Bang Dirga sedangkan untuk makanku saja sering kali hanya menggunakan mie instan dengan alasan harus mengirit dan setiap makanan enak di rumah ini di simpan di lemari dan kuncinya ibu yang menyimpannya.

"Bukankan Mbak selalu mendapatkan jatah dari Bang Dirga setiap bulannya. Mengapa meminta lebihan, Mbak?" tanyaku karena memang setiap Bang Dirga gajian Ibu dan Mbak Sinta, kakak iparku selalu di berikan jatah bulanan yang lumayan besar.

"Di mintain uang segitu aja pelitnya minta ampun kamu, May. Dasar orang miskin gaji secuil aja belagu. Besok kalo aku punya uang lebih dari gaji kamu gak akan sudi aku pake uang kamu lagi," ucap Mbak Sinta geram. Ku lihat wajahnya mulai memerah menahan emosi.

Memangnya dia siapa seenak jidatnya saja meminta uang padaku. Dia pikir gampang apa cari uang. Aku saja yang kerja ingin segala sesuatu harus di tunda dulu. Bukan karena uang tapi karena sebuah alasan.

"Heh, Babu. Nyucinya cepetan dong. Mau terlambat kamu ke tempat kerjamu?" seru ibu berjalan dari arah dapur menghampiriku.

Aku sudah biasa di panggil Babu atau sejenisnya di rumah ini. Mungkin namaku hanya mereka sebut saat mereka memerlukan uangku. Selebihnya hanya panggilan-panggilan tak mengenakan hati yang mereka sematkan untukku.

Aku bergegas menyelesaikan cucianku mengingat hari sudah semakin siang. Buru-buru aku bersiap tidak ingin terlambat bekerja hari ini. Biarlah perutku lapar. Aku bisa mengisinya nanti di tempat kerja yang terpenting aku bisa datang tepat waktu.

Aku membangunkan Bang Dirga dan menyiapkan semua kebutuhan dia untuk berangkat bekerja. Memang dia merupakan seorang karyawan pada salah satu bank swasta tapi sifat pemalasnya membuat Bang Dirga acap kali datang terlambat dengan menggunakan berbagai alasan yang akan di pakainya untuk mengelabuhi atasannya.

"Bang, bangun ini sudah siang. Aku mau berangkat bekerja. Seragam dan makanan untuk sarapan sudah aku siapkan."

"Apaan sih, ganggu aja. Aku masih ngantuk," gumam Bang Dirga dalam tidurnya.

Memang semalam Bang Dirga menonton siaran laga sepak bola sampai pagi buta. Mungkin karena itulah Bang Dirga masih sangat mengantuk untuk saat ini.

"Kamu harus kerja, Bang ini sudah siang," ucapku lagi sambil menggoyangkan tubuhnya. Berharap Bang Dirga akan segera bangun dan aku bisa berangkat bekerja.

"Udahlah sana berangkat. Bisanya cuma mengganggu saja kamu jadi istri," Bang Dirga mendorongku sampai aku tersungkur ke belakang

"Astagfirullah," ucapku mengelus dada.

"Jadi istri yang berguna sedikit kenapa sih. Sudah kerja gaji pas-pasan. Muka pas-pasan, penampilan gak ada menarik-menariknya. Miskin pula!" ucap Bang Dirga sambil memiringkan tubuhnya membelakangiku

Apa katanya tadi. Muka pas-pasan dan penampilan gak ada menarik-menariknya. Dia pikir dulu siapa yang ngejar-ngejar sambil mohon-mohon untuk di terima cintanya. Kalo bukan karena kasihan juga aku ogah mau nikah sama dia. Apalagi jika tau sifat aslinya seperti ini.

Ku langkahkan kaki keluar dari kamar membiarkan Bang Dirga yang masih terlelap. Bodo amat lah jika Bang Dirga kena omelan nanti di kantor. Kan aku sudah membangunkannya. Dia nya saja yang tidur seperti kerbau. Menjengkelkan!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri yang Dianggap Sempurna
9.6
Kegagalan dua kali pernikahan menyadarkan Keyyan Munir bahwa modal ketampanan fisik saja tidak cukup tanpa kestabilan finansial. Di tengah keputusasaan itu, ia jatuh cinta dan menikahi Shabilal Haq, atau Shabby. Namun, Keyyan tidak mengetahui bahwa sang istri yang tampil sebagai wanita cantik tersebut sebenarnya lahir dengan organ ganda. Akankah pernikahan mereka tetap bertahan saat rahasia biologis Shabby yang selama ini disimpan rapat akhirnya terungkap di hadapan Keyyan?
Sampul Novel Jerat CEO Tunangan Paksa
8.3
Usai membalas pengkhianatan sang mantan, Melinda Arum terjebak insiden salah masuk toilet yang mempertemukannya dengan Reyhan Azrael. CEO ternama asal Jakarta itu menyelamatkan Melinda dari masalah besar yang mengancam dirinya. Sebagai imbalan, Reyhan menuntut Melinda menjadi tunangan palsunya. Terhimpit kebimbangan dan amarah, Melinda terpaksa menyetujui kesepakatan tersebut, menyeret dirinya ke dalam hubungan rumit penuh kepalsuan, ketegangan, serta luka batin yang mendalam.
Sampul Novel Love
9.2
Love
Di tengah padatnya rutinitas kota modern, sebuah hubungan asmara yang tulus mulai bersemi secara perlahan. Kisah ini menyoroti arti kasih sayang mendalam di balik kesibukan urban. Lewat momen pertemuan tak terduga, dua individu saling berjuang memahami hati masing-masing demi merajut ikatan emosional yang kokoh. Perjalanan penuh kehangatan ini menjadi bukti nyata tentang keindahan dari sebuah ketulusan cinta sejati.
Sampul Novel Persimpangan Hati
8.0
Persahabatan masa kecil Faisal dan Raka retak akibat perasaan cinta pada gadis yang sama, Sinta. Faisal memilih diam, sementara Raka yang agresif melangkah maju dan resmi memacari Sinta. Kejadian ini membuat Faisal merasa dikhianati dan sangat terluka. Kini, mereka bertiga terjebak dalam konflik batin antara asmara dan kesetiaan. Faisal dilema untuk mundur atau berjuang, sedangkan Raka mulai menyadari kepedihan sahabatnya.
Sampul Novel THE DEVIL WIFE
8.3
Gaby merasa tertipu dan menolak keras dinikahi Gibran, pria yang dianggapnya penyakitan. Namun, tekanan keluarga membuatnya tak berdaya untuk membatalkan rencana tersebut. Di sisi lain, Gibran yang muak akan keangkuhan Gaby mulai menyerang balik dengan mengungkit rumor kehidupan liar calon istrinya. Pertikaian mereka pun pecah hingga berujung pada aksi saling hina dan tampar, mempertegas kebencian mendalam di tengah ikatan pernikahan paksa ini.
Sampul Novel Young mom
8.0
Kehidupan Rania berbalik arah setelah malam tak terduga bersama idola yang sangat ia kagumi. Hubungan itu menyisakan kehamilan, namun sang bintang justru pergi mengabaikannya. Tanpa dukungan, Rania kini harus berjuang sendirian menjadi ibu tunggal demi membesarkan anaknya. Di tengah beratnya tekanan hidup, ia berusaha keras menata masa depan yang baru. Kisah romansa modern penuh haru tentang perjuangan dan keteguhan hati seorang wanita.