APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya

Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya

Setelah hampir setahun menahan kepedihan dalam kehidupan pernikahan, Alika akhirnya memutuskan untuk menyerah. Keputusan bulatnya untuk meminta cerai secara terbuka membuat sang suami, Daffa Ardhana, seketika bungkam dan terpaku. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, muncul sebuah tanda tanya besar: akankah Daffa merelakan Alika pergi, atau justru ia akan berupaya menyelamatkan rumah tangga mereka saat hati Alika sudah terlanjur letih bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 1

Alika duduk di tepi tempat tidur, tangannya menggenggam erat selimut tipis yang sudah lusuh warnanya. Suasana kamar itu sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang tak beraturan dan sesekali suara mobil melintas di jalan depan rumah. Tapi bagi Alika, keheningan itu lebih berat daripada ribuan kata yang bisa diucapkan. Ia menatap pintu kamar yang tertutup rapat, seolah menunggu sesuatu-atau seseorang.

Hatinya terasa sesak, dan pikirannya berputar tanpa henti. Sudah hampir setahun ia menjalani rumah tangga dengan Daffa Ardhana, pria yang dulu selalu membuatnya tertawa lepas, kini menjadi sumber luka yang tak terlihat. Ia ingat hari-hari awal mereka menikah, ketika setiap senyum Daffa seolah menyinari seluruh dunianya. Tapi sekarang? Senyum itu nyaris tak pernah muncul, digantikan oleh keheningan yang menusuk dan tatapan dingin yang membuat Alika merasa asing di rumahnya sendiri.

"Alika..." suara itu akhirnya terdengar dari ruang tamu, pelan tapi tegas.

Alika menahan napas. Suara itu begitu familiar, begitu menggetarkan hati sekaligus menakutkan. Ia menutup matanya sejenak, mengumpulkan keberanian. "Aku di sini," jawabnya dengan suara pelan, tapi ada nada tegas yang tak bisa disembunyikan.

Pintu kamar terbuka perlahan. Daffa muncul dengan langkah lambat, matanya menatap Alika tanpa berkedip. Ada kerutan di dahinya, tapi bukan marah. Lebih pada kebingungan, atau mungkin rasa sakit yang sama seperti yang Alika rasakan.

"Kau... ingin bicara?" tanyanya akhirnya, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan.

Alika mengangguk, menelan ludah. "Iya... kita perlu bicara, Daffa. Tentang kita. Tentang rumah tangga kita."

Daffa menghela napas panjang, lalu duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar seolah mencari jawaban dari langit malam yang gelap. "Apa yang ingin kau katakan, Alika?"

Alika menunduk, menatap tangannya sendiri. "Aku... aku lelah, Daffa. Lelah menjalani semuanya sendirian. Aku merasa kita... kita sudah terlalu jauh berbeda. Aku sudah mencoba bertahan, mencoba mengerti, tapi sepertinya aku... aku tak mampu lagi." Suaranya mulai bergetar, tapi ia menahan tangis yang hampir tumpah.

Daffa menoleh, matanya menyipit. Ada sesuatu yang berubah di Alika, sesuatu yang membuat hatinya tersentak. "Alika, apa maksudmu?"

Alika menarik napas dalam-dalam, menegakkan tubuhnya. "Aku ingin mengakhiri ini... pernikahan kita, Daffa. Aku ingin kita berpisah."

Daffa terdiam, tatapannya kosong. Kata-kata itu seperti lemparan batu yang menghantam jendela hatinya, pecah menjadi ribuan kepingan kecil. "Berpisah... maksudmu... benar-benar berpisah?" suaranya gemetar, meski ia berusaha terdengar tenang.

Alika mengangguk, air matanya menetes tanpa bisa ia bendung. "Iya. Aku sudah memikirkannya panjang. Aku tidak bisa lagi terus hidup dalam kesunyian yang menyiksa, dalam perasaan yang hanya menimbulkan luka."

Daffa menunduk, wajahnya menutupi rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan. Ia ingin menenangkan Alika, ingin membujuknya untuk tetap tinggal, tapi hatinya sendiri juga sedang bergelut. Mereka menikah dengan cinta, bukan karena keterpaksaan. Dan cinta itu... dulu terasa nyata, kini nyaris memudar di antara kesalahpahaman, jarak emosional, dan harapan yang tak pernah sejalan.

"Alika... aku... aku tidak ingin kau pergi," katanya akhirnya, suaranya serak. "Tapi... aku juga merasa... aku gagal membuatmu bahagia."

Alika menatapnya, hatinya remuk mendengar pengakuan itu. "Daffa, bukan soal siapa yang gagal. Kita hanya... tidak cocok, itulah kenyataannya. Kita terlalu berbeda, dan aku merasa... aku tidak bisa lagi bertahan dalam hubungan ini."

Daffa menutup wajahnya dengan tangan, napasnya tersengal. "Aku... aku tidak menyangka kau akan berkata seperti ini. Aku selalu berharap kita bisa memperbaiki semuanya. Aku selalu berharap kau bisa memberiku kesempatan lagi."

Alika bangkit dari tempat tidur, mendekati Daffa. Ia meletakkan tangannya di bahunya, mencoba menyampaikan rasa hormat dan sayang yang tersisa, meski hatinya remuk. "Daffa... aku tetap menghargaimu. Aku tetap peduli padamu. Tapi ini... ini jalan terbaik untuk kita. Agar kita tidak saling menyakiti lebih dalam lagi."

Daffa menatap Alika lama, matanya memerah, suaranya serak. "Kau... kau benar-benar yakin dengan ini?"

Alika menunduk, menelan air mata. "Aku yakin, Daffa. Aku sudah mencoba bertahan... tapi aku lelah. Aku ingin hidup dengan tenang, tanpa terus merasa tersiksa. Aku ingin kita berpisah... dengan baik, tanpa ada kebencian."

Daffa menghela napas panjang, lalu menunduk. Hatinya hancur, tapi ada sesuatu dalam kata-kata Alika yang membuatnya sadar bahwa memaksa hubungan ini tetap bertahan hanya akan menambah luka. "Baiklah... jika itu yang kau mau... kita akan akhiri ini dengan baik."

Alika menatapnya, perasaan campur aduk-lega, sedih, dan hampa sekaligus. "Terima kasih, Daffa. Terima kasih sudah mengerti."

Keheningan menyelimuti mereka kembali. Tapi kali ini, bukan lagi keheningan yang penuh tekanan, melainkan keheningan yang berat, penuh penerimaan. Keduanya tahu, perjalanan rumah tangga mereka telah sampai di ujung jalan, dan keputusan ini adalah langkah pertama menuju kebebasan-atau mungkin luka baru yang harus diterima.

Daffa menoleh ke Alika, matanya basah. "Aku... aku akan tetap peduli padamu, Alika. Selalu. Meskipun kita berpisah."

Alika tersenyum tipis, meski hatinya sakit. "Aku juga, Daffa. Aku juga akan tetap peduli... tapi kita harus belajar melepaskan."

Mereka duduk diam bersama, dua hati yang terikat oleh kenangan, harapan yang gagal, dan keputusan pahit yang harus diterima. Dan di luar jendela, malam menyelimuti rumah itu dengan dingin, seakan menegaskan perjalanan baru yang akan mereka hadapi-terpisah tapi tetap menyimpan rasa yang pernah indah.

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan persiapan untuk perpisahan. Alika mulai mengemas barang-barangnya, merapikan kenangan yang tersisa, dan menghadapi kenyataan bahwa ia tidak akan lagi melihat Daffa setiap hari. Setiap langkah terasa berat, tapi ada rasa lega yang mulai tumbuh. Ia bisa bernapas lebih lega, meski jantungnya masih sesak oleh rasa kehilangan.

Daffa juga menjalani hari-hari itu dengan hampa. Ia mencoba tersenyum, mencoba menyesuaikan diri dengan kenyataan baru. Tapi setiap kali melihat Alika, hatinya terasa tersayat. Ia sadar bahwa perpisahan ini adalah hal terbaik, tapi itu tidak membuat rasa sakitnya hilang. Ia menatap rumah mereka yang dulu penuh tawa, kini sunyi dan dingin, dan bertanya-tanya apakah keputusan itu benar.

Alika dan Daffa tidak banyak bicara. Mereka berusaha menjaga ketenangan, meski dalam hati masing-masing bergolak. Kadang Alika menangis diam-diam di kamarnya, merindukan kebahagiaan yang dulu mereka miliki. Kadang Daffa menatap foto pernikahan mereka, tersenyum pahit, mengenang janji-janji yang pernah diucapkan.

Tetapi perlahan, mereka mulai memahami satu hal: perpisahan ini bukanlah akhir dari hidup mereka, melainkan awal baru. Mereka harus belajar hidup tanpa saling menyakiti, menghargai waktu yang tersisa, dan menerima bahwa cinta terkadang harus dilepaskan agar kedua hati bisa sembuh.

Dan di balik semua luka itu, ada satu harapan yang samar: bahwa suatu hari nanti, mereka akan mampu memandang satu sama lain dengan damai, tanpa dendam, tanpa penyesalan. Hanya rasa hormat dan kenangan yang tetap abadi, meski jalan mereka kini terpisah.

Malam itu, Alika menatap langit dari jendela kamarnya. Bintang-bintang berkelip pelan, seolah memberikan ketenangan yang ia butuhkan. Ia menarik napas dalam, menutup mata, dan berbisik, "Aku siap melangkah. Aku siap hidup lagi."

Di sisi lain rumah, Daffa duduk di ruang tamu, memegang secangkir teh yang sudah dingin. Ia menatap ke luar jendela, menatap langit yang sama, dan dalam hatinya berbisik, "Aku juga harus belajar melepaskan... walaupun sakit, aku harus kuat."

Begitulah awal dari babak baru hidup mereka-penuh kepedihan, tapi juga harapan. Sebuah perjalanan panjang yang akan menguji keteguhan hati, kesabaran, dan kemampuan mereka untuk melepaskan, demi kebahagiaan yang sebenarnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Sang Komposer Hebat
8.2
Lima tahun pernikahan palsuku runtuh saat tahu Sagara hanya menjadikanku tameng demi melindungi Fiona. Adik tirinya itu mencuri karya laguku dan memfitnahku dengan kehamilan palsu. Sagara justru memaki dan membuangku di bukit demi cinta mereka. Kini, duniaku hancur tapi dendamku membara. Usai menjadwalkan video pembongkar aib dan membuang ponsel, aku memalsukan kematian. Aku siap bangkit untuk menghancurkan hidup mereka tanpa sisa.
Sampul Novel Cinta wanita kutubuku
8.6
Elia menjalani keseharian sebagai pekerja biasa yang tak mencolok di sebuah kantor megah. Takdir mengubah hidupnya saat ia dipasangkan dengan Edward, putra mahkota pemilik perusahaan, untuk menangani sebuah proyek raksasa bersama. Kolaborasi intensif ini perlahan mengikis jarak di antara mereka. Di tengah tuntutan kerja, Elia mulai jatuh hati pada sang pewaris takhta bisnis tersebut, yang ternyata diam-diam juga menyimpan perasaan serupa terhadap dirinya.
Sampul Novel Pengantin Pengganti
9.6
Pernikahan sempat menyembuhkan luka masa lalu Ainayya Hikari Salvina, namun kebahagiaan itu sirna akibat pengkhianatan yang memaksanya pergi dari rumah. Kini, penyesalan mendalam menghantui Albara Demian Dominic atas kehancuran rumah tangga yang ia perbuat sendiri. Albara pun harus berjuang keras demi menebus kesalahan besar dan mengobati luka hati sang istri. Akankah perjuangan panjangnya berhasil merebut kembali cinta berharga yang pernah ia sia-siakan?
Sampul Novel Romansa Terlarang: Kekasih Tabu-nya
8.8
Kayley terpaksa kembali ke pelukan Brayden demi menyelamatkan karier tarinya. Di balik status sebagai saudara tiri, keduanya menjalin hubungan rahasia. Namun, hati Kayley hancur setelah menyadari dirinya hanya bayang-bayang masa lalu pria itu, hingga mereka akhirnya berpisah. Saat Kayley bangkit menjadi balerina sukses yang bersinar, Brayden didera penyesalan. Kini, ia memohon agar Kayley kembali, meski dulu ia yang melepaskannya.
Sampul Novel Suamiku Ternyata Miliader
8.1
Diana dirundung duka mendalam saat dipaksa menikahi Darel, sosok yang ia kira miskin dan jauh dari kriteria impiannya. Padahal, di balik kesederhanaan itu, Darel merupakan seorang miliarder yang tengah menyamar demi mencari cinta sejati yang tulus tanpa silau harta. Saat rahasia besar mengenai identitas aslinya ini perlahan mulai terbongkar, mampukah pernikahan yang awalnya terjalin tanpa rasa cinta ini tetap bertahan?
Sampul Novel The Irresistable Hostage
8.8
Liburan Ariana di Thailand menjadi mimpi buruk ketika ia terjerat utang besar yang mustahil dilunasi. Di tengah keputusasaan, ia memohon pertolongan Alejandro, seorang pria asing berkuasa yang bersedia membayar dendanya. Namun, kebebasan itu ada harganya. Ariana diculik ke kapal pesiar mewah untuk dijadikan tawanan. Alejandro kini menuntut tubuh Ariana sebagai ganti rugi. Kini, ia sepenuhnya terperangkap dalam cengkeraman pria yang mengklaim hak atas dirinya.