APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Kehilangan Bayiku

Aku Kehilangan Bayiku

Bertahun-tahun Maya bertahan dalam kesunyian, mendampingi Reza yang selalu bersikap dingin dan enggan mengakuinya. Namun, batas kesabarannya runtuh seketika saat ia harus berjuang melahirkan tanpa didampingi siapa pun hingga sang buah hati tiada. Kehilangan besar ini menghapus seluruh cinta Maya dan memantapkan niatnya untuk pergi. Di saat itulah Reza baru tersadar akan arti kehadiran istrinya. Sayang, saat ia mencoba mendekat, Maya telah berubah menjadi sosok asing yang tak lagi peduli.
Bab
Bagikan

Bab 3

Waktu terus berjalan, membawa serta perubahan yang tak terelakkan, bahkan bagi jiwa yang paling hancur sekalipun. Enam bulan setelah kepergiannya dari apartemen Reza, Maya mulai merasakan sedikit pergeseran dalam dirinya. Bukan kesembuhan, bukan kebahagiaan, tetapi lebih seperti adaptasi. Ia belajar untuk hidup dengan kehampaan, menjadikannya bagian dari dirinya, seperti organ tubuh yang baru.

Rumah neneknya, yang dulu terasa dingin dan kosong, perlahan mulai diisi dengan sentuhan-sentuhan kecil. Maya mulai merawat kebun bunga neneknya dengan lebih serius, menghabiskan berjam-jam di bawah sinar matahari, menyentuh tanah, merasakan kehidupan yang tumbuh di antara jari-jarinya. Ia menemukan sedikit ketenangan dalam rutinitas itu, dalam siklus hidup dan mati yang sederhana. Bunga-bunga yang mekar, meskipun indah, mengingatkannya pada kerapuhan hidup, pada betapa mudahnya sesuatu yang indah bisa layu.

Clara masih menjadi satu-satunya jembatan Maya dengan dunia luar. Ia sering datang, membawa makanan sehat, atau sekadar mengajak Maya berjalan-jalan di sekitar kompleks. Suatu sore, saat mereka duduk di teras, Clara memberanikan diri.

"Maya," katanya pelan, "aku membawa sesuatu untukmu."

Maya menoleh, tatapan matanya masih datar. "Apa?"

Clara mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya. "Ini... dari Reza."

Maya menatap amplop itu seolah itu adalah racun. Wajahnya mengeras. "Aku tidak mau."

"Bacalah, May," bujuk Clara lembut. "Setidaknya, berikan dia kesempatan untuk didengar. Siapa tahu, itu bisa membantumu juga."

Maya ragu. Ada gejolak kecil di dalam dirinya, sebuah rasa ingin tahu yang samar, bercampur dengan kebencian yang masih tersisa. Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia meraih amplop itu. Ia tidak membukanya di depan Clara. Ia hanya memegangnya erat, seolah amplop itu bisa membakar tangannya.

Clara mengerti. Ia hanya mengangguk, lalu berpamitan pulang, meninggalkan Maya sendirian dengan surat itu.

Maya duduk di ruang tamu yang temaram, menatap amplop itu untuk waktu yang lama. Ia bisa merasakan denyut jantungnya yang berdetak lebih cepat. Rasa takut bercampur dengan rasa ingin tahu. Apa yang akan Reza katakan? Apakah ia akan mencoba memanipulasinya lagi? Atau apakah ada kejujuran di balik kata-kata itu?

Akhirnya, dengan napas tertahan, ia membuka amplop itu. Ia membaca setiap kata, setiap kalimat, dengan saksama. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, tetapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang bergejolak. Kata-kata penyesalan Reza, pengakuannya tentang ketidakmampuannya mencintai, tentang kebutaannya terhadap perasaannya, tentang rasa bersalahnya atas kematian bayi mereka – semua itu menusuknya, bukan dengan rasa sakit yang baru, tetapi dengan rasa sakit yang sudah ada, yang kini terasa lebih nyata.

Ia tidak menangis. Air matanya sudah kering. Ia tidak merasakan amarah. Amarahnya sudah padam. Yang ia rasakan adalah sebuah kelegaan yang aneh. Kelegaan karena Reza akhirnya mengakui kesalahannya, kelegaan karena ia tidak lagi harus memikul beban itu sendirian. Namun, kelegaan itu tidak membawa kedamaian. Itu hanya membawa sebuah kesadaran baru: bahwa luka itu terlalu dalam untuk disembuhkan oleh sekadar kata-kata.

Maya melipat kembali surat itu, memasukkannya kembali ke dalam amplop. Ia tidak akan membalasnya. Ia tidak akan menemuinya. Ia tidak akan memberikan Reza kesempatan lagi untuk menyakitinya. Ia telah melewati batasnya. Dan ia tidak akan pernah kembali.

Sementara itu, Reza terus berjuang. Surat yang ia kirimkan kepada Maya adalah sebuah titik balik baginya. Ia merasa sedikit lebih ringan setelah menuangkan semua perasaannya. Namun, ketiadaan respons dari Maya adalah sebuah konfirmasi atas ketakutannya: Maya tidak ingin lagi berhubungan dengannya.

Meskipun demikian, Reza tidak menyerah. Ia tahu bahwa ia tidak bisa memaksa Maya untuk memaafkannya atau kembali padanya. Tapi ia bisa mengubah dirinya sendiri. Ia bisa menjadi orang yang lebih baik, orang yang pantas mendapatkan kesempatan, meskipun kesempatan itu mungkin tidak akan pernah datang dari Maya.

Ia terus menjalani terapi, dan perlahan, ia mulai memahami dirinya sendiri lebih dalam. Ia belajar untuk mengidentifikasi emosinya, untuk mengungkapkan perasaannya dengan jujur, dan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain. Ia mulai memperbaiki hubungannya dengan keluarganya, dengan teman-teman dekatnya, dengan rekan-rekan kerjanya. Ia belajar untuk mendengarkan, untuk berempati, untuk hadir sepenuhnya dalam setiap interaksi.

Reza juga mulai aktif dalam kegiatan sosial. Ia menjadi sukarelawan di sebuah panti asuhan, menghabiskan waktu dengan anak-anak yang membutuhkan kasih sayang. Ia merasakan sedikit kebahagiaan setiap kali ia melihat senyum di wajah anak-anak itu, sebuah kebahagiaan yang tulus dan tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia juga mulai menyumbangkan sebagian besar penghasilannya untuk organisasi yang mendukung ibu tunggal dan anak-anak yatim piatu. Ia merasa bahwa ini adalah cara kecil untuk menebus kesalahannya, untuk memberikan kembali kepada dunia apa yang telah ia ambil.

Suatu hari, saat ia sedang membersihkan gudang di apartemennya, ia menemukan sebuah kotak kecil yang tersembunyi di sudut. Kotak itu berisi barang-barang bayi yang pernah Maya beli: sepasang sepatu bayi mungil, topi rajut berwarna pastel, dan sebuah selimut lembut. Reza mengambil selimut itu, mendekapnya erat ke dada. Aroma bayi yang samar masih menempel di sana, aroma yang menusuk hatinya dengan rasa sakit dan penyesalan yang mendalam.

Ia duduk di lantai, membiarkan air mata mengalir bebas. Ia menangis untuk bayinya yang tak sempat ia peluk, untuk Maya yang ia hancurkan, dan untuk dirinya sendiri yang begitu bodoh. Ia menangis untuk semua kesempatan yang telah ia sia-siakan, untuk semua cinta yang terlambat ia sadari.

Namun, di tengah kesedihan itu, ada sebuah resolusi baru yang tumbuh. Ia tidak akan membiarkan penyesalan ini menghancurkannya. Ia akan menjadikannya motivasi untuk berubah, untuk menjadi orang yang lebih baik, orang yang pantas mendapatkan pengampunan, meskipun pengampunan itu mungkin tidak akan pernah datang dari Maya. Ia akan hidup untuk menghormati kenangan bayinya, dan untuk menghormati cinta Maya yang pernah ada.

Satu tahun berlalu. Maya kini telah menemukan rutinitas yang stabil. Ia mulai bekerja paruh waktu sebagai desainer grafis lepas, mengerjakan proyek-proyek kecil dari rumah. Pekerjaan itu memberinya tujuan, sebuah fokus yang mengalihkan perhatiannya dari kehampaan. Ia juga mulai melukis lagi, sebuah hobi yang dulu ia tinggalkan setelah menikah. Kanvas-kanvasnya kini dipenuhi dengan warna-warna gelap, abstrak, mencerminkan gejolak di dalam dirinya. Namun, sesekali, ada percikan warna cerah yang muncul, seperti harapan yang samar.

Hubungannya dengan Clara semakin erat. Clara adalah satu-satunya yang ia izinkan masuk ke dalam dunianya yang tertutup. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang hal-hal sepele, atau hanya duduk diam, menikmati kebersamaan. Clara tidak pernah lagi membahas Reza, menghormati keinginan Maya.

Suatu hari, Clara datang membawa sebuah majalah. "May, lihat ini," katanya, menunjuk sebuah artikel.

Maya melihatnya. Itu adalah artikel tentang Reza. Artikel itu membahas tentang perubahan besar dalam hidup Reza, tentang bagaimana ia kini aktif dalam kegiatan sosial, tentang bagaimana ia mendedikasikan dirinya untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung. Ada foto Reza di sana, tersenyum tulus, senyum yang tidak pernah Maya lihat sebelumnya.

Jantung Maya berdesir. Ia tidak bisa menyangkal bahwa ada sedikit rasa terkejut, bercampur dengan rasa penasaran. Reza telah berubah. Ia tidak lagi terlihat angkuh dan dingin. Ada kehangatan di matanya, sebuah kedewasaan yang baru.

"Dia benar-benar berubah, May," kata Clara, seolah membaca pikiran Maya. "Aku tahu kau tidak peduli, tapi aku melihatnya sendiri. Dia sering datang ke panti asuhan tempat aku sukarela. Dia benar-benar tulus."

Maya tidak berkomentar. Ia hanya menatap foto itu untuk waktu yang lama. Apakah perubahan itu nyata? Atau apakah itu hanya topeng baru yang Reza kenakan? Ia tidak tahu. Dan ia tidak yakin apakah ia ingin tahu.

Namun, artikel itu terus menghantuinya. Ia mulai mencari berita lain tentang Reza, secara diam-diam, di internet. Ia menemukan banyak artikel dan wawancara yang memuji Reza atas karyanya. Ia melihat video Reza berinteraksi dengan anak-anak, tertawa, bermain. Itu adalah Reza yang sama sekali berbeda dari Reza yang ia kenal.

Ada sedikit rasa sakit yang muncul di hatinya. Rasa sakit karena ia tidak pernah mendapatkan Reza yang seperti ini. Rasa sakit karena ia harus kehilangan segalanya untuk Reza bisa berubah.

Reza, di sisi lain, terus menjalani hidupnya dengan penuh makna. Ia tidak lagi mengejar kesuksesan demi validasi, tetapi demi tujuan yang lebih besar. Ia telah menemukan kedamaian dalam memberi, dalam membantu orang lain. Ia masih merindukan Maya setiap hari, merindukan senyumnya, merindukan kehadirannya. Namun, ia telah belajar untuk hidup dengan kerinduan itu, menjadikannya bagian dari perjalanannya.

Ia tidak pernah berhenti berharap bahwa suatu hari nanti, ia akan bisa bertemu Maya lagi, meskipun hanya untuk mengucapkan terima kasih atas semua yang pernah Maya berikan padanya, dan untuk meminta maaf sekali lagi. Ia tahu bahwa ia tidak berhak meminta apa pun dari Maya, tetapi ia berharap ada sedikit saja ruang di hati Maya untuk pengampunan.

Suatu hari, saat Reza sedang berada di panti asuhan, ia melihat Clara. Mereka saling menyapa, dan Clara tersenyum padanya. Ada kehangatan di mata Clara yang tidak pernah ada sebelumnya.

"Maya sudah membaca suratmu," kata Clara pelan.

Jantung Reza berdebar kencang. "Benarkah?"

Clara mengangguk. "Dia tidak mengatakan apa-apa. Tapi aku tahu dia membacanya."

"Apakah... apakah dia baik-baik saja?" tanya Reza, suaranya penuh harap.

Clara menghela napas. "Dia masih berjuang, Reza. Luka itu terlalu dalam. Tapi dia sudah mulai melukis lagi. Dia sudah mulai bekerja. Dia... dia berusaha."

Reza merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya, Maya tidak sepenuhnya tenggelam. "Aku... aku ingin melihatnya, Clara. Hanya sebentar saja. Aku hanya ingin tahu dia baik-baik saja."

Clara menatapnya. Ia melihat ketulusan di mata Reza. "Aku tidak bisa berjanji, Reza. Tapi aku akan coba bicarakan dengannya lagi."

Reza mengangguk. "Terima kasih, Clara. Terima kasih banyak."

Clara pulang ke rumah Maya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa Maya masih terluka, tetapi ia juga melihat perubahan yang nyata pada Reza. Apakah ini saatnya untuk Maya menghadapi masa lalunya?

"Maya," kata Clara, saat mereka sedang minum teh di dapur. "Reza ingin bertemu denganmu."

Maya meletakkan cangkirnya. "Aku sudah bilang, aku tidak mau."

"Dia tidak akan memaksamu, May. Dia hanya ingin melihatmu, memastikan kau baik-baik saja. Dia benar-benar menyesal."

Maya terdiam. Ia memikirkan foto Reza di majalah, senyum tulusnya, dedikasinya untuk membantu orang lain. Ia memikirkan surat yang Reza tulis, kata-kata penyesalan yang jujur. Apakah ia harus memberinya kesempatan? Atau apakah itu hanya akan membuka kembali luka lama?

"Aku tidak tahu, Clara," bisik Maya, suaranya rapuh. "Aku tidak tahu apakah aku siap."

"Kau tidak harus memaafkannya, May," kata Clara lembut. "Kau tidak harus kembali padanya. Tapi mungkin, melihatnya, mendengar apa yang ingin dia katakan, bisa memberimu penutupan yang kau butuhkan."

Maya memejamkan mata. Penutupan. Kata itu berputar di benaknya. Ia memang membutuhkan penutupan. Ia membutuhkan akhir dari babak ini, agar ia bisa memulai babak baru dalam hidupnya.

"Aku... aku akan memikirkannya," kata Maya akhirnya.

Clara tersenyum tipis. Itu adalah kemajuan.

Beberapa hari kemudian, Maya membuat keputusan. Ia akan bertemu Reza. Bukan karena ia memaafkannya, bukan karena ia ingin kembali padanya, tetapi karena ia membutuhkan penutupan. Ia membutuhkan untuk melihatnya, untuk mendengar apa yang ingin dia katakan, dan untuk melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul.

Ia memilih sebuah kafe yang tenang, jauh dari keramaian. Ia datang lebih awal, duduk di sudut, dan menunggu. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasa gugup, cemas, dan sedikit takut.

Ketika Reza masuk, Maya hampir tidak mengenalinya. Pria itu kini terlihat lebih kurus, tetapi ada aura ketenangan dan kedewasaan di sekelilingnya. Matanya tidak lagi dingin dan kosong, tetapi dipenuhi dengan kesedihan dan penyesalan.

Reza melihat Maya, dan langkahnya terhenti. Ia menatap Maya, wanita yang dulu ia abaikan, wanita yang kini terlihat begitu rapuh namun juga begitu kuat. Ada rasa sakit yang menusuk hatinya melihat perubahan pada Maya, tetapi juga ada rasa kagum. Maya telah bertahan.

Ia berjalan mendekat, duduk di kursi di seberang Maya. Keheningan menggantung di antara mereka. Reza tidak tahu harus berkata apa. Semua kata yang telah ia siapkan terasa tidak cukup.

Maya menatapnya. "Kau ingin bertemu denganku," katanya, suaranya datar.

Reza mengangguk. "Ya. Aku... aku ingin meminta maaf lagi, Maya. Untuk semuanya. Untuk semua rasa sakit yang telah kulakukan padamu. Untuk anak kita." Suaranya bergetar.

Maya tidak bereaksi. Ia hanya menatapnya.

"Aku tahu permintaan maafku tidak akan pernah cukup," lanjut Reza, suaranya serak. "Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan pengampunanmu. Tapi aku ingin kau tahu, aku sungguh menyesal. Aku telah berubah. Aku telah belajar. Aku... aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah terjadi. Aku akan hidup dengan penyesalan ini selamanya."

Maya memejamkan mata sejenak. Ia mendengar ketulusan dalam suara Reza. Ia melihat penyesalan di matanya. Tapi itu tidak mengubah apa-apa. Luka itu terlalu dalam.

"Aku tidak bisa memaafkanmu, Reza," kata Maya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku tidak bisa melupakan apa yang telah terjadi. Aku tidak bisa kembali."

Reza menundukkan kepalanya. Ia tahu itu. Ia sudah menduganya. "Aku mengerti, Maya. Aku tidak memintamu untuk memaafkanku. Aku tidak memintamu untuk kembali padaku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku peduli. Aku ingin kau tahu bahwa aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu."

Maya menatapnya lagi. Ada sedikit kelembutan di matanya, sebuah kelembutan yang sudah lama tidak ia rasakan. "Aku hanya ingin kedamaian, Reza. Aku hanya ingin melupakan semuanya."

"Aku tahu," kata Reza. "Dan aku berharap kau bisa menemukannya. Aku akan pergi sekarang. Aku tidak akan mengganggumu lagi."

Reza bangkit, menatap Maya sekali lagi, lalu berbalik dan berjalan pergi. Maya menatap punggungnya yang menjauh, merasakan sebuah beban yang sedikit terangkat dari pundaknya. Itu bukan penutupan yang ia harapkan, bukan rekonsiliasi yang ajaib. Tapi itu adalah sebuah akhir. Sebuah akhir yang pahit, tetapi juga sebuah awal yang baru.

Maya duduk di sana untuk waktu yang lama, menatap cangkir kopinya yang dingin. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tidak tahu apakah ia akan pernah bisa mencintai lagi, atau apakah ia akan pernah bisa benar-benar pulih. Tapi ia tahu satu hal: ia akan terus berjalan. Ia akan terus mencari kedamaian, mencari kebahagiaan, mencari dirinya sendiri. Jejak kaki di pasir telah terhapus, dan ia harus membuat jejak kaki yang baru, jejak kaki yang akan membawanya menuju masa depan yang lebih baik, masa depan yang tidak lagi dihantui oleh bayangan masa lalu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkit Dari Kematian
8.3
Pernikahan Rianti dan Randi yang semula tenang kini diguncang badai akibat kehadiran masa lalu. Monica kembali membawa dendam membara, merasa dikhianati karena Randi memilih menikahi Rianti. Ia menuntut janji suci yang diklaim pernah diucapkan Randi dahulu, walau pria itu membantahnya dengan tegas. Di tengah misteri ikrar masa lalu yang membayangi, sanggupkah Rianti bertahan dan berjuang menyelamatkan rumah tangganya dari usikan sang mantan?
Sampul Novel Dari Benci Jadi Tayang Tayang
9.2
Karra Bella Atmadja terjebak cinta segitiga rumit bersama sahabat kecilnya, Darayan Noah Tedja. Sayangnya, Noah memendam rasa pada Kanaya. Di sisi lain, Kanaya merupakan gadis idaman Raquello, sepupu Bella sendiri. Hubungan mereka kian membingungkan karena Noah dan Kanaya selalu menutupi perasaan masing-masing. Ketika Bella mulai lelah lalu memilih menyerah, siapakah yang akan bersatu dalam kisah asmara masa muda ini?
Sampul Novel Gairah Liar Pembantu Lugu
7.9
Pasca-perceraian akibat hasrat yang tak terpenuhi, Valdi menjalani hidup yang terasa kosong. Kehadiran Mayang, gadis lugu anak mendiang pelayannya, menjadi celah bagi muslihat Valdi. Dengan memanfaatkan kepolosan Mayang, pria berpengalaman ini berniat memuaskan gairah terpendamnya. Mayang yang naif kini terjebak dalam manipulasi dan permainan dewasa yang penuh risiko. Akankah ia sanggup menyelamatkan diri, atau justru selamanya terbelenggu dalam jerat kendali Valdi?
Sampul Novel Gairah Nikmat Perselingkuhan
9.1
Di tengah keheningan, aku memberanikan diri mendekap Wiwik dengan lembut. Walau sempat mempertanyakan kehadiranku, ia perlahan luluh dan mulai menikmati kehangatan pelukan itu. Suasana kian membara ketika Wiwik membalas dekapanku dengan sangat erat. Kecupan hangat yang mendarat di pipi hingga bibirnya pun disambut penuh gairah. Desahan lirih yang lolos dari bibirnya menjadi bukti nyata bahwa ia telah sepenuhnya hanyut dalam kemesraan yang kami ciptakan.
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
8.0
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kejadian itu membuat nenek Cherish murka hingga muntah darah dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Dengan tegas, Cherish mengakhiri hubungan mereka dan pergi. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dan rela memberikan segalanya demi Cherish kembali.
Sampul Novel My Perfect Hero
8.6
Demi menjaga nama baik keluarganya, Raline terpaksa menikah dengan Liam Bernardus Nelson untuk menggantikan sang kakak yang melarikan diri di hari pernikahan. Liam, seorang miliarder yang terkenal dingin dan kejam, perlahan menunjukkan sisi pelindung saat Raline menghadapi masa-masa sulit. Namun, pernikahan mereka yang mulai harmonis kini terancam hancur ketika Bora kembali dan mencoba merebut Liam. Raline pun harus berjuang keras mempertahankan posisinya sebagai istri sah.