APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu

Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu

Diceraikan suami kikir yang kerap menghina latar belakang pendidikannya, seorang wanita miskin terpaksa menuruti kehendak orang tua untuk menikahi duda kaya. Tanpa landasan cinta, pernikahan kedua ini membawa ketidakpastian baru. Mampukah ia bangkit dari trauma masa lalu akibat perlakuan buruk mantan mertua, lalu merajut kebahagiaan sejati bersama suami barunya? Ikuti perjuangan menyentuh hati dalam memulihkan luka batin di tengah biduk rumah tangga yang terpaksa.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hingga sore menjelang magrib, Mas Tedy baru pulang. Di rumah warung sembako kecilku seharian sangat ramai pembeli, tetapi ia sama sekali tak ada niatan membantuku.

Parahnya lagi Mas Tedy tak menyapaku sejak pulang sampai keesokan paginya. Aku pun tak ingin menyapanya terlebih dulu. Dia yang salah, kenapa harus aku yang mengalah terus.

Pada saat makan siang Mas Tedy membuka tudung saja, terlihat ia menghela nafas setelah melihat menu.

"Bu, kamu cuma masak ini? Tadi kan habis dari pasar, kenapa enggak beli daging?" tanya Mas Tedy dengan raut wajah yang kesal.

Aku hanya menghela nafas dan menatapnya dengan malas. Memberi aku uang aja tidak, mau makan yang enak.

"Hai, Mas, kamu sadar enggak udah tiga bulan kamu enggak kasih aku uang. Harusnya kamu bersyukur aku masih bisa mencukupi kebutuhan makanmu dan kedua anak kita," jawabku dengan menahan emosi.

Biasanya jika ke pasar, aku menyetok banyak sayuran serta lauk seperti daging, tahu, dan tempe. Namun, kali ini aku hanya membeli sayuran, tahu, dan tempe.

Kulihat Mas Tedy menutup kembali tudung saji, lalu masuk ke warung mengambil satu butir telur. Ia menggoreng telur lalu ia makan dengan menambahkan saos pedas, tak lupa dia juga membuat es kopi capuccino saset.

"Enak banget Mas, makanmu. Padahal aku udah masak tumis kangkung sama goreng mendoan," decak lesalku.

"Itu untukmu dan anak-anak, enggak level makanan seperti itu," ucap Mas Tedy.

Dasar suami sombong, berpangku tangan bisanya. Mau makan enak tapi tak memberi nafkah kepada istrinya. Aku segera keluar karena ada pembeli yang datang, capek meladeni dia. Jika menuruti kemauannya untuk makanan enak, lama-lama uang akan habis untuk perputaran warung kecilku. Darimana lagi aku punya pemasukan kebutuhan anak-anak.

Dari dalam warung aku mendengar Mas Tedy menerima telpon dan aku sudah pasang telinga lebar-lebar, apalagi ia loud speaker karena tangannya untuk makan.

"Ted, masih ada enggak jagungnya yang kemarin? Kami enggak kebagian jagung, jagungnya udah habis di kasihkan ke tetangga semua. Kalau masih ada tak ambilnya lagi buat makan kita," ujar Mas Nobi, suaranya terdengar dari telepon.

"Kalau habis ya sudah lah, Mas, di rumah juga udah habis. Di kebun Mbahnya juga udah habis kemaren aku bawa semua," jawab Mas Tedy

Mas Tedy membalasnya dengan santai tetapi justru aku yang terbakar emosi mendengar penuturan kakak ipar yang tak tahu diri itu.

"Kalau jagung di kebun kita gimana?" tanya Mas Nobi kembali.

"Yang di kebun kita ya udah tua lah, Mas, bentar lagi panen mungkin tiga mingguan lagi," balas Mas Tedy.

"Oke deh, kalau ada lagi kabarin aku ya, atau kalau ada sayuran labu, kacang atau apa. Biasanya kan mertua kamu panen banyak tuh, jangan lupa minta juga yang banyak dan kabarin aku nanti biar kuambil," ucap Mas Nobi diujung telepon. Kakak ipar yang keterlaluan, kurang ajar sekali dia.

"Iya, gampang itu," jawab Mas Tedy.

Apa? Mas Tedy bilang gampang? Memangnya itu kebun siapa? Kebun Bapakku. Lebih besar juga kebun milik keluarga Mas Tedy, dasar keluarga pelit. Aku masuk ke dalam dan menghampiri suamiku.

"Mas Nobi bilang apa tadi? Dia minta jagung lagi karena enggak kebagian jagung. Itu kan salahnya sendiri, dia yang di kasih kenapa justru enggak merasakan aneh banget. Kamu sadar enggak sih, Mas, kamu tuh udah terlalu memanjakan Kakak-kakakmu membuat mereka memperlakukan kamu seenaknya tanpa mau mengerti kesulitan kita," ucapku dengan emosi.

Aku menghembuskan nafas kasar karena ini bukan pertama kalinya menasehati suamiku yang lebih memprioritaskan kedua kakaknya daripada keluarganya sendiri, padahal dia anak bungsu.

"Mas Nobi suruh kerja, jangan berpangku tangan terus, itu lahan kebun jatahnya Mbak Tasih, suruh nanami Mbak Tasih dan Mas Nobi sendiri," sambungku.

"Mereka enggak bisa bertani, Bu, lagian mereka mau modal dari mana? Buat makan aja susah," balas Mas Tedy.

Setelah meletakkan piring di wastafel Mas Tedy kembali keluar dan duduk di kursi ruang tamu.

"Orang serumah ada lima sedangkan mereka tak ada satu pun yang bekerja. Di kasih lahan dari Bapak aja enggak digarap, coba kalau digarap pasti dapat hasil. Emang kamu sendiri juga punya modal, modal kamu kan juga ambil hutang dan bayarnya setelah panen. Di dunia ini tuh enggak ada yang namanya enggak bisa, Mas, kalau kita mau berusaha." Aku mengikutinya ke ruang tamu. Tak mau dibiarkan terus-terusan seperti ini.

"Sudah lah, Bu, enggak usah bahas masalah ini terus. Aku melakukan ini karena membalas jasa Mbak Tasih, dulu waktu aku di Jakarta Mbak Tasihlah yang merawatku," jawabnya.

Mas Tedy menganggakat sebelah tangannya tanda meminta untuk tak perlu meneruskan percakapan iji. Dulu mas Tedy setelah lulus sekolah SMP ikut merantau Mbak Tasih ke Jakarta dan bekerja di sana.

Mas Nobi bekerja di sebuah pabrik pembuatan rak, dialah yang memasukkan Mas Tedy ke perusahaan pabrik rak tersebut.

Mas Nobi dan Mbak Tasih mengontrak di Jakarta dan Mas Tedy ikut. Setelah Mas Tedy menikah denganku, ia memilih keluar dari pekerjaannya dan menggarap lahan kebun dan sawah milik bapaknya.

Sudah tiga tahun Mas Nobi di PHK dan dia hanya di rumah tanpa berusaha untuk bekerja. Uang pesangon yang katanya tiga puluh juta pun mereka habiskan sia-sia, tanpa mau menggunakan untuk modal usaha.

Bapak mertuaku sudah membagikan lahan-lahannya untuk di garap ketiga anaknya. Namun, punya Mbak Tasih, Mas Tedylah yang digarap dengan bagian sepertiga karena mereka tak mau menggarap semuanya dengan alasan tak bisa bertani.

Di saat hati masih terasa dongkol, tiba-tiba datang kedua Kakak ipar bersama Mamak mertuaku.

"Ted, Arslen nangis terus dari kemarin minta dibelikan sepeda, sedangkan Masmu enggak punya uang. Mamak juga enggak punya. Kamu bisa kan pinjami uang untuk Masmu dulu?" ujar Mak Sarmi, ibu mertuaku, tanpa basa-basi.

Aku hanya diam, menunggu jawaban Mas Tedy sambil menahan napas. Di hatiku, sudah mulai muncul perasaan tidak enak.

"Aku juga enggak punya uang, Mak. Kalian tahu sendiri, kan? Panenan masih tiga minggu lagi. Nanti kalau udah panen aku pinjami deh," balas Mas Tedy santai.

"Tapi, Ted, masalahnya permintaan Arslen harus sekarang. Dia ingin merebut punya temannya terus. Kasihanlah Arslen," pinta Mas Tarji, suami Kak Tasih, dengan nada memelas.

Aku menggigit bibir, menahan kesal. Lagi-lagi mereka datang dengan permintaan yang sama, seolah kami ini ATM yang bisa diambil kapan saja.

"Mau gimana lagi, Mas. Aku juga enggak punya duit," ucap Mas Tedy sambil mengangkat bahu, tanpa sedikit pun menunjukkan kepedulian.

Tapi alih-alih berhenti, Mamak mertua kini malah beralih menatapku, memicingkan mata, dan berkata, "Lia, kamu pasti punya simpanan, kan? Kamu bisa dong pinjami dulu."

Jantungku serasa berhenti. Lagi-lagi aku yang harus menjadi sasaran. Padahal, lima tahun yang lalu Mas Tarji pernah meminjam kalung mas kawinku, hadiah dari pernikahan kami, katanya buat sunatan anaknya, Puji. Sampai sekarang kalung itu tidak pernah kembali. Dan di catatan nota harga kalung itu senilai delapan juta tiga ratus. Dia berjanji akan mengembalikan setelah dapat uang amplop, tetapi ternyata sampai sekarang uang itu belum juga balik.

"Aku enggak punya, Mak," balasku dengan tegas.

Rupanya, jawaban itu membuat wajah Mamak mertuaku berubah, mendelik tajam seakan aku adalah orang paling pelit di dunia.

"Kenapa sih kalian pada bilang enggak punya? Padahal hidup kalian serba kecukupan. Kamu enggak lihat apa Tarji harus jalan dengan satu kaki? Dia enggak bisa bekerja selincah Tedy. Jadi orang itu jangan pelit, Lia," bentak Mak Sarmi tajam.

Kata-katanya menamparku. Aku yang mati-matian bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, malah disebut pelit?

"Mak, memang kenyataannya aku enggak punya uang. Aku bisa mencukupi kebutuhan kami karena aku berusaha keras," jawabku, mencoba menahan emosi yang sudah memuncak.

Bukannya berhenti, Mamak mertuaku malah berkata tanpa ragu, "Kalau kamu enggak mau pinjami duit, ya sudah, Mamak pinjam kalungnya Kayla," ucapnya sembari matanya melirik kalung emas di leher putriku.

Aku membulatkan mata, tak percaya dengan permintaannya yang makin tak masuk akal. Saat ia mulai melangkah menghampiri Kayla, hatiku serasa mencelos, amarah bercampur dengan rasa terhina. Sejauh ini mereka akan memaksa, bahkan terhadap anakku sendiri?

---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bound by Destiny
8.5
Elice Danurdara terpuruk dalam kehancuran setelah dicampakkan dan dipermalukan dengan sangat kejam. Di tengah keputusasaan yang hampir membuatnya menyerah, takdir mempertemukannya dengan sosok asing bernama Garettinus Hardiyata. Lewat kehadiran, tutur kata lembut, serta sentuhannya, Garettinus membuktikan bahwa Elice adalah wanita yang sangat berharga. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Elice untuk bangkit dari keterpurukan hidupnya.
Sampul Novel Dalam Dekapan Dosen Tama
8.1
Suasana tegang menyelimuti Tama saat ia mendekap erat Runa, memohon agar istrinya itu tidak lagi menjauh. Sambil menghirup aroma tubuh Runa dengan penuh damba, emosi Tama membuncah. Di tengah konflik batin yang melanda, ia berbisik lirih untuk menegaskan bahwa kebersamaan mereka adalah hal yang sah secara hukum dan agama. Sebagai pasutri, Tama merasa tidak ada alasan lagi bagi Runa untuk terus menghindari kewajibannya.
Sampul Novel Kekayaanku, Keluarga Benalunya
9.0
Sebagai dokter bedah saraf kaya, aku membiayai suami kaptenku dan keluarganya yang parasit, bahkan melunasi utang 75 miliar mereka. Namun saat liburan mewah ke Monako, suamiku malah memberikan kursi jet pribadiku pada mantan kekasihnya, Dahlia, dan membuangku ke penerbangan berbahaya. Setelah menyaksikan pengkhianatan mereka di ranjangku sendiri di tengah persekongkolan jahat itu, kini saatnya aku membalas dendam dan menghancurkan segalanya.
Sampul Novel Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan
9.4
Pernikahan yang kukira sempurna selama lima tahun hancur begitu saja. Sebuah email pembaptisan di laptop suamiku mengungkap rahasia besar: dia menggendong bayi bersama influencer terkenal, Rania Adeline. Ternyata, alasan pekerjaan yang sering ia pakai hanyalah dusta demi menutupi keluarga barunya di luar sana. Setelah sekian lama mengorbankan mimpi demi dirinya, pengkhianatan ini menyadarkanku. Aku pun memilih pergi dan segera mengambil beasiswa arsitektur di Singapura.
Sampul Novel Not A Perfect Marriage
9.5
Ivy Marionet menjalani pernikahan rumit yang penuh rahasia dengan seorang ksatria kerajaan. Ia harus berjuang keras demi menyembunyikan identitas aslinya yang misterius. Keadaan kian genting saat campur tangan Putra Mahkota Winter membuat Ivy terancam hukuman mati di tangan suaminya sendiri. Siapa sebenarnya sosok Ivy? Di tengah intrik dan bahaya yang mengintai, mampukah ia mengungkap kebenaran sekaligus menyelamatkan diri dari eksekusi yang membayangi hidupnya?
Sampul Novel Puber Kedua Sang Letnan Jendral
8.6
Kehidupan menjanda Nina kembali berwarna sejak mengenal Baskara, Letnan Jenderal TNI sekaligus calon besannya. Kelembutan dan kepedulian sang jenderal yang sering mampir ke warungnya sukses membuat Nina terpikat. Namun, kebahagiaan itu seketika runtuh saat Nina melihat Baskara di televisi bersama seorang selebriti terkenal. Di tengah rasa kecewa yang mendalam, Nina mulai meragukan ketulusan serta niat sebenarnya dari sang perwira tinggi selama mendekatinya.