APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel AKU DAN TEMAN SUAMIKU

AKU DAN TEMAN SUAMIKU

Nasib Tara berbalik total setelah dirinya terpaksa menjadi istri kedua dari teman dekat almarhum suaminya. Pernikahan ini menyeretnya ke dalam pusaran konflik domestik yang rumit dan menyiksa batin. Di tengah badai perasaan yang tiada habisnya, Tara dihadapkan pada persimpangan jalan yang krusial. Haruskah ia tetap tegar mempertahankan ikatan tersebut, ataukah ia akan melangkah pergi karena tak sanggup lagi memikul penderitaan yang kian menumpuk?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sudah sebulan sejak hari pernikahannya dengan Zaka. Namun Zaka tak pernah menampakkan diri muncul di rumah Tara. Beberapa tetangga mulai kasak kusuk, ada yang mencibir ada juga yang bersimpati pada Tara. Entahlah Tara tak pernah ambil pusing. Toh dia juga menikah bukan karena atas dasar cinta atau pun suka. Semua ia lakukan demi kebaikan dirinya juga Sofia anaknya. Kurir yang biasa mengantar paket sembako dan titipan amplop dari Zaka, baru saja sampai saat Tara baru selesai melaksanakan sholat ashar. Pria muda itu menyerahkan bungkusan plastik besar berisi sembako dan sekardus aneka snack untuk Fia.

"Terimakasih, Mas," ucap Tara sambil menyunggingkan sedikit senyumnya.

"Baik, Bu. Saya permisi," ucap pria muda tersebut.

"Mas...maaf, apakah Pak Zaka sudah kembali dari Malaysia?" tanyanya tiba-tiba, entah hatinya ingin sekali tahu di mana keberadaan lelaki yang sebulan lalu menikahinya.

"Sudah, Bu," jawabnya lalu segera pergi dengan mengendari motor PCX yang sedang hits saat ini. Baru saja menutup pintu, Tara menepuk jidatnya, kenapa dia sangat bodoh menanyakan hal itu pada orang lain.

"Ck, Tara...Tara....jangan ngarep, Raaa." Tara bermonolog, berjalan membawa aneka barang yang diantarkan tadi.

Pukul delapan malam, Tara telah selesai menidurkan Fia. Tara meluruskan pinggang, hari ini nambah lagi murid les nya, anak pak RT kelas tiga SD les mata pelajaran padanya. Lumayanlah buat tambahan sehari-hari.

Tok..tok..

Suara pintu diketuk. Siapa malam-malam gini bertamu, pikirnya. Tara mengambil kerudung yang terlampir di gantungan pintu. Berjalan cepat mengintip dari jendela, matanya membulat, apakah dia berhalusinasi. Zaka suaminya di depan pintu rumahnya. Dadanya berdegub kencang. Zaka masih mengenakan kemeja biru muda dengan logo perusahaan di sudut kantongnya.

"Assalamualaikum..Ra...," seru suara Zaka dari balik pintu.

"W-wa'alaykumussalam." Tara membuka pintu dengan tergesa. Manik keduanya bersinggungan, Tara tersenyum kikuk menyambut kedatangan suaminya.

"Kok lama buka pintunya, sedang apa?" tanya Zaka yang kini tengah melepas penat dengan bersandar di kursi tamu.

"Eem..itu Mas, Mmm..lagi ngelonin Fia. Maaf," ucap Tara merasa bersalah.

"Oh...ga papa."

"Mas mau saya buatkan teh atau kopi?" tawar Tara.

"Sayang ingin air jahe, bisa buatnya?"

"Eehmm..bisa Mas. " Tara menarik nafas lega, untung saja tadi pagi ia membeli berbagai macam bumbu dapur, termasuk jahe. Tara melangkah cepat ke dapur.

"Saya istirahat di mana?" tanya Zaka sedikit berteriak.

"Di kamar, Mas. Sebentar saya rapikan." Tara jadi salah tingkah, kasurnya berukuran nomor dua yang jika ditiduri dua orang dewasa dan satu anak balita pasti sangat sempit. Tara menggeser posisi Fia menjadi di tengah. Gundah gulana, deg deg an, apakah malam ini suaminya akan meminta haknya? Ah...iya Tara lupa, bahwa pesan Mei, tidak ada kontak fisik antara dia dan mas Zaka. Jadi sepertinya aman.

Zaka masih di dalam kamar mandi saat Tara selesai merapikan kamarnya. Tara membawa air jahe yang telah selesai ia buat, ke ruang tamu. Tara berdebar menunggu Zaka keluar dari kamar mandi, tiba-tiba hujan gerimis melanda di malam jum'at ini. Perasaan Tara semakin tak menentu. Zaka keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Tara tak berani menatap. Tubuh basah Zaka yang harumnya memabukkan indera penciuman itu, membuat kaki Tara lemas.

"Maaf saya lupa bawa baju salinnya tadi, " ucap Zaka sambil mengambil sesuatu dari dalam ranselnya.

Tara masih menunduk malu, benar-benar tak ingin melihat, tak siap jika akhirnya ia jatuh cinta pada teman almarhum suaminya.

"Cari apa sih di bawah? Dari tadi nunduk terus?" tanya Zaka yang benar bingung dengan Tara.

"Aah, ini..ada kecoa, Mas," kilahnya. Tara menghembuskan nafas lega, saat Zaka kembali masuk ke kamar mandi. Jantung Tara masih maraton.

Zaka keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, setelan piyama tidur warna coklat, melekat begitu pantas di tubuhnya. Hingga tak sadar Tara jadi terpesona.

"Mii..minum Mas!" Tara mempersilakan, sekilas menatap wajah Zaka yang begitu tampan setelah mandi. Zaka mengambil secangkir air jahe, menikmatinya dengan santai.

"Pas..," komentar Zaka saat menikmati air jahe buatan Tara. Tara menyambutnya dengan senyuman

Zaka yang melihat Tara tersenyum manis, tiba-tiba saja hatinya berdesir.

"Saya akan menginap di sini selama tiga hari."

"Ah, ii-iyaa Mas."

"Kamu tidak keberatan'kan?"

"Apa boleh sama Mbak Mei Mas?"

"Boleh, selagi dia di Thailand ada urusan bisnis."

"Malah dia yang suruh saya untuk ke sini," ucapan Zaka barusan entah kenapa menyentil Tara. Oh..jadi jika Mbak Mei tidak menyuruhnya ke sini, maka ia takkan lagi menginjakkan kaki di rumahku. Nasib mu Raa..sabarlah yaa.

"Baik Mas, saya akan menyiapkan tempat untuk saya dan Fia dulu," pamit Tara bangun dari duduknya

"Mau ke mana Ra?"

"Mau pasang kasur lipat di depan sini Mas, biar saya dan Fia tidur di depan. Mas bisa istirahat di kamar. "

"Ngapain, bukannya kita bisa tidur seranjang?" tanya Zaka heran.

"Aah..itu kasur saya sempit Mas." Tara beralasan, padahal iya sudah setengah mati menahan dadanya yang berdebar.

"Muat kok, yuk tidur. Saya cape!" ajak Zaka masuk terlebih dahulu ke dalam kamar Tara. Zaka menatap kamar minimalis Tara sangat rapi dan teratur, tampak Fia tengah pulas tidur di atas ranjang yang tak terlalu besar ini. Zaka merebahkan tubuhnya. Aah..rasanya hari ini begitu melelahkan.

Tara masuk ke dalam kamarnya, setelah sebelumnya mengunci pintu rumah, dan mematikan lampu depan. Pelan Tara membuka pintu kamar, berharap Zaka sudah tertidur. Namun keberuntungan sedang tidak berpihak pada Tara. Saat ini Zaka malah asik senyum-senyum sendiri di depan ponselnya. Pasti sedang chat dengan istrinya. Tara menutup pintu pelan, Zaka masih tidak menyadari kehadiran Tara. Tara naik ke ranjang, posisinya di sebelah Fia yang kini posisinya berada di tengah kasur. Tara tidur dengan gamis dan kerudungnya. Pelan merebahkan kepalanya, menatap ke langit-langit kamar. Tak berani berbalik menghadap Zaka, apalagi memunggunginya, dosa.

"Ra..kamu tidur memang seperti ini ?" tanya Zaka heran melihat Tara memakai pakaian lengkap

"Hhmm..gak juga sih, Mas."

"Mau tidur, apa mau pergi pengajian?"

"Mau tidur, Mas."

Zaka terkekeh, Tara polos sekali menjawab semua pertanyaan Zaka.

"Saya'kan suami kamu, Ra. Ga papa toh jika kamu memperlihatkan rambut kamu pada saya!"

"Mm..iya, Mas."

"Ayo buka! Pasti tidak nyaman tidur begitu," titah Zaka menatap intens ke arah Tara.

Ragu Tara turun dari kasur. Membalikkan badan, membuka kerudungnya, rambut hitamnya tergerai indah sepanjang pinggang. Tak berani berbalik badan, karena ia tahu Zaka pasti tengah memperhatikannya.

"Taraaa...." panggil Zaka.

"Aah..iya Mas." Tara tersadar dari lamunanya. Pelan ia buka gamisnya, di dalam gamisnya sudah ada daster sepaha bewarna biru terang. Jantung Tara berdegub kencang. Saat ia membalikkan badannya. Duh malunya, tubuh yang berlemak dan dekil ini dilihat Mas Zaka. Pasti dia ilfil deh, bukan seleranya.

"Nah..gitu kan pantes," ucap Zaka kini meletakkan kembali kepalanya di atas bantal.

"Cantik juga " gumam Zaka seraya menutup kedua matanya. Apakah Tara bisa tidur? Jawabannya tentu tidak, Tara merasa sangat risih dan malu. Lampu kamar redup, membuat suasana gerimis di luar semakin sahdu. Tara membalikkan tubuhnya saat dia rasa tak ada pergerakan lagi dari Zaka.

Akhirnya Zaka tidur juga, pikirnya. Kini posisi Tara menghadap Fia dan Zaka yang juga sedang terlelap menghadap Fia. Dalam keremangan Tara memperhatikan wajah Zaka. Garis bibirnya tertarik. "Suamiku tampan," bisiknya dalam hati.

Zaka membuka mata, bertatapan dengan Tara yang juga tengah memperhatikannya. Tara sangat malu ketahuan memperhatikan Zaka. Mau berbalik badan lagi tentu tidak mungkin, akhirnya Tara memejamkan paksa matanya.

"Ra...," bisik Zaka.

"Mmm..ya, Mas."

"Boleh saya meminta hak saya malam ini?"

******

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Love Betrayal
8.9
Kehidupan rumah tanggaku hancur dalam sekejap setelah menyaksikan suamiku bermesraan dengan seorang wanita asing. Perempuan berambut panjang nan jelita itu merangkul lengannya begitu erat. Keduanya saling melempar tawa bahagia, layaknya pengantin baru yang sedang kasmaran. Siapa sebenarnya sosok wanita misterius tersebut? Rahasia besar apa yang mereka sembunyikan dariku? Inilah kisah penuh misteri tentang kepedihan dan pengkhianatan cinta.
Sampul Novel Ditinggal 17 Kali, Kini Aku Pemimpin Mafia
8.7
Tiga tahun mendampingi Lewis dan kini mengandung lima bulan, Merry telah melewati enam belas kegagalan pernikahan akibat ulah Agnes, adik angkat suaminya. Menjelang janji suci yang ke-17, Lewis bersumpah tidak akan pergi lagi. Namun, Merry memegang rahasia: sebuah undangan pulang dari ayahnya, sang kepala Keluarga Damian. Jika sang suami kembali ingkar janji demi Agnes, Merry memutuskan untuk pergi selamanya dan kembali ke pelukan keluarga mafianya di Vireka Utara.
Sampul Novel Gairah Liar Ayah Mertua
9.7
Kejadian mengejutkan terjadi saat aku menyadari reaksi fisik ayah mertuaku di balik sarungnya. Walau dilanda rasa gugup, aku memilih diam ketika ia menuntun tanganku menyentuh area sensitifnya. Tanpa ada penolakan, aku terkejut mendapati ukurannya yang ternyata jauh melampaui milik suamiku. Suasana semakin menegangkan saat ia memintaku masuk ke dalam sarung tersebut, membiarkanku menyentuh langsung fantasi rahasia yang selama ini terpendam rapat.
Sampul Novel Jerat Cinta Lelaki Muda
8.6
Demi memenangkan taruhan dari teman-temannya, playboy kampus bernama Rafka Mahendra bertekad menaklukkan Sarah Adisty Mahira, dosen baru yang terkenal dingin dan tegas, dalam waktu satu bulan. Walau terus-menerus ditolak, Rafka tidak menyerah. Ia nekat menyewa mata-mata untuk mengorek masa lalu Sarah. Setelah menemukan titik lemah sang dosen, Rafka menggunakannya sebagai senjata ancaman. Akankah taktik licik ini membuat Sarah tunduk, atau justru menjerat Rafka dalam permainannya sendiri?
Sampul Novel Menyukai Dosen karena Truth or Dare Gila
8.3
Permainan truth or dare membawa Raina ke dalam misi nekat mendekati Andra Wiratma, dosen killer yang terkenal kaku. Walau kerap ditolak mentah-mentah, keceriaan Raina perlahan mulai mengusik ketegasan sang dosen. Sesuatu yang awalnya cuma candaan konyol kini berubah menjadi perjuangan rasa yang serius. Sikap gigih Raina tidak hanya menarik perhatian Andra, tetapi juga memaksa pria dingin tersebut menghadapi badai emosi dalam dirinya sendiri.
Sampul Novel Tergoda Sahabat Mama
7.9
Brian, pemuda berusia dua puluh tahun, jatuh hati pada Aurora, sahabat karib ibunya yang terpaut usia delapan belas tahun lebih tua. Walau sempat ditolak, kegigihan Brian berhasil meluluhkan hati Aurora hingga keduanya nekat menjalin hubungan asmara secara rahasia. Sialnya, hubungan tersembunyi ini akhirnya terbongkar dan memicu kemarahan besar sang ibu. Cinta beda generasi mereka kini berada di ujung tanduk karena mustahil mendapatkan restu dari keluarga.