APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Bukan Pelakor.

Aku Bukan Pelakor.

Hari pernikahan Nada yang dinanti justru menjadi awal kehancuran hidupnya. Di hadapan para tamu, seorang wanita muncul membeberkan kenyataan pahit bahwa calon suami Nada telah memiliki istri sah. Skandal memalukan ini mencoreng nama baik keluarganya. Kini, di balik rasa kecewa dan luka mendalam akibat dikhianati, Nada harus menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat. Ia mendapati dirinya sedang mengandung anak dari pria yang telah menghancurkan masa depannya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Bu." Nada menangis melihat keadaan ibunya yang seperti ini. Dia memandangi dokter yang tengah memeriksa keadaan sang ibu dengan perasaan khawatir.

"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Pak Baron. Pria itu menunjukkan mimik tegang dan takut secara bersamaan.

Pria dengan kacamata bening itu tersenyum pada Pak Baron. "Penyakit darah tinggi ibu kambuh, Pak. Sepertinya beliau syok. Saya tuliskan resep obatnya nanti diminum kalau ibunya sudah sadar. Jangan membuatnya terlalu banyak pikiran, ya."

Pria dengan kemeja putih itu menyerahkan selebaran resep pada Pak Baron. "Kalau begitu saya permisi."

"Mari, Dok saya antar." Pria tinggi dengan kulit kecokelatan mengambil alih, dia tersenyum pada Pak Baron sebelum mengantar dokter kepercayaan keluarganya yang akan pulang.

Sepeninggal dua orang itu, Pak Baron menatap istrinya sendu. Lalu beralih pada putrinya yang masih memakai kebaya putih. Tanpa kata dia menyeret Nada keluar dari kamar.

"Pak—" Panggilan dari Nada tidak sama sekali dia gubris, langkah Kaki pria paruh baya itu menuju kamar Nada berada begitu cepat.

Membuka pintu kasar lalu menghempaskan tubuh itu begitu saja. "Bikin malu!" teriak Pak Baron. Dia memandang putrinya garang.

"Pria seperti itu yang kamu mau setelah menolak bapak jodohkan sama Rizal? Iya? Pria beristri maksud kamu?" tanya Pak Baron dengan geram.

Nada yang sedari tadi terduduk di lantai menangis dengan menggelengkan kepala. "Bukan, Pak." Suaranya terdengar lirih.

"Bukan apa?" teriak Pak Baron lebih keras lagi. Dia semakin melotot melihat penyangkalan anaknya padahal jelas-jelas apa yang sudah terjadi di acara tadi.

"Kamu sudah membuat bapak malu. Kamu sudah membuang kotoran ke muka bapak dengan kelakuan bejat kamu merebut suami orang. Bapak nggak pernah mendidikmu menjadi pelakor."

"Nada bukan pelakor, Pak," ucap Nada membantah ucapan ayahnya.

Pak Baron mendekati Nada, menjambak rambut putrinya yang digelung rapi. "Kalau bukan pelakor apa namanya?" Dia tidak peduli lagi kalau suaranya akan terdengar sampai ke tetangga.

"Mas. Sudah, Mas. Kasihan Nadanya," ujar Yunus yang tak tega melihat keponakannya dipukul oleh sang kakak.

Pak Baron masih menatap Nada dengan tajam. "Kamu sama saja dengan kakakmu itu." Bentuk kekecewaannya sudah sangat dalam. Putri yang dibanggakannya telah mencoreng mukanya.

"Nada juga tidak tahu kalau Mas Saka belum bercerai dengan istrinya. Mas Saka mengatakan kalau dia sudah mentalak istrinya," jawab Nada dengan suara yang terputus karena isak tangis. Jujur saja rasa sakit juga menjalari kepalanya akibat tarikan dari ayahnya.

Bola mata Pak Baron membulat. "Kenapa kamu bisa sebodoh ini, Nada? Pria itu mengatakan kalau dia mentalak istrinya, bukan menceraikan istrinya." Lagi-lagi Pak Baron mendorong Nada sampai wanita itu kembali tersungkur.

"Mas. Sudah." Yunus kembali mencoba mencegahnya.

"Pak, Pak, Pak. Pak Baron, Pak. Sudah, Pak. Kasihan Nada kalau Bapak bersikap seperti itu." Rizal, setelah mengantar dokter tadi dia segera berlari masuk saat mendengar teriakan dari Pak Baron.

Dia menahan pria yang lebih tua darinya untuk tidak kembali memukuli Nada. Napas yang memburu dengan dada naik turun cepat menandakan bahwa ada kemarahan yang besar di dalam diri pria paruh baya itu.

"Sabar, Pak. Tenangkan dulu diri Bapak. Ingat kesehatan Bapak lebih penting. Ada Ibu juga yang lebih membutuhkan perhatian kita sekarang." Rizal mengelus dada Pak Baron.

Pak Baron memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menarik napas dalam melalui hidung dan mengembuskannya melalui mulut sesuai instruksi dari Rizal. Aneh, ditenangkan adiknya tak mempan, tetapi ditenangkan Rizal mempan. Yunus sampai menatap heran kakaknya.

Tanpa kata, dia pergi meninggalkan kamar putrinya. Tidak peduli jika Nada masih menangis dengan terkulai di atas lantai, lalu diikuti oleh Yunus.

Rizal memandang Nada dengan sebuah senyuman miring. Dia berdecak beberapa kali. "Nada-Nada." Pria itu mendekati Nada, berjongkok tepat di hadapan wanita yang masih mengenakan kebaya putih pernikahan. Bedanya, penampilannya kali ini sungguh berantakan.

Dia menengok ke balik punggung, merasa aman sebuah seringai pun terbit di bibirnya. Tangan kanan bergerak cepat, mencengkeram dagu Nada dengan kasar.

Rizal berbisik lirih penuh tekanan, "Kalau saja kamu mau menikah denganku, pasti hidupmu sekarang sudah bahagia menjadi istriku. Bergelimang harta dan semua keperluan keluargamu bisa aku tanggung."

Bola mata Nada yang dipenuhi air mata melotot seketika, ada kemarahan di balik mata berkaca. Secara kasar dia menampik tangan Rizal dari dagunya.

"Aku tidak sudi menikah dengan pria lintah darat seperti dirimu," ucap Nada sinis. Meski kini dia dalam keadaan bersedih, tetapi Nada masih memperlihatkan rasa tidak sukanya terhadap kehadiran pria itu.

Bukannya marah Rizal malah terkekeh. "Tidak mau dengan pria sepertiku? Tapi mau dengan pria beristri maksud kamu? Begitu?" Tatapan Rizal penuh ejekan.

Nada segera mengalihkan pandangan dari Rizal, dia masih tidak suka membahas kebodohan yang telah dilakukannya.

"Berarti benar kalau sebutan pelakor itu memang pantas untuk kamu sandang."

"Sudah aku katakan kalau aku bukan pelakor!" teriak Nada yang masih tidak terima dengan sebutan itu.

Rizal hanya mengangkat tangan tak acuh. Dia kemudian berlalu dari kamar Nada karena tidak ingin Pak Baron berpikiran buruk tentang dirinya. Pria dengan kemeja kotak-kotak itu kembali ke kamar Pak Baron berada.

"Kenapa Kak Nada berteriak tadi?" Tari—adik Nada mencegat Rizal di depan pintu kamar orang tuanya.

Gadis itu menatap tidak suka dengan pria yang dulu dijodohkan dengan sang kakak. Tatapannya memicing, terlihat jelas sorot kebencian di mata Tari.

Rizal memasang wajah memelas. "Aku mencoba menenangkan dan menasihatinya. Hanya saja aku tidak sengaja menyebut sebutan pelakor yang malah membuatnya marah. Maaf."

Mulut Tari terbuka, siap mencaci maki pria di hadapannya. Akan tetapi urung saat suara Bapaknya mengambil alih. "Biarkan saja anak tidak berguna itu. Jangan pedulikan lagi."

Melengos, Tari memberi lirikan tajam ke arah Rizal. Sedangkan pria itu masih tersenyum tipis. Dia melangkah memasuki kamar Pak Baron. "Bagaimana keadaan Ibu, Pak?"

Pak Baron menggeleng. "Belum sadar."

"Semoga lekas sembuh, Pak." Rizal tersenyum melihat pria di hadapannya mengangguk. "Kalau begitu, saya pulang dulu, Pak."

Kali ini Pak Baron menatap Rizal. "Terima kasih Nak Rizal. Kamu sudah membantu Bapak dengan mendatangkan dokter keluarga kamu," ucap Pak Baron penuh sesal. "Bapak minta maaf telah mengecewakan kamu mengenai perjodohan itu."

"Ah. Lupakan saja. Kita sesama manusia harus membantu, Pak. Saya permisi." Keduanya berpisah setelah Rizal keluar dari kamar Pak Baron.

***

"Jelaskan. Ada apa sebenarnya. Kenapa kamu membuat Kakak malu, Ka?" Aska menatap Saka marah di ruang tamu rumahnya. Dia melirik sekilas keberadaan Rina, lalu kembali menatap tajam sang adik.

"Bagaimana bisa kamu belum bercerai dan ingin menikah kembali, Saka?"

"Tapi aku sudah mentalak Rina, Kak," ucap Saka cepat.

Suara gebrakan yang sangat keras mengejutkan Saka dan Rina yang sedari tadi diam di sudut kanan meja. "Kalau sudah mentalaknya, kenapa tidak mengurusnya ke pengadilan sekalian? Kenapa langsung menikahi perempuan lain?" Suara Aska meninggi.

Pria berperawakan tegas itu menangkap betul kebodohan dan keserakahan sang adik. Bodoh tidak menuntaskan hubungan dan serakah sudah ingin memikat perempuan lain.

Aska menatap Rina. "Dan kau, kenapa tidak mengatakannya padaku?"

Rina yang sedari tadi membuang muka kini menatap kakak iparnya. "Kakak pikir aku bisa memikirkan hal itu di saat fokusku hanya pada kesembuhan Zahra?"

Aska menghempaskan tubuhnya pada sofa, dia memijit keningnya berharap rasa pening segera hilang dari sana. Dirinya cukup menyadari kalau dia memang kurang memerhatikan keadaan keluarganya.

Ah, bahkan hal serupa juga dulu pernah dia alami. Kenapa sekarang bisa kembali terulang?

Membuang napas kasar, dia menatap sang adik. "Kamu sudah membuat Kakak malu, Ka. Secara tidak langsung kamu sudah membuat nama Kakak tercemar."

Sunyi. Hanya ada keheningan di antara mereka. "Kenapa kamu menceraikan Rina?" Suara Aska terdengar tajam dan datar.

Kali ini Saka yang membuang pandangan. "Jawab, Saja." Rina menimpali dengan tatapan sinis.

"Karena Rina tidak mengijinkan aku menikah lagi." Tanpa diduga pukulan keras mendarat di wajahnya. Keadaan Saka yang tidak tahu membuat pria itu lengah dan jatuh tersungkur. Rina yang melihat itu terkejut sampai menutup mulutnya dengan tangannya.

"Kau ingin menjadi bajingan? Kau ingin menjadi sosok kedua dari Ibu kita? Mengkhianati keluarga dan membuat anakmu terlantar seperti kita?"

Sebuah hal baru yang Rina dengar. Sebuah hal yang tidak sama sekali dia tahu. "Aku sudah mewanti-wanti dirimu sejak kecil. Jangan menjadi brengsek dengan mengkhianati pasanganmu. Kalau memang tidak cocok lebih baik berpisah baik-baik daripada mendua!" teriak Aska keras. Suaranya menggelegar di kediaman Bagaska.

Saka yang masih duduk di lantai sedikit mendongak. Pandangannya jatuh pada foto keluarga di mana dia dan kakaknya masih berumur di bawah sepuluh tahun.

Senyum ibunya terlihat lebar. Terlihat tulus. Bahkan dia mengagumi itu sebelum keduanya menyadari bawah semuanya hanya palsu.

Langkah kaki berat yang terdengar memberitahunya bahwa sang kakak telah berlalu. Saka menunduk, ada kemarahan di sana.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bismillah Anna
9.2
Sejak SMP, Anna memendam rasa pada Malik yang bersikap dingin dan menyukai perempuan lain. Di tengah perjuangannya sebagai dokter muda, ia harus menghadapi duka mendalam akibat kehilangan sang ayah. Meski takdir terasa pahit dan cintanya bertepuk sebelah tangan, Anna tetap tegar melewati cobaan hidup. Akankah kesabarannya berujung pada pernikahan dengan Malik, atau takdir justru akan mempersatukannya dengan seorang pria lain yang jauh lebih misterius?
Sampul Novel Deviant Love
9.5
Kehidupan Windy hancur total pasca-kematian Jimmy. Tak lama setelah itu, rangkaian pembunuhan sadis mulai meneror orang-orang terdekat di sekitarnya. Tragisnya, pola kejahatan ini malah membuat Windy dituduh sebagai dalang di balik semua kekejian tersebut. Di tengah desakan tudingan publik, ia juga harus bertahan dari ancaman mematikan sosok misterius yang mengincar nyawanya. Windy kini terjebak dalam teka-teki mencekam: apakah sang pembantai dan peneror itu adalah orang yang sama?
Sampul Novel Dunia Mimpi Para Jomblo
8.1
Pasca-kelulusan kuliahnya di Bandung, Rino Rahman sangat mendambakan kehadiran cinta yang belum pernah ia rasakan. Di tengah kesepian itu, muncul sosok misterius yang menawarkan bantuan untuk mewujudkan impian asmaranya lewat dunia mimpi. Apakah tawaran tersebut benar-benar membawa kebahagiaan nyata atau hanya sekadar janji manis tanpa bukti? Simak kisah unik perjuangan Rino dalam mengejar cinta sejati yang membentang di antara batas kenyataan dan alam khayalan.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Sampul Novel Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
8.6
Mengetahui suaminya berkhianat, seorang istri memilih langkah berani untuk menyudahi hubungan. Tanpa bimbang, ia menyerahkan lelaki itu kepada selingkuhannya secara langsung. Baginya, suami yang tidak setia hanyalah sampah yang tak pantas dipertahankan. Inilah kisah ketegasan seorang wanita dalam membuang masa lalu kelam demi menjaga harga diri, sekaligus merelakan pria pengkhianat tersebut jatuh ke tangan sang pelakor.
Sampul Novel PENGABDI SUAMI
8.5
Alana menyerahkan segenap hidup dan raganya demi sang suami yang sangat ia cintai. Sialnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas pengkhianatan kejam yang mengancam nyawanya. Sebuah rencana pembunuhan sadis telah dipersiapkan dengan rapi, disamarkan seolah-olah hanya kecelakaan biasa. Di tengah konspirasi maut yang siap merenggut jiwanya, bagaimanakah nasib Alana? Simak perjuangan pilu seorang istri yang keberadaannya tak pernah dihargai ini.