
Aku Bercerai dengan Suami Miskin
Bab 2
Aku pikir aku adalah cinta sejati Joshua, ternyata aku hanyalah hiburan baginya.
Kehidupan pernikahan yang bahagia dan menyenangkan itu pun hanyalah ilusi yang Joshua ciptakan.
Ternyata Joshua bukanlah seorang anak yatim. Cerita tentang gagal berbisnis sampai memiliki utang lebih dari 2 miliar itu juga hanya kebohongan. Keluarganya sebenarnya sangat berpengaruh.
Tak lama setelah itu, suara dari dalam ruangan VIP kembali terdengar.
"Oh ya, aku dengar Liana sangat senang setelah menerima kalung itu semalam, bahkan berharap bisa kembali menjalin hubungan bersamamu. Kalau dia tahu kamu sudah menikah, apa kira-kira dia akan bersedih?"
"Liana sendiri yang dulu mencampakkan Pak Joshua hanya untuk pergi syuting ke luar negeri. Dia pantas mendapatkannya!"
"Apa kalian nggak tahu? Alasan Pak Joshua menikah dengan si kampungan itu memang untuk membalas dendam pada Liana."
Tubuhku gemetaran, hampir tak bisa berdiri tegak.
Ternyata Joshua bukan hanya tidak mencintaiku, tetapi aku juga dijadikan alat untuk dia membalas dendam pada wanita lain.
Aku memegangi dadaku. Rasa sakitnya hampir menghancurkan diriku.
Wanita bernama Liana itu adalah cinta pertama Joshua. Dulu, karena orang tua Joshua tidak setuju Liana pergi syuting, Liana pun memutuskan hubungan dengan Joshua.
Sejak saat itu, Joshua menganggap tidak ada wanita yang baik. Dia mulai mempermainkan perasaan wanita, bergonta-ganti pasangan, hingga akhirnya memutuskan menikah dengan seorang wanita hanya untuk membalas dendam pada Liana.
Namun, Joshua takut wanita itu hanya mengincar hartanya, jadi dia menyembunyikan identitas aslinya, lalu mencari wanita biasa untuk dinikahi. Sementara itu, wanita yang dibodohi habis-habisan itu adalah aku.
Yang menyakiti Joshua adalah Liana bukan aku! Kenapa dia menghancurkan harga diriku, menginjak-injak perasaanku seperti ini?
Rasa sesak tiba-tiba menyerang. Aku baru saja ingin berbalik pergi saat aku mendengar seseorang bertanya dari dalam.
"Pak Joshua, bagaimana kalau nanti Sania mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya?"
Suara Joshua terdengar angkuh ketika menjawab, "Dia sibuk mencari uang setiap hari untuk menghidupiku, mana sempat dia memedulikan hal lainnya? Begitu pulang kerja, dia langsung pergi ke pasar, membeli sayur sisa untuk dimasak."
"Lagi pula, memang kenapa meski dia mengetahui siapa aku sebenarnya? Jangan harap dia bisa mendapatkan hartaku. Aku punya banyak cara untuk membuat dia meminta perceraian dengan patuh, tanpa mendapatkan sepeser pun!"
Seluruh darah di wajahku langsung surut, menghilang tanpa jejak.
Ketika mendongak, aku melihat seorang wanita yang berdandan dengan anggun sedang berjalan masuk. Itu adalah Liana.
Begitu Liana masuk, semua orang di dalam mulai memuji betapa cantik serta awet mudanya dia.
Kebetulan, pada saat itu pelayan datang untuk menghidangkan makanan. Ketika pintu ruangan terbuka, aku mengintip sedikit ke dalam. Liana duduk di samping Joshua, keduanya saling menatap penuh kasih, pandangan mereka seperti terikat satu sama lain.
Liana menyentuh kalung berlian di lehernya, lalu berkata dengan suara manja, "Aku sangat menyukai kalung ini. Terima kasih, Joshua."
Sudut bibir Joshua sedikit terangkat ketika dia berujar, "Aku senang kalau kamu menyukainya."
Pria ini benar-benar sangat murah hati pada cinta pertamanya. Kalung berlian seharga 8 miliar diberikannya begitu saja.
Sedangkan aku? Bahkan tas seharga 400 ribu saja tidak layak untuk aku miliki!
Aku tak sanggup mendengar lebih banyak lagi. Aku meninggalkan restoran dengan langkah sempoyongan, hampir terjatuh saat menuruni tangga.
Di jalan, aku akhirnya tidak bisa menahannya lagi, langsung menangis dengan kencang.
Selama tiga tahun ini, aku sudah mencintai Joshua dengan sepenuh hati.
Aku khawatir pria itu terlalu lelah kerja, jadi aku sering memasakkan sup yang bergizi untuknya.
Produk perawatanku selalu yang berharga di bawah 200 ribu, supaya uangnya bisa aku tabung untuk membelikan Joshua baju serta sepatu dengan kualitas yang lebih baik. Namun, aku mengatakan padanya kalau aku membelinya dengan kupon diskon besar di internet.
Joshua akan selalu memuji kecerdasanku.
Padahal, aku ini sangat bodoh!
Malam pun tiba. Saat aku sampai di rumah, aku melihat Joshua sedang memasak di dapur.
Begitu mendengar suara pintu terbuka, Joshua menjulurkan kepala sambil tersenyum bodoh padaku.
"Sayang, kamu sudah pulang. Makanannya sudah siap."
Joshua memakai celemek sembari berdiri di dapur yang sempit.
Sungguh sulit membayangkan dia adalah pewaris keluarga kaya dengan aset triliunan.
Joshua berbicara sambil terus memasak.
"Sayang, ikan hari ini sangat segar. Penjualnya bahkan memberikan potongan 4 ribu padaku."
"Oh ya, aku juga menjual semua kardus yang aku kumpulkan selama setengah bulan ini, lalu mendapatkan uang 136 ribu. Setelah dipakai untuk membeli bahan makanan, aku masih punya sisa uang 10 ribu."
Aku menutup mata dengan hati yang terasa seperti diremas sampai hancur.
Untuk mempertahankan aktingnya di depanku, dia benar-benar sudah bekerja keras.
Aku melihat meja makan yang dipenuhi dengan berbagai macam hidangan. Sebelumnya, aku pasti sudah meloncat ke pelukannya, memujinya sebagai suami terbaik di dunia.
Namun, sekarang semua itu terasa seperti lelucon.
Aku teringat kembali pada apa yang aku dengar siang tadi. Ternyata Joshua belajar memasak bukan demi diriku, tetapi demi Liana.
Namun, pria ini mengatakan padaku bahwa dia baru belajar memasak setelah menikah denganku.
Joshua juga pernah mengatakan bahwa sejak kecil tidak ada orang yang menyayanginya. Dia selalu kelaparan, kedinginan, serta sering ditindas. Jika bukan karena ada orang baik yang membantunya, dia mungkin tidak akan bertahan sampai saat ini.
Saat dia menceritakan kisah ini, aku benar-benar merasa iba.
Namun, ternyata tidak satu pun dari semua ucapannya itu benar. Semuanya adalah kebohongan.
Termasuk kata-kata cintanya padaku.
Ketika memikirkan hal ini, air mataku jatuh tanpa bisa ditahan.
Joshua berjalan keluar dari dapur sambil membawa piring. Begitu melihatku menangis, dia langsung meletakkan piring di tangannya, lalu menghampiriku. Dia menatapku sambil bertanya.
"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang menindasmu di kantor?"
Ketika melihat aku hanya diam saja, Joshua mengerutkan kening, lalu kembali berujar, "Sayang, tolong katakan sesuatu. Siapa yang membuatmu menangis sampai seperti ini? Aku merasa sakit melihatmu seperti ini."
"Nanti kalau aku sudah punya uang, kamu nggak perlu bekerja lagi. Tinggal di rumah aja, biar aku yang menanggung semuanya."
Dia memanggilku dengan panggilan sayang berulang kali. Wajah tampannya menunjukkan ekspresi panik, seolah dia benar-benar mencintaiku.
Apa-apaan pria ini? Kenapa dia pandai sekali berpura-pura?
Dengan bibir bergetar aku bertanya, "Joshua, apakah kamu mencintaiku?"
Joshua tersenyum lembut sambil membalas, "Tentu saja aku mencintaimu. Kamu adalah wanita yang paling aku cintai seumur hidupku."
Aku menatap matanya, terus teringat dengan semua ucapan pria ini di restoran siang tadi. Setiap kata yang dia ucapkan terasa seperti peluru yang menembus jantungku.
Joshua begitu merendahkanku, menganggapku hanya hiburan semata, sampah yang tidak berharga.
Mungkin aku hanyalah batu pijakan untuknya demi mengejar cinta pertamanya!
Jadi, saat dia mengatakan bahwa dia mencintaiku, aku hanya merasa muak.
Pria ini sangat munafik!
Joshua mengulurkan tangan, hendak memelukku.
Aku mundur untuk menghindarinya. Kemudian, aku mengangkat tangan untuk menghapus air mata di wajahku, lalu menatapnya dengan tatapan tajam sambil berujar, "Joshua, aktingmu sangat bagus."
Joshua masih mencoba berpura-pura bodoh.
"Sayang, apa yang sedang kamu katakan?"
Aku mengambil ponselku, membuka foto yang sudah aku simpan dari semalam, lalu menunjukkan padanya. Aku bertanya sambil terisak, "Pak Joshua, apa kamu sudah cukup puas bermain?"
Anda Mungkin Juga Suka





