APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)

Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)

Dunia Aisyah runtuh sejak ibunya tiada dan sang ayah bersikap dingin. Di tengah impitan ekonomi dan hampa kasih sayang, gadis piatu ini harus berjuang mandiri demi menggapai impiannya. Beruntung, sebuah pesan penyemangat di buku harian peninggalan sang ibu menjadi pelita yang menguatkan langkahnya. Aisyah yakin masa-masa sulit ini akan berganti keindahan. Ikuti kisah perjuangan menyentuh hati Aisyah dalam menjemput kebahagiaan hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sesampainya di sana, kondisi pria tunanetra itu sudah sangat mengenaskan. Kakinya terperosok ke sela-sela kran air yang bersisian dengan gedek. Gedek lapuk yang menjadi dinding dari dapur rumah yang keluarga itu kini menjadi berlubang sebab entakan kaki Ridwan.

“Aisyah?"

Ridwan begitu peka akan kehadiran cucunya.

Segera Aisyah menyahut, “Aisyah di sini, Mbah.”

Gadis kecil itu pun lekas menggandeng pergelangan tangan Ridwan, menarik tubuhnya dan mencoba mengeluarkan pria tuna netra itu dari perangkap gedek tersebut.

Bobot Ridwan terasa begitu berat bagi Aisyah yang bertubuh kecil mungil. Namun, ia sama sekali tidak berputus asa. Terus berupaya hingga rintihan keluar dari mulut Ridwan.

"Sa-kit ...," erangnya memelas.

"Sabar, ya, Mbah. Sebentar lagi sudah bisa,” pinta Aisyah seraya terus mencoba menarik tubuh Simbah.

Selang beberapa detik, Mbah Kakung terjengkang bersamaan Aisyah yang turut terpental. Tubuh keduanya ambruk di tanah dengan posisi tubuh kecil Aisyah ditindih tubuh sang kakek.

“Argh!” Aisyah mendesis.

Ridwan panik. "Aisyah? Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan tangan meraba-raba, mencari keberadaan cucunya.

Aisyah hanya mengerutkan dahi dan mencoba menahan rintihannya agar tidak semakin membuat Simbah khawatir. Lengannya tergores beling dan ada sedikit luka di sana. Namun, ia berusaha untuk tetap baik-baik saja.

"Tidak apa-apa, Mbah,” elaknya. “Tapi ... Aisyah sedikit kesulitan bernapas. Ditindih sama Mbah Kakung.”

“Oh, iya! Maaf. Mbah akan segera bangun.”

Ridwan pun mencoba menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar, begitu kesulitan untuk bangun. Aisyah tahu jika Simbah tidak memiliki cukup tenaga untuk bangkit. Ia pun terus berupaya untuk mencari jalan agar bisa cepat keluar dari perangkap ini. Pelan tapi pasti. Setelah bergelut dengan tanah, gadis itu pun akhirnya bisa dan segera membantu kakeknya.

Ridwan berdiri seraya mencari tongkat miliknya.

“Ini, Mbah.” Aisyah mengerti apa yang Ridwan cari. Ia pun lekas memberikannya.

Meski tak mampu melihat, Ridwan menatap lurus ke depan seolah mampu memandang cucu kecilnya yang kini sudah beranjak remaja itu.

"Aisyah?" panggil Ridwan dengan tangan yang meraba-raba, mencari keberadaan Aisyah.

Aisyah menyambut hangat tangan keriput tersebut.

"Aisyah sudah di sini, Mbah. Tidak usah takut lagi. Mbah mau ke mana? Biar Aisyah antar.”

Di Saat Aisyah bertanya seperti itu, Ridwan justru menunduk sedih.

“Maafkan Mbah yang hanya bisa merepotkanmu, ya, Nduk?” ucapnya lirih dengan air mata yang tak lagi bisa menetes.

Meski kesedihannya begitu dalam, mata rabunnya hanya mampu mengerjap, menunjukkan betapa rapuhnya pria renta itu. Wajahnya pun kini ditekuk, membuat Aisyah merasakan perih atas ucapan kakeknya.

“Tidak! Jangan berbicara seperti itu, Mbah,” tolak Aisyah. “Selama ini Mbah Kakung sudah merawat Aisyah dengan sangat baik. Aisyah tidak akan menjadi seperti ini tanpa Mbah dan Mbok. Kalian segalanya bagi Aisyah.”

Gadis kecil itu pun segera merangkul tubuh kakeknya dan di tempat yang berbeda Maimunah melihat semua kejadian mengharukan itu. Ia memegang dadanya, menahan batuknya agar tidak membuat Aisyah panik karenanya.

“Memangnya tadi Mbah kenapa? Kok bisa terjebak di sana?" tanya Aisyah sembari menuntun sang kakek. “Mbah salah arah lagi?” selidiknya.

Ridwan mengangguk.

“Mbah kencing, Syah. Mbah pergi ke kran itu untuk membersihkan diri. Tapi ternyata, Mbah terperosok.”

Aisyah mencoba melihat ke bawah. Benar saja, kondisi Simbah seperti yang belum selesai membersihkan diri. Kakinya pun masih dipenuhi lumpur. Secepat mungkin Aisyah menggandeng tangan Mbah Kakung menuju kran, mencuci bersih kakinya yang berlumur lumpur itu, kemudian membawa pria renta itu menuju rumah.

Suara batuk Simbok kembali terdengar. Hati Aisyah kembali risau.

"Aku mau di bawa ke mana, Syah?" tanya Mbah Kakung.

"Ke kamar, Mbah. Sebaiknya Mbah istirahat saja nanti, ya? Jangan kemana-mana dulu. Aisyah masih mau merawat Simbok."

"Lah, kenapa memangnya Mbokmu?"

"Batuk'an, Mbah."

"Kerokin, Syah. Mungkin dia masuk angin."

Aisyah mengangguk sembari membaringkan tubuh Mbah Kakung di ranjang. Ia merapikan posisi tidur sang kakek, kemudian segera menyelimutinya.

Setelah selesai mengurus Mbah Kakung, Aisyah berjalan cepat menemui simbok yang masih duduk di luar. Gadis itu datang membawa segelas air putih, meminta simbok meminumnya dan berharap semoga saja darah itu berhenti keluar dari mulutnya.

Maimunah menuruti kemauan Aisyah. Batuknya sedikit mereda.

Meskipun tidak tahu harus melakukan apa lagi, Aisyah mencoba memijit-mijit bahu simbok. Tidak jadi mengerokinya karena Maimunah bersikeras menolak. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Gadis itu teramat ketakutan saat melihat darah. Sambil berurai air mata, Aisyah terus memijit.

“Sudah, Nduk. Mbok tidak apa-apa, kok” Maimunah mencoba tegar, tapi jelas itu hanya mencoba untuk menghibur Aisyah agar tidak cemas.

Aisyah tahu itu. Ia pun menggeleng dan justru semakin banter menangis. Hidung Aisyah mulai tersumbat. Aisyah sesenggukan. Maimunah merasa tak kuasa menahan perihnya penyakit yang disertai beragam ketakutan.

Ia takut untuk mati sebelum Aisyah bahagia. Setidaknya, ia masih ingin melihat Aisyah tumbuh, sekolah, dan menikah. Jatuh ke tangan pria yang tepat yang bisa mengangkat semua luka yang masih membekas.

Maimunah tahu jika selama ini gadis kecil itu sudah berjuang begitu keras dalam hidupnya. Ia ingin Aisyah bahagia, hanya itu saja sebab penyakit paru-paru juga berhasil merenggut nyawa Ummi Aisyah dan Maimunah tidak ingin gadis itu menjadi kehilangan dirinya dengan cara yang sama.

Maimunah menoleh dan memperhatikan seraut wajah sedih Aisyah dengan hati teriris perih.

"Kamu kenapa menangis, Nduk?" tanyanya dengan suara lirih.

Aisyah menggeleng. Tak mampu menahan kecamuk rasa yang begitu perih, ia pun menekan sesak di dadanya. Menunduk, menahan isak yang amat sangat menyesakkan.

"Aisyah? Ada apa?" tanya Maimunah pura-pura tak mengerti. Ia mencoba mengulurkan tangannya, menyediakan ruang untuk mendekap cucu kesayangannya.

Aisyah semakin menjadi tangisnya. Ia memeluk Maimunah erat. Sangat erat.

“Mbok ...," lirih Aisyah dalam isak. Sesenggukan Aisyah berbicara. "Mbok jangan mati, ya? Aisyah sudah tidak punya Ummi. Kalau Mbok mati, Aisyah nanti meneng sama siapa?"

Maimunah menggeleng dengan kepala berat. Air matanya berlinang deras.

“Tidak akan, Nduk. Mbok akan tetap bersama Aisyah,” ucapnya lirih sembari menyembunyikan darah yang kini berada di genggamannya.

Aisyah membayangkan banyak hal. Sekolah, mimpi, cita-cita, Simbok yang sudah batuk darah, dan Simbah yang tuna netra. Andai dirinya tetap membebankan segalanya pada mereka? Mungkin mereka akan semakin tersiksa.

‘Tidak!’ jerit Aisyah dalam hati. ‘Aku anak Abah. Setidaknya Abah harus bertanggung jawab atas diriku yang sudah dilahirkan ke dunia ini.’

Aisyah mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya tajam menatap lurus ke depan. Penuh arti, penuh rencana. Bagaimana pun caranya ia akan berusaha agar sang Abah bisa membiayai hidupnya.

Lamunan itu pun buyar seiring Aisyah yang mendengar suara batuk Simbok.

“Uhuk, uhuk, uhuk!”

Maimunah sudah bersikeras menahannya. Namun, percuma! Batuk itu terus keluar dengan sendirinya.

“Mbok?” selidiknya resah melihat Simbok terus berupaya menyembunyikan darah di genggamannya.

“I-tu?” tanya Aisyah curiga.

Maimunah menggeleng. Lalu berupaya tersenyum. “Tidak apa, Nduk. Jangan khawatirkan Simbok. Sebentar lagi sudah sembuh.”

“Aisyah takut.”

Maimunah terus mencoba tegar.

“Apa mau Aisyah panggilkan Bu bidan?” tawar gadis kecil itu.

Maimunah menggeleng.

“Antar saja Mbok masuk, Nduk,” pintanya seraya mencoba bangkit dari tempat duduknya semula.

Meski berat, Aisyah mencoba menuruti kemauan Maimunah. Ketika perempuan renta itu berusaha mencari pegangan, tubuhnya seperti oleng dan hendak pingsan.

“Mbok!” jerit Aisyah histeris.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Absurd Boyfriend With Kianna
8.5
Kianna Augustephie, gadis pendiam yang suka menulis, memendam kekaguman pada Giorgio Fernandes. Ketampanan sang idola sekolah bahkan menginspirasi novel romantis karyanya. Namun, kejutan datang saat Gior tiba-tiba mendekat dan kerap melontarkan rayuan konyol yang tak terduga. Tingkah absurd cowok populer ini sukses membuat Kianna bingung sekaligus jatuh hati. Akankah kisah cinta fiksi dalam bukunya benar-benar terwujud nyata bersama Gior?
Sampul Novel Bingkisan Daster Bekas Mertua
8.6
Kehidupan rumah tangga sepasang suami istri berada di ujung tanduk akibat campur tangan ibu mertua yang menguasai seluruh aspek keuangan. Sang suami tidak berdaya dan dituntut selalu patuh pada setiap titah ibunya. Di bawah dominasi keluarga yang begitu kuat serta hilangnya hak mandiri dalam pernikahan, mampukah cinta mereka bertahan? Ikuti perjuangan mempertahankan ikatan pernikahan di tengah bayang-bayang kendali sang mertua.
Sampul Novel Komodo Hijrah
9.6
Mahesa sukses besar sebagai pengusaha waralaba, namun nasib asmaranya selalu berujung kegagalan. Ia bahkan merasa dikutuk oleh saingan bisnisnya karena tak pernah sukses melangkah ke pelaminan. Berbagai cara logis hingga tak biasa ia tempuh demi menemukan jodoh. Di tengah perjuangan itu, Gayatri, sahabat kecil yang selalu melindunginya, tetap setia menemani. Pertanyaannya, akankah persahabatan mereka tetap kokoh saat benih cinta mulai hadir di antara keduanya?
Sampul Novel My Possessive Sugar Daddy
9.6
Demi keluar dari kemiskinan dan tekanan sosial, Fahira terpaksa mengorbankan prinsipnya untuk menjadi sugar baby dari Fatih. Meski awalnya menolak, tawaran sang CEO tampan adalah solusi instan bagi hidupnya. Kini, ia bergelimang kemewahan yang justru memicu masalah baru. Fahira harus menghadapi berbagai sabotase dan rencana licik dari sepupunya sendiri yang bertekad untuk menjatuhkannya.
Sampul Novel PEMBALASAN RITA
8.5
Pernikahan Rita yang telah berjalan sepuluh tahun hancur total, memicu hasratnya untuk membalas dendam kepada pengkhianat. Namun, upaya tersebut justru menjeratnya dalam konspirasi rahasia gelap yang terkubur rapat. Seiring terungkapnya fakta-fakta baru, misteri masa lalu Rita mulai tersingkap satu demi satu. Kini, kehidupannya berubah drastis, dipenuhi bahaya serta intrik rumit yang mengancam keselamatan dirinya.
Sampul Novel Rahasia si Fotografer
9.2
Sebagai fotografer privat, pria ini terbiasa menerima imbalan berupa hubungan intim dari para mahasiswi yang menggunakan jasanya. Kehidupan tidak biasanya ini menghadapi babak baru ketika ia disewa untuk sesi foto pranikah sepasang kekasih. Keanehan terjadi saat malam tiba, ketika sang calon pengantin wanita justru menawarkan tubuhnya dan mengajaknya tidur bersama. Hal ini memicu kecurigaan besar bahwa calon suaminya tidak sanggup melunasi biaya pemotretan tersebut.