APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ah! Enak Mas Dokter

Ah! Enak Mas Dokter

Ketidakpuasan dalam kehidupan pernikahan membawa Febby Fiolla menemui dokter kandungan rekomendasi mertuanya. Tak disangka, dokter tersebut adalah Dirga, cinta pertama Febby di masa lalu. Pertemuan medis ini justru menyalakan kembali api asmara yang lama padam hingga berujung pada hubungan gelap. Terjebak dalam status pernikahan masing-masing, Dirga mendesak Febby untuk bercerai, sementara Febby menuntut komitmen serupa. Akankah mereka berani meninggalkan pasangan sah demi cinta lama ini?
Bab
Bagikan

Bab 1

(Novel khusus Dewasa)

Tidak pernah puas dengan permainan suaminya di ran-jang. Febby Fiolla justru mendapatkan kepuasan itu dari Dokter Kandungan yang direkomendasikan Ibu mertuanya. Dokter bernama Dirga, adalah cinta pertama Febby. Pertemuan itu menjadi awal berseminya cinta mereka. Namun, hubungan terlarang itu terhalang status keduanya. Akankah cinta mereka bersatu, atau mereka kembali pada pasangan masing-masing.

"Bercerailah dari suamimu."__Dirga.

"Apa kamu juga akan melakukan yang sama? Bercerai dari istrimu?"__Febby Fiola.

Aku Ngga Puas, Mas

"Ugh!" Suara lenguhan panjang terdengar memenuhi ruang kamar saat Andi menyelesaikan permainannya.

"Enak," ucap Andi, merasakan nikmat yang tiada tara. Namun berbeda dengan Febby yang tidak merasakan klimaks sama sekali. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam.

"Sudah keluar Mas? Kok cepet banget, ngga sampai satu menit. Perasaan baru masuk." Febby mengeluh sambil menghela napas panjang.

Sudah sering dia mengatakan kalau dia tidak pernah puas dengan permainan suaminya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang keluar dari bagian inti tubuh, yang menandakan dia belum mencapai puncak. Namun Andi seolah masa bodo. Yang penting nafsunya tersalurkan.

"Aku lelah. Tadi itu aku udah berusaha untuk lama, tapi malah keluarnya cepet." Selesai melampiaskan hasrat, Andi berbaring di sebelah istrinya tanpa merasa bersalah sama sekali.

Raut kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah Febby, yang selama dua tahun menjadi istri sah Andi.

Selama dua tahun itu dia tidak pernah merasakan klimaks saat berhubungan dengan suaminya. Kenikmatan hanya dirasakan oleh Andi, bahkan Andi tidak pernah membuatnya nyaman di atas ranjang.

Andi juga kurang perhatian, hanya memikirkan diri sendiri. Pernikahan dua tahun terasa semakin hambar bagi Febby. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Toh Febby yang memilih laki-laki itu menjadi suaminya dan mereka sedang menjalani program kehamilan.

Ya, Andi dan Febby sudah didesak oleh kedua orang tua mereka agar secepatnya memiliki anak, tetapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Febby mengandung buah cinta mereka.

"Kamu mau langsung tidur Mas?" tanya Febby pada suaminya yang baru saja pulang kerja dan meminta dilayani. Selesai dilayani, Andi berbaring di ranjang sambil memejamkan mata.

"Iya, aku ngantuk. Kamu masak makan malam aja dulu. Kalau udah mateng semua, bangunin."

Febby menghela napas panjang, turun dari ranjang lalu memakai pakaian satu per satu.

Matanya melirik Andi yang terlelap, padahal baru saja kepala suaminya itu bersandar ke atas bantal.

Tidak ada ucapan terima kasih. I love you. Atau gombalan yang keluar dari mulut Andi, membuat Febby merasa tidak dicintai sama sekali.

"Mandi dulu dong Mas, masa langsung tidur."

"Hem," sahut Andi datar.

Selesai memakai pakaian, Febby melangkah mendekati pintu lalu keluar. Sedangkan Andi sudah jauh mengarungi mimpi.

Langkah kaki Febby dihentikan oleh ibu mertua di ambang pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap wajah menantunya yang lesu sambil mengerutkan kening.

"Kamu kenapa, Feb?"

"Ngga apa-apa Bu," jawab Febby, pelan, melanjutkan langkah kakinya mendekati kulkas.

Ratih mengikuti Febby ke dapur, membantu menantunya menyiapkan bahan makanan.

Sejak kemarin wanita paruh baya itu menginap di rumah kontrakan dua kamar tersebut.

Satu bangunan rumah yang baru dua bulan ditempati itu berada di komplek perumahan Melati. Rencananya Andi ingin mencicil rumah yang mereka tempati sekarang agar tidak bayar kontrakan lagi.

"Suami kamu mana, Feb?" tanya Ratih.

"Mas Andi tidur Bu. Katanya capek," jawab Febby seraya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu.

Beberapa jenis sayur dan ikan segar dia letakan di dekat wastafel untuk dibersihkan.

"Kamu udah konsultasi lagi ke Dokter Kandungan?" tanya Ratih pada menantunya.

"Udah Bu, katanya aku sama Mas Andi harus sering minum vitamin biar subur. Aku udah dikasih resep vitamin itu. Semoga aja ada kabar baik bulan depan."

"Amin," ucap Ratih. "Selain berkonsultasi ke Dokter, kamu juga harus pergi ke Dukun beranak. Atau ke mana kek. Biar kamu cepet isi."

"Udah Bu, tapi emang dasarnya belum dikasih aja. Kalau memang belum rejekinya, ya mau gimana lagi."

"Kalau gitu, coba kamu konsultasi ke Dokter lain. Misalnya ke Dokter Dirga. Dia sepupunya Andi. Siapa tahu dia bisa bantu kalian. Kasih saran apa untuk membantu mempercepat kehamilan kamu."

Febby terdiam. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka gonta-ganti dokter, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Beberapa dokter juga menyarankan untuk memeriksa kesuburan satu sama lain, namun Andi selalu menolak dan mengatakan kalau dia sehat.

Sementara, selama berhubungan Febby tidak pernah merasa puas. Bahkan durasinya hanya sebentar, tidak sampai tiga menit langsung crott.

"Lebih baik kamu coba dulu saran Ibu," ucap Ratih yang selalu mendesak Febby agar cepat hamil.

Andai kehamilan bisa dibeli, Febby akan membelinya agar bisa secepatnya memberi gelar ayah pada sang suami.

"Kalau kamu ragu, mending komunikasikan dulu sama Andi. Biar kalian lebih yakin. Ibu sih percaya sama Dokter Dirga. Banyak kok pasien dia yang berhasil hamil."

Febby menghela napas panjang. "Nanti aku coba bicarakan sama Mas Andi. Kalau dia mau, besok aku dan Mas Andi ke tempat praktek Dokter itu."

Ratih tersenyum, "Nanti alamatnya Ibu kasih ke kamu. Kamu dan Andi langsung ke sana aja. Nanti Ibu bikin janji biar kalian ngga antri."

"Iya Bu, makasih."

Saat sedang berbincang, Andi datang mendekati kedua wanita di dapur. Pria yang memiliki tinggi 170cm itu duduk di depan meja makan dengan lesu.

"Bikinin aku kopi," katanya memerintah Febby.

"Tunggu sebentar Mas. Aku lagi masak."

"Ck! Aku maunya sekarang!" Andi mengeraskan suaranya, membuat Febby terhenyak kaget.

Ratih dan Febby saling tatap, Ibu mertuanya itu memutar bola mata meminta Febby menurut saja.

"Biasa aja dong Mas, jangan marah begitu," sahut Febby kesal.

"Kamu ini. Suami minta kopi malah nanti-nanti. Utamakan melayani suami dulu, baru yang lain! Gimana sih!" cecar Andi memarahi Febby.

Ratih hanya diam, tak membela menantunya ataupun menasehati Andi. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi. Dia pun mengalami di rumah.

"Sabar Mas." Terpaksa Febby menunda masakannya dan membuat kopi untuk Andi yang sudah tidak sabar.

Dengan perasaan kesal, Febby meletakkan kopi hitam pesanan suaminya ke atas meja. "Mau apa lagi Mas? Sekalian aja, aku mau masak."

Andi melotot, menatap istrinya seperti ingin menelan hidup-hidup. "Kamu ngga iklhas?"

"Bukan ngga ikhlas Mas, aku kan cuma nanya sama kamu. Kamu mau apa lagi? Biar aku ambilin sekalian."

"Ngga ada, aku cuma mau kopi."

"Ya udah," sahut Febby pelan. Ia kembali melanjutkan memasak makan malam, meski perasaannya kesal.

Sikap dingin Andi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Tanpa alasan yang jelas, Andi tiba-tiba jadi kasar dan bahasanya tidak pernah lembut seperti dulu.

Febby curiga suaminya memiliki wanita idaman lain di luar sana, namun ia tidak pernah mendapatkan bukti apapun perselingkuhan itu.

Suasana hening. Di ruang dapur yang tidak luas itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan panci.

"Mumpung ada Andi di sini. Ibu ngomong aja langsung sama kalian berdua." Ratih membuka pembicaraan di ruang sunyi itu.

Andi mendongak, "Ngomong apa Bu?" tanyanya datar.

"Ibu mau ngasih saran, gimana kalau kamu dan Febby konsultasi aja ke Dokter Dirga. Sepupu kamu itu. Dia kan Dokter kandungan terkenal. Kebetulan dia buka praktek di Jakarta. Kalian bisa ke sana. Kalau kamu mau, nanti Ibu bikin janji sama dia. Biar kalian ngga antri panjang. Maklum, pasien dia kan banyak."

Andi manggut-manggut. "Oke, aku setuju. Aku dan Febby akan ke sana."

Ratih tersenyum. Ia tatap menantunya yang tengah sibuk mengaduk sayur di dalam panci.

"Kamu dengar kan. Suami kamu setuju. Kamu juga setuju kan?" tanya Ratih pada menantunya itu.

"Iya Bu, aku setuju," jawab Febby.

Mengunjungi Praktek Dokter

Paginya, Febby dan Andi sedang bersiap-siap mengunjungi praktek Dokter yang direkomendasikan oleh Ratih.

Wanita paruh baya itu pulang ke rumahnya di daerah Bogor pagi-pagi sekali. Sebelum pulang, Ratih sudah memberitahu Dirga kalau Andi dan Febby ingin ke sana.

"Kalau Dokter nyaranin kita periksa kesehatan alat reproduksi lagi, gimana Mas? Apa kali ini kamu mau?" tanya Febby pada suaminya yang tengah memakai sepatu.

Andi melirik sinis. "Kamu kan udah beberapa kali periksa dan kamu sehat kan? Ya udah, berarti ngga usah periksa lagi. Jelas-jelas aku dan kamu sehat. Cuma belum aja kita dikasih anak."

Febby mengangguk pelan, "Iya Mas." Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya setelah mendengar jawaban ketus dari sang suami.

Keduanya berjalan keluar rumah yang langsung tertuju pada garasi. Mereka naik ke mobil Avanza milik perusahaan tempat Andi bekerja. Mobil dinas yang berhasil Andi dapatkan setelah lima tahun bekerja di sana.

"Sampai sana, ngga usah ngomong macem-macem sama Dokter. Kamu tinggal konsultasi aja, udah," ujar Andi mengingatkan. Ia memasang sabuk pengaman di pinggang lalu melajukan mobil keluar dari garasi tanpa pagar rumahnya.

Febby hanya diam, memandang keluar jendela mobil sambil menghela napas panjang.

Malas berdebat dengan suaminya yang hanya mau menang sendiri. Suaminya pun tidak pernah mendengar keluh kesah Febby selama dua tahun mereka menikah.

Mereka menikah bukan karena paksaan, tapi karena saling cinta. Namun, seiring berjalannya waktu sikap Andi pada Febby makin berubah dingin dan menyebalkan.

Di tengah perjalanan, mobil yang mereka tumpangi terkena macet parah. Kendaraan di depan tidak bergerak sama sekali, membuat Andi kesal.

"Macet Mas, ngga ada jalan lain?" tanya Febby pada suaminya yang emosi.

"Kamu mau jalan kaki? Udah tahu mobil kita ada di tengah-tengah. Mana bisa aku cari jalan lain," jawab Andi ketus.

Febby menghela napas panjang, berat. Malas bicara lagi, yang hanya membuat Andi kesal. Dia memilih diam.

Satu tangannya membuka kaca spion agar udara masuk, karena AC mobil itu mati. Andi tidak pernah berinisiatif memperbaiki AC mobil itu dengan alasan semuanya urusan kantor.

"Ck!" Andi berdecak kesal, memandangi jalanan macet yang tak berkesudahan. "Jam berapa ini. Kalau tahu begini, lebih baik aku kerja. Kenapa Ibu ngga buat janji temu hari libur saja."

Febby melirik suaminya, malas menyahut. Yang ada suaminya makin marah. Apapun yang dia lakukan selalu salah di mata Andi.

"Coba kamu pesan ojek. Kamu naik ojek aja. Kamu pergi duluan. Biar aku nyusul kalau jalanan udah ngga macet," ucap Andi mencari jalan tengah.

Febby menganggukkan kepala. Ia keluarkan ponsel lalu menghubungi ojek online. Matanya mengamati jalanan saat ini yang tak jauh dari lampu merah.

Setelah mengirim alamat, Febby menunggu ojek datang.

"Udah?" tanya Andi ketus.

"Udah Mas. Nanti juga datang."

"Ya udah, tunggu aja."

"Tapi nanti kamu nyusul kan Mas?"

"Iya."

Tak berapa lama ojek yang dipesan datang. Febby melepas sabuk pengaman di pinggangnya lalu berpamitan pada Andi.

"Aku ke sana duluan ya Mas," ucapnya mencium punggung tangan sang suami.

"Hem, tunggu aku di sana."

"Iya," angguk Febby, menarik sudut bibirnya, memaksa diri untuk tersenyum. Meski dalam hati masih merasa sakit hati pada sikap Andi tadi.

"Ingat ya, jangan ngomong macem-macem. Kamu hanya perlu berkonsultasi tentang kehamilan aja."

"Iya Mas," angguk Febby lalu turun dari mobil.

Tukang ojek yang berhenti di samping mobil avanza hitam itu memberikan helem pada Febby.

"Antar ke mana, Bu?" tanya tukang ojek.

"Sesuai aplikasi aja Bang. Cepet ya, soalnya saya udah ditunggu sama Dokternya."

"Baik Bu."

Motor melaju dengan mudah melewati jalanan sempit di tengah-tengah mobil yang terkena macet.

Tukang ojek itu tampak sangat mahir menggunakan kuda besi itu. Motor meliuk-liuk dengan lincah hingga akhirnya mereka keluar dari jalanan macet.

Tempat praktek yang dituju Febby berapa cukup jauh dari jalanan tadi. Bangunan yang dulunya kosong, dibeli oleh Dirga yang tak lain sepupu suaminya.

"Mau periksa kandungan ke Dokter Dirga ya Bu?" tanya tukang ojek berbasa-basi.

"Iya Bang, katanya Dokter itu bagus. Saya direkomendasiin sama mertua."

"Iya sih, saya denger dari tetangga. Dokter itu bagus. Obatnya manjur. Tetangga saya udah lima belas tahun ngga punya anak, akhirnya bisa hamil setelah tiga bulan menjalani pengobatan di Dokter Dirga. Bagus sih. Obatnya manjur."

Febby tersenyum, secercah harapan mulai terlihat. Akhirnya dia bisa memberikan cucu yang diidamkan oleh orang tuanya dan orang tua Andi.

Febby anak satu-satunya dan harapan satu-satunya untuk memberikan keturunan, penerus di keluarga. Meskipun keluarga dia bukan keluarga kaya raya, tetapi orang tuanya akan mewariskan beberapa hektar tanah di kampung dan sawah, juga kontrakan.

Sedangkan Andi, orang tuanya masih memiliki satu anak perempuan, namun belum menikah.

Orang tua Andi juga sangat mengharapkan cucu dari anak laki-laki satu-satunya itu. Apalagi calon cucu mereka akan menjadi pewaris tanah dan kontrakan dari keluarga Febby.

"Di sini aja Bang, ini kan tempatnya?" Febby menunjuk ruko yang dijadikan tempat praktek Dokter Dirga.

"Iya Bu, ini tempatnya. Kayaknya rame deh."

"Ngga apa-apa. Mertua saya udah bikin janji." Febby turun dari motor, memberikan helem pada tukang ojek dan berjalan ke tempat praktek Dokter Dirga

Dilihat dari luar, suasana tempat praktek itu terlihat ramai. Banyak pasangan muda maupun berumur sedang duduk di kursi tunggu.

Febby melangkah perlahan, masuk ke dalam tempat praktek lalu bertanya pada resepsionis di depan ruang praktek.

"Saya Febby, istri Pak Andi. Ibu mertua saya udah bikin janji sama Dokter Dirga. Apa saya boleh masuk ke ruangan sekarang?" tanya Febby sambil memberikan bukti kalau dia sudah membuat janji temu dengan Dokter.

"Oh, Bu Febby ya? Anda sudah ditunggu di ruangan Dokter Dirga. Masuk aja sekarang."

Febby tersenyum, "Makasih." Ia melangkah mendekati ruangan lalu membuka pintu. Kepalanya masuk lebih dulu, melihat kiri dan kanan.

"Silakan masuk," ucap seorang laki-laki berpakaian Dokter yang memunggunginya.

Cinta Pertama

"Silakan duduk." Dokter yang tadi menghadap ke belakang, memutar tubuhnya dan menunjuk kursi di depan meja.

Febby mengangguk, ia berjalan pelan sambil menundukkan kepala. Rasanya agak sedikit canggung karena biasanya dia berkonsultasi dengan dokter wanita, bukan dokter laki-laki.

"Silakan jelaskan keluhan Anda, Bu Febby," ujar Dokter tampan itu sambil menatap pasiennya dan duduk.

Febby memberanikan diri menatap Dokter tersebut, toh dia hanya berkonsultasi. Kalau sudah hamil, kemungkinan dia melahirkan di bidan wanita saja, pikirnya.

"Saya ingin berkonsultasi tentang kehamilan, Dok," jawab Febby yang akhirnya menatap wajah laki-laki di depannya. Kedua mata Febby membulat saat melihat wajah yang tak asing.

Dokter itu tersenyum ramah, "Anda belum hamil, Bu Febby."

"Mas Dirga." Febby masih tak menyangka dunia sesempit ini. Ternyata Dokter bernama Dirga, adalah kakak kelasnya waktu sekolah SMA dulu. Sayangnya Febby tidak melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi.

Senyum Dirga semakin lebar, "Ya, aku Dirga kakak kelasmu dulu. Ternyata kamu menikah dengan Andi, sepupuku. Kenapa dunia sangat sempit."

Rona merah terlihat jelas di kedua pipi Febby. Dulu dia menyukai Dirga yang memang sejak SMA sangat tampan. Dan sepertinya Dirga menyukainya juga. Namun, saat lulus sekolah Dirga melanjutkan pendidikan keluar negeri.

Orang tua Dirga cukup berada, tidak seperti orang tua Andi. Meskipun orang tuanya mampu membiayai kuliah, Febby justru memilih untuk bekerja dan menikah dengan Andi.

"Iya, aku nikah sama Mas Andi. Aku ngga tahu kalau dia sepupu kamu," angguk Febby menundukkan kepalanya lagi.

"Dunia memang sempit. Siapa sangka kita bertemu sebagai pasien dan dokternya, sekarang. Padahal dulu, untuk bicara denganmu saja ... aku tidak memiliki nyali."

Febby mengulum senyum. Dia ingat saat itu, waktu Dirga ingin memberinya coklat di hari valentine, tapi meminta temannya yang memberikan.

"Iya, kirain kita ngga akan ketemu lagi. Soalnya kamu kan melanjutkan sekolah di luar negeri."

"Kita dipertemukan oleh takdir," gumam Dirga sambil membuka buku di atas meja.

Diam-diam Febby memperhatikan laki-laki tampan di depannya tanpa berkedip. Harus dia akui, walau sudah lama tidak bertemu, tetapi Dirga masih tetap terlihat tampan.

Tidak banyak yang berubah dari laki-laki tampan yang cukup populer di sekolah dulu. Wajahnya, senyumnya dan tatapan matanya masih sama seperti dulu.

Kemungkinan yang berubah adalah perasaannya pada Febby. Tidak mungkin Dirga masih menyimpan perasaan setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu.

"Sudah berapa lama kamu menikah dengan Andi?" tanya Dirga mulai serius. Pertanyaannya itu sudah ke arah pasien dan dokternya.

"Udah dua tahun. Kurang lebih," jawab Febby. "Hem, aku manggil Mas apa? Pak Dokter aja ya."

Dirga tersenyum manis, "Mas juga ngga apa-apa. Kita kan keluarga. Kamu menikah dengan sepupuku, artinya kita sudah menjadi sepupu juga sekarang."

Febby manggut-manggut. "Iya, Mas. Aku dan Mas Andi sudah menikah dua tahun, tapi aku dan Mas Andi belum mendapatkan anak."

"Bagaimana permainan Andi di atas ranjang?" tanya Dirga menatap Febby lekat.

Yang ditatap langsung salah tingkah dan grogi. Pertanyaan seperti itu belum pernah dia dengar keluar dari mulut Dokter, selama dia berkonsultasi tentang kehamilan.

"Katakan saja yang sebenarnya," sambung Dirga. "Aku harus tahu agar aku bisa menjelaskan apa saja yang menjadi penyebab kamu belum hamil sampai sekarang."

Febby menengguk air liurnya. "Permainan Mas Andi di atas kasur. Biasa saja sih Mas. Mungkin sama seperti saat pasangan suami istri berhubungan. Dari awal saya dan Mas Andi menikah, ngga ada yang berbeda. Mas Andi melakukan itu seperti selayaknya suami memberi nafkah batin pada istrinya."

Dirga menulis sesuatu ke atas buku panjang miliknya sambil meremas pulpen. Wajahnya yang tadi ramah berubah kesal. Diam-diam Febby terus memperhatikan Dokter tampan itu meski hanya dari lirikan matanya.

"Permainannya biasa saja ya? Apa kamu selalu mencapai klimaks saat berhubungan dengan suamimu?" tanya Dirga kembali menatap ke arah Febby lekat.

Kedua alis wanita cantik itu naik. Lagi-lagi ia belum terbiasa dengan pertanyaan seperti itu, apalagi yang bertanya laki-laki yang dulu menjadi idolanya.

"Kamu tidak pernah merasa puas, iya kan?" tebak Dirga dengan tatapan dalam. Sorot matanya menjelaskan ada sesuatu yang berbeda dari pertanyaan itu.

Febby mulai terlihat tidak nyaman, pertanyaan itu membuatnya semakin canggung berada di depan Dirga, apalagi di dalam ruangan yang hanya ada mereka berdua.

"Maaf Mas, apa pertanyaan seperti itu bisa jadi penentu kenapa aku belum hamil sampai sekarang?" ucap Febby sambil meremas ujung pakaian, mengalihkan perasaan gugupnya.

"Ya, tentu saja. Pertanyaan seperti ini bisa jadi jawaban kenapa kamu belum hamil sampai sekarang. Selain pemeriksaan organ reproduksi kedua pasangan suami istri. Aku juga harus tahu apa penyebab lain dari keluhan pasien. Kalau memang kamu tidak pernah mencapai klimaks selama berhubungan, berarti penyebabnya ada di situ."

Febby menggaruk alisnya yang tidak gatal. Pertanyaan dan penjelasan dari Dokter di depannya sangat berbeda dengan penjelasan dari Dokter kandungan lain.

Dirga seperti sedang mengorek apakah dia bahagia menikah dengan Andi. Ya, Febby berpikir Dirga ingin tahu soal itu.

"Katakan saja, aku Dokter yang akan membantumu. Kamu bisa terbuka soal apapun denganku," ujar Dirga. Satu tangannya menyentuh jemari lentik Febby yang berada di atas meja.

"Maaf Mas, tapi pertanyaan begitu sangat pribadi. Aku malu mengatakannya." Dengan cepat Febby menarik tangannya.

Walau dalam hati masih ada rasa pada Dirga, tetapi dia tidak ingin mengkhianati suaminya.

"Baik, mungkin kamu masih kaget dengan pertanyaan dariku." Dirga menutup buku panjangnya lalu berdiri. "Silakan berbaring." Ia menunjuk ranjang Dokter di depannya.

Febby melangkah ragu, namun dia tahu pemeriksaan berikutnya memang seperti itu. Sudah biasa dia melakukannya saat datang ke rumah sakit Ibu dan Anak.

"Silakan berbaring," ulang Dirga seraya merapikan bantal agar lebih tinggi.

Febby naik ke atas ranjang lalu berbaring. Ia luruskan kedua kakinya dan menurunkan pakaian agar menutupi perut.

Satu kakinya berusaha merapikan rok panjang yang naik ke atas.

Dirga memasang sarung tangan putih lalu melangkah memutari ranjang dan berhenti di depan kedua kaki Febby.

"Buka celana dalam kamu," kata Dirga yang membuat Febby melotot.

"Kok buka celana dalam, Dok?"

Dirga tersenyum. "Aku atau kamu yang Dokter? Kamu percayakan saja sama aku."

Febby menelan saliva keras. "Tapi, aku malu."

"Kenapa malu? Buka saja." Dirga berjalan mendekati pintu dan menguncinya.

Febby melihat itu, dia semakin gugup dan tak tahu apa yang akan dilakukan oleh dokter tampan itu.

"Buka sekarang," desak Dirga kembali mendekati ranjang. "Atau mau aku yang buka?"

Febby menggeleng cepat. "Maaf Dok. Saya ngga jadi periksa." Ia menurunkan kedua kaki lalu berjalan cepat ke pintu.

Sangking paniknya dia sampai lupa memakai sendal.

Dirga menatap mantan pujaan hatinya yang buru-buru memutar kunci dan keluar dari ruangan.

Wajah Febby terlihat pucat. Syok karena Dirga menyuruhnya yang aneh-aneh. "Mas Andi kemana sih? Kok dia ngga datang," gumamnya cemas.

Setelah Febby keluar, Dirga mengambil sendal jepit yang dipakai tadi, menyimpannya ke dalam laci.

"Pasien berikutnya!" seru Dirga kembali duduk di depan meja kerja.

'Aku pastikan kamu akan kembali lagi ke ruangan ini, Febby.'

Seorang perempuan bersama suaminya masuk ke ruangan dokter itu.

"Silakan duduk," ucap Dirga ramah.

Ternyata Dokter itu....

Merasa ada yang janggal dari pemeriksaan kesuburannya kali ini, Febby memutuskan pulang ke rumah tanpa suaminya.

Sudah ditunggu selama hampir satu jam di halte dekat tempat praktek Dirga, Andi sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Bahkan nomor ponselnya saja tidak aktif.

Daripada emosi dan marah-marah di jalanan seperti orang gila, Febby memilih pulang sendiri menggunakan ojek online.

Sesampainya di rumah kontrakan, Febby membersihkan tubuh dan memilih untuk melupakan kejadian tadi.

Dia tidak ingin mengingat bagaimana Dirga menatapnya. Bahkan meminta untuk dia membuka celana dalam di ruangan yang dikunci tadi.

Seingatnya, pemeriksaan dokter tidak seperti itu. Apalagi harus mengunci pintu ruangan segala. Menakutkan.

Walaupun Dirga pernah mengisi hatinya saat masih SMA, tetapi tetap saja dia tahu mana yang benar dan salah.

Tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk mengkhianati sang suami. Meskipun sikap Andi dingin padanya.

Selesai mandi, Febby bergegas ke dapur untuk memasak makan malam. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, kemungkinan Andi ke kantor dan pulang seperti biasa, jam lima.

Saat tengah mengeluarkan isi kulkas. Terdengar suara deringan ponsel. Febby melihat ke layar, satu panggilan dari mertuanya.

Tangannya meraih benda pipih itu dengan malas. Dia tahu sang mertua pasti ingin bertanya soal konsultasi kehamilan itu.

Febby menerima telepon tersebut dengan lesu, "Ada apa Bu?" tanyanya sambil memilah bahan makanan untuk dimasak.

"Halo Feb. Gimana konsultasi kehamilannya? Berjalan lancar kan? Dokter kali ini pasti lebih baik dari Dokter lain."

Febby menghela napas panjang. Tidak tahu harus menjelaskan apa. Masa dia bilang kalau dia diminta ini dan itu oleh Dirga.

"Gimana? Kok kamu diam?" tanya Ratih penasaran.

"Iya, katanya aku sehat Bu. Ngga ada masalah sama aku. Tapi ngga tahu kalau Mas Andi. Soalnya tadi dia ngga ikut periksa. Mungkin dia langsung ke kantor. Soalnya tadi aku turun di jalan dan Mas Andi ngga nyusul aku."

"Loh kok bisa Andi ngga ikut? Gimana sih dia. Apa dia ngga bisa meninggalkan pekerjaan satu hari aja."

"Kalau soal itu aku ngga tahu Bu. Mending Ibu tanya aja langsung sama Mas Andi. Soalnya aku ngga bisa nelpon dia. Hapenya ngga aktif." Febby malas berbicara panjang lebar, lebih baik dia menyerahkan urusan suaminya itu pada Ibu mertua.

"Ya udah, nanti Ibu tanya sama dia. Dia harus ikut periksa juga biar semuanya jelas. Kalau emang hari ini dia ngga sempat. Nanti Ibu bikin janji lagi sama Dirga hari minggu. Biar Andi bisa datang juga."

Deg!

Febby terdiam. Jujur saja, dia takut kembali ke praktek Dirga lagi, meskipun bersama suaminya.

"Kamu sama Andi harus balik lagi ya. Mumpung Dirga mau membantu kalian berdua. Apalagi pemeriksaan di praktek dia gratis. Coba bayangkan kalau kamu sama Andi menjalani progam kehamilan di tempat lain, tanpa BPJS, pasti menguras dompet."

Febby hanya diam saja. Malas meladeni ocehan mertuanya itu. Ratih dan kedua orang tuanya sama, mereka hanya bisa memaksa agar secepatnya diberi cucu.

Memang memiliki anak bisa semudah membeli satu ikat sayur kangkung di pasar.

"Kamu dan Andi harus mau mengikuti saran dari Dirga. Ya," lanjut Ratih.

"Iya Bu," sahut Febby dengan malas. "Kalau boleh tahu, kenapa Dokter Dirga mau membantu kami dengan cuma cuma? Apa dia ngga merasa rugi Bu?" Ia curiga ada sesuatu yang direncanakan oleh Dirga.

"Ya karena Andi sepupunya," jawab Ratih singkat. "Nanti Ibu ngomong sama Andi. Kamu hubungi saja Ibu kalau Andi udah pulang kerja. Ya."

"Iya Bu," sahut Febby. "Ngomong-ngomong Dokter Dirga, dia... udah punya istri belum Bu?"

"Dokter Dirga, dia udah punya istri dan anak. Istrinya Dokter juga. Dokter kecantikan. Anaknya baru satu. Usianya sepuluh tahun, perempuan."

Deg!

Febby terdiam. Ternyata laki-laki yang dulu dia idam-idamkan menjadi suami, sudah memiliki keluarga. Namun, kenapa Dirga seperti ingin melakukan sesuatu padanya di ruangan tadi.

Ah! Memikirkan itu membuat Febby semakin ngeri untuk datang ke praktek Dirga lagi.

"Nanti Ibu bicara lagi sama Dirga. Kamu mau kan ke sana lagi?"

Febby tak memiliki jawaban. Ingin menolak, takut mertuanya tantrum.

"Harus mau ya! Semua ini kan demi kebaikan kalian. Ibu malu ditanya kapan punya cucu. Apalagi orang tuamu juga ngga sabar pengen punya cucu juga," sambung Ratih, sedikit memaksa.

"Iya Bu, aku mau," jawab Febby terpaksa. "Tapi aku maunya datang sama Mas Andi. Aku ngga mau datang ke sana sendiri. Tolong bujuk Mas Andi ya Bu. Jangan kayak tadi, tiba-tiba dia pergi kerja."

"Iya, dia pasti ikut. Kan Ibu bikin janji hari libur," sahut Ratih. "Oh iya. Malam minggu nanti, keluarga Dirga mau mengadakan acara makan malam. Kamu diundang. Kamu dan Andi datang ya. Ibu sama Bapak juga datang."

"Iya Bu, aku pasti datang," sahut Febby. Sebenarnya dia penasaran seperti apa wajah istri Dirga yang Dokter kecantikan itu. Pastinya selera Dirga tinggi. Wajah wanita itu pasti secantik Bidadari.

"Bagus. Malam minggu nanti ya. Hari minggunya kamu dan Andi ke praktek dia."

"Iya Bu," sahut Febby. "Udah dulu ya Bu. Aku mau masak. Takut Mas Andi pulang kerja."

"Ya udah, Ibu juga mau masak buat Bapak." Keduanya mengakhiri telepon.

'Makan malam di rumah Mas Dirga.' Febby memandang kosong ke depannya.

Tadi Kamu Kemana?

Jam lima sore, ketika Febby baru saja selesai menyiapkan makan malam untuk Andi. Dan tak lama suaminya itu pulang ke rumah.

Terdengar suara mesin mobil yang memasuki garasi, Febby buru-buru menyelesaikan sisa pekerjaan di dapur dan bergegas keluar.

Dilihatnya sang suami yang berjalan lesu sambil membuka dasi di leher dan duduk di sofa ruang tamu.

Febby menghampiri, duduk di sebelah suaminya. "Kok tadi kamu ngga ke praktek Dokter Dirga, nyusul aku?" tanyanya menahan kesal.

"Aku dapat panggilan dari kantor. Tadinya mau balik ke praktek itu, tapi Ibu nelpon bilang kamu udah pulang ke rumah." Andi menjawab dengan lesu sambil membuka kancing kemeja satu per satu.

"Kok bisa Ibu nelpon kamu Mas? Bukannya hape kamu ngga aktif dari siang," lirik Febby, curiga.

Andi berdecak, malas meladeni ocehan istrinya yang bawel.

"Harusnya kamu nemenin aku Mas."

Andi melirik tajam, "Kalau aku nemenin kamu. Terus yang nyari duit siapa? Jangan manja dong! Kamu ngga mikir kalau aku punya tanggung jawab di kantor? Aku ini cuma karyawan biasa, bukan CEO."

Febby terdiam sambil menundukkan kepala. Niat hati ingin marah-marah, dia justru dimarahi oleh suaminya itu.

"Udahlah, jangan dibesar-besarkan. Cuma pekara ngga nemenin kamu aja, pake ngeluh segala. Lagian nanti kan kita ke praktek Dirga lagi. Ibu udah bikin janji di hari weekend. Jadi aku bisa ke sana nemenin kamu."

"Maaf Mas," ucap Febby pelan.

"Jangan bikin aku emosi, aku cepak baru pulang kerja."

"Biasanya kamu juga sering emosi, meskipun lagi ngga capek," celetuk Febby, menatap suaminya.

Rasanya sudah muak melihat sikap suaminya yang dingin dan selalu berbicara ketus padanya.

"Udah jangan mulai! Aku ngga mau berantem sama kamu cuma karena masalah sepele. Lagian suami baru pulang kerja, bukannya bikin minuman. Ini malah ditangan yang macem-macem. Aku capek." Andi berdiri dari sofa.

"Mau aku buatin apa Mas? Teh atau kopi?"

"Apa aja, anter ke kamar. Aku mau istirahat sebentar."

"Sebelum istirahat, mandi dulu Mas. Kamu kan habis dari luar."

"Hem," sahut Andi datar, berjalan dengan gontai ke kamarnya.

Febby menatap punggung suaminya yang perlahan hilang dari pandangan mata. Andi masuk ke kamar dan menutup pintu.

Menghela napas dalam-dalam, ia tidak pernah tidak kecewa atas perlakuan suaminya selama dua tahun menikah.

Pasti ada saja yang membuat Andi emosi, meski hanya pembahasan sepele seperti tadi.

Malas memikirkan itu, Febby berjalan ke dapur, menyiapkan minuman untuk Andi. Biasanya minuman itu sudah siap, namun karena kesal dengan sang suami, dia malas membuatkannya.

Sambil mengaduk gula dalam gelas, Febby kembali terbayang-bayang sikap Dirga yang sangat lembut padanya. Jauh berbeda dengan sikap Andi.

Ah!

Febby buru-buru membuang pikiran itu jauh-jauh. Tak ingin membandingkan laki-laki mana pun dengan suaminya sekarang. Toh, dia sudah memilih Andi untuk menjadi pasangan seumur hidup.

Selesai membuat kopi, Febby ke kamar, melihat suaminya sedang berbaring tanpa busana dan hanya menyisakan boxer menutupi bagian bawah tubuh.

"Ini kopinya Mas," kata Febby meletakkan gelas di atas meja samping tempat tidur.

Andi melirik, satu tangannya menggenggam lengan Febby lalu menariknya. "Layani aku sebentar. Aku pengen."

Febby berdecak. "Mandi dulu Mas." Tidak biasanya dia menolak seperti ini, membuat Andi melotot.

"Kamu nolak permintaan suami kamu?" kaget Andi langsung mengubah posisi menjadi duduk.

"Bukan nolak Mas, tapi aku ngga mau kamu kebiasaan. Kalau pulang kerja itu mandi dulu, baru minta jatah."

Andi mendengus kesal, menatap istrinya tajam, "Biasanya juga kamu ngga pernah protes. Lagian aku kerja di ruangan ber-AC. Badan aku ngga bau."

"Iya Mas, aku tahu. Tapi tetap aja kamu habis dari luar. Mending sekarang kamu mandi dulu." Wanita rambut panjang itu melepas genggaman tangan suaminya lalu berdiri. "Mandi dulu Mas."

Andi melotot, masih tak terima dengan penolakan Febby. Tidak seperti biasa, kali ini wanita cantik itu menolak mentah-mentah. Bahkan tak mau menatapnya sama sekali.

"Kamu masih marah soal tadi?" tanya Andi memelankan suaranya, mulai sadar sikapnya keterlaluan.

"Ngga, aku ngga marah lagi." Febby melangkah mendekati pintu. "Kamu mandi dulu ya. Aku tunggu di ruang makan." Ia keluar dari kamar, meninggalkan suaminya yang masih membeku di atas ranjang.

"Sial!" umpat Andi mengusap pusakanya yang sudah berdiri tegak. Baru saja dia ingin melampiaskan nafsunya yang sudah di ujung tanduk pada istrinya, namun moodnya bercinta hilang seketika karena penolakan.

Sementara, Febby merasa lega karena berhasil menolak permintaan suaminya. Biasanya dia selalu menurut, seperti kerbau yang ditusuk hidungnya.

Kalau dipikir-pikir, percuma juga dia melayani suaminya kalau yang merasakan kepuasan hanya Andi.

Febby duduk di depan meja makan, mengambil cemilan dan memakannya.

Dalam keheningan di ruang makan yang mini malis, terdengar suara ponsel yang mengusik ketenangan.

Febby mengambil benda pipih itu dan melihat satu panggilan dari ibunya.

"Halo Bu, ada apa?" tanya Febby.

"Kamu lagi ngapain Nak? Sibuk ngga?"

"Ngga Bu, kenapa?"

"Oh, ngga apa-apa. Ibu cuma kangen sama kamu. Ibu mau ngobrol sama kamu."

"Oh, kirain ada apa."

"Kamu sehat kan?"

"Sehat Bu. Kalau Ibu sama Ayah, gimana?"

"Kami sehat," jawab sang ibu. "Oh iya, kata Bu Ratih. Kamu dan Andi mulai konsultasi lagi ke dokter kandungan yang baru? Gimana hasilnya?"

"Iya Bu, tapi belum ada hasil apa-apa. Aku dan Mas Andi baru konsultasi, rencananya kami mau ke sana lagi."

"Semoga kali ini berhasil ya. Ibu dan Ayah kamu, udah ngga sabar punya cucu. Kalau kamu hamil nanti, kamu pulang ke kampung sebentar ya. Kamu tandatangani pengalihan harta waris atas nama kamu nanti."

"Kok buru-buru banget Bu? Kan anak aku juga belum lahir."

"Ngga apa-apa. Ayah kamu yang minta. Sekalian kamu tandatangani juga hak kepemilikan tanah, sawah dan kontrakan. Karena ibu dan Ayah kan sudah tua. Kamu dan suami kamu yang seharusnya melanjutkan semuanya."

Febby terdiam.

"Kenapa Nak?" tanya ibunya.

"Ngga apa-apa Bu. Makasih ya Bu, kalian udah mau berjuang untuk aku dan aku tinggal menikmati aja."

"Sudah kewajiban kami sebagai orang tua memberikan semua warisan ke kamu, anak kami satu-satunya. Karena kamu juga sudah mau berjuang memiliki anak."

Febby tersenyum, namun senyum itu tiba-tiba masam saat melihat suaminya datang.

"Siapa?" tanya Andi berbisik.

"Ibu," jawab Febby. "Bu, udah dulu ya. Aku mau nyiapin makanan untuk Mas Andi."

"Oh iya." Keduanya mengakhiri telepon. Febby berdiri, ingin memindahkan panci berisi sayur ke atas meja.

"Ibu kamu ngomong apa?" tanya Andi, penasaran.

"Ngomong soal anak. Biasalah, orang tua aku dan orang tua kamu kan berharap banget punya cucu."

"Ya udah, kita harus getol konsultasi ke Dokter Dirga, biar kamu cepet hamil," ucap Andi sambil tersenyum.

Febby mengerutkan kening. Agak aneh melihat senyum Andi. Bukannya tadi suaminya sedang kesal karena permintaannya ditolak?

Undangan Makan Malam.

"Besok pagi kalian harus ke praktek Dokter Dirga. Malam ini kalian diundang makan malam sama dia." Ratih berbicara di dalam telepon, menghubungi anak.

"Iya Bu. Aku dan Febby udah tahu. Ibu udah berapa kali mengingatkan itu." Andi menyahut kesal di dalam telepon saat ibunya menghubungi.

"Ibu kan cuma ngingetin kamu. Abis kamu itu kan sering banget ninggalin istri kamu sendiri. Yang harus diperiksa itu bukan cuma Febby, tapi kamu juga."

"Iya, nanti aku ikut periksa juga. Udah ya Bu. Aku baru aja bangun tidur. Mau mandi dan sarapan."

"Istri kamu mana? Biasanya Febby yang nerima telepon dari Ibu. Tapi tadi nomornya ngga aktif."

"Dia lagi bikin sarapan. Mungkin hapenya lagi dicas."

"Ya udah kalau begitu. Pokoknya kalian jangan lupa ke rumah Dokter Dirga. Nanti Ibu kirim alamatnya sama kamu."

"Hem, aku ngga akan lupa. Ngga usah kirim alamat, dia masih tinggal di rumah orang tuanya kan?"

"Ya ngga dong. Dirga sama istrinya udah pindah ke rumah mereka yang baru. Mangkanya dia bikin syukuran untuk mendoakan rumah baru mereka."

"Oh!" sahut Andi datar. Lagi-lagi dia merasa tersaingi dengan kesuksesan orang terdekat. Di kantor, temannya selalu pamer pencapaian. Dan sekarang, sepupunya sendiri.

Sedangkan dia, masih saja menjadi karyawan biasa yang hanya mendapat mobil kantor. Itu pun sering dibawa ke bengkel.

"Kali ini kamu harus bisa membuat istri kamu hamil. Kamu tahu kan, Febby itu pewaris satu-satunya kekayaan orang tuanya di kampung. Dia punya tanah, sawah, kontrakan dan tempat usaha. Belum lagi ternak sapi dan kambing. Kalau dia dapat semua itu, kalian pasti bisa beli rumah mewah di Kota."

"Hem, aku tahu soal itu Bu. Ibu tenang aja, aku pastikan Febby bisa hamil."

"Bagus Nak. Ibu tunggu kabar baiknya."

Andi mengakhiri pembicaraan dengan ibunya saat Febby masuk ke kamar yang memang tidak ditutup.

"Sarapan udah siap Mas." Febby melangkah mendekati ranjang, mengambil ponsel yang berada di balik bantal.

Ponselnya tidak aktif sejak semalam karena baterainya habis.

"Tadi Ibu nelpon kamu, tapi hape kamu ngga aktif," ujar Andi, menatap wajah lesu istrinya.

Tanpa kata, Febby hanya menunjukkan layar ponsel yang mati total.

Andi mengangguk paham. "Layani aku dulu. Aku pengen," pintanya.

Febby menghela panjang.

"Jangan ada penolakan! Dari kemarin kamu nolak aku terus!" desis Andi yang sudah tak tahan ingin melampiaskan nafsunya setelah kemarin ditolak oleh Febby.

"Sarapan dulu Mas."

Andi menarik lengan Febby, hingga tubuh wanita langsing itu terjatuh ke atas ranjang.

"Apa-apaan sih kamu! Bisa ngga kamu layanin aku seperti biasa! Gimana kita mau punya anak kalau kamu ngga mau berhubungan dengan aku."

Febby menghela napas dalam-dalam. Terpaksa melayani suaminya meski dalam hati tidak ikhlas. Ia naik ke atas tempat tidur dan duduk.

Andi tersenyum mesum, perlahan membuka pakaian istrinya satu per satu. "Gitu dong. Aku ngga akan marah kalau kamu ngga ngelawan."

Selesai meloloskan semua pakaian Febby, ia mulai mengeluarkan senjata pamungkas yang berukuran tidak terlalu besar.

"Kamu di atas," pinta Andi, berbaring sambil mengusap pisang ambonnya. Tangannya meremas paha Febby, meminta untuk cepat-cepat dimasukan.

Wanita pemilik bulu mata lentik itu mendesah pelan saat pisang suaminya masuk ke dalam liang kenikmatannya.

"Ah! Enak," racau Andi sambil meremas dua gunung kembar istrinya.

"Bikin aku puas ya Mas," pinta Febby sambil mengigit bibir bawahnya.

"Aku mau keluar!"

Kedua mata Febby membulat. Baru beberapa detik masuk, suaminya sudah mencapai klimaks.

"Kok jadi lebih cepet dari biasanya Mas?" protes Febby, menyesal dia mau melayani suaminya kalau lagi-lagi dia tidak merasa puas.

"Ah! Aku udah keluar!" erang Andi saat cairan kental itu menyembur keluar.

Febby mendengus kesal, buru-buru dia cabut pisang yang sudah letoy itu. "Belum ada satu menit Mas. Aku belum puas."

"Mangkanya kalau suami minta, langsung dikasih. Aku kan udah nahan dari kemarin. Wajar kalau cepet."

"Emang ada hubungannya? Biasanya juga kalau langsung dikasih. Ngga sampai lima menit." Febby turun dari ranjang, memakai pakaian satu per satu.

"Biasanya kan dua tiga menit. Masih mending daripada sekarang."

Febby melirik kesal. "Coba kamu minum jamu Mas. Siapa tahu ada perubahan."

"Jamu merek apa sih yang ngga pernah aku minum? Kamu juga sering bikinin jamu untuk aku. Kalau emang udah dari sananya begini, mau gimana lagi?"

Mengembus napas panjang, Febby hanya diam sambil merapikan pakaiannya. Sementara Andi bergegas ke kamar mandi.

"Kamu sarapan duluan aja. Aku masih lama. Mau menyelesaikan pekerjaan dulu di kamar," kata Andi sebelum masuk ke kamar mandi.

Febby tak menyahut, ia keluar dari kamar lalu menutup pintu kamar.

"Harusnya aku bisa nerima suamiku apa adanya, tapi kalau terus begini. Aku merasa ngga sanggup lagi menjalani rumah tangga ini," gumam wanita muda itu sambil mengusap dadanya.

Seharusnya sejak awal dia tahu, seumur hidup itu bukan waktu yang singkat. Menyesal dia menjatuhkan pilihan pada Andi, laki-laki yang mengambil perawanya. Namun tidak pernah memberi kepuasan batin selama dua tahun menikah.

Kecewa yang dirasakan Febby, tak berlangsung lama, karena dia sadar Andi tetaplah suaminya.

Saat di ruang makan, Febby menyiapkan cemilan untuk suaminya agar semangat bekerja meski di hari libur.

Ia membawa nampan berisi kopi dan kue, mengantarnya ke kamar.

Saat membuka pintu, ia melihat suaminya sedang fokus dengan laptop di atas meja.

"Mas makan cemilan dulu," kata Febby meletakkan cemilan ke atas meja.

Andi bergeming, tetap fokus pada layar laptop.

"Nanti malam, kita jadi makan malam di rumah Dokter Dirga?" tanya Febby membuka pembicaraan.

"Jadi," sahut Andi datar.

"Bawa bingkisan ngga?"

"Ngga usah, mereka udah kaya."

Febby manggut-manggut. "Dokter Dirga itu sepupu kamu ya? Aku baru tahu."

Andi melirik sesaat. "Kamu kenal sama dia?"

"Hem, kenal dekat sih ngga, tapi dia mantan kakak kelas aku."

"Oh."

Sikap Andi kembali dingin setelah nafsunya tersalurkan.

"Dia udah nikah lama ya Mas? Kok anaknya udah gede?" tanya Febby, penasaran.

"Iya dia udah nikah. Mungkin baru beberapa tahun. Aku ngga ingat pastinya. Yang jelas dia itu nikah sama janda yang punya anak satu. Istrinya Dokter Kecantikan."

Wanita muda itu membulatkan kedua mata lebar. "Oh, istrinya janda." Sambil manggut-manggut. "Istrinya Dokter kecantikan ya? Pasti dia cantik banget."

Andi kembali melirik, "Masih cantikan kamu. Ya ... aku cukup pintar memilih pasangan dibandingkan dia."

Febby tersenyum malu-malu. Akhirnya ada yang bisa dibanggakan di dirinya.

Malam Harinya

"Aku pakai baju ini cocok ngga Mas?" Febby menunjukkan pakaiannya pada Andi yang tengah menyisir rambut klimisnya dan merapikan kumis tipis di bawah hidung.

Pria yang wajahnya lumayan tampan kalau tersenyum itu menatap istrinya dari atas sampai bawah. Saat ini Febby menggunakan blouse lengan panjang putih transparan dengan rok hitam panjang.

Rambutnya yang panjang dan sehat, digulung seperti konde ditambah riasan tipis dan lipstik ombre yang tidak terlalu menor.

Harus diakui, wajah Febby tanpa make-up saja sudah cantik jelita. Mau pakai baju apapun Febby tetap cantik dan itu tidak berubah meski sudah dua tahun dia menikah dengan Andi.

Alasan itu yang membuat Andi mengejarnya dulu, bahkan rela bersaing dengan banyak pria. Beruntung, dialah pemenang hati Febby yang berhasil mendapatkan perawan wanita muda itu.

Usia mereka terpaut cukup jauh, namun Febby dengan tulus menerima Andi, meski suaminya itu dari keluarga biasa saja. Pekerjaan Andi pun tidak berubah sejak dulu, hanya karyawan swasta.

"Mas, jawab dong. Aku pantas ngga pakai baju ini?" ulang Febby, bertanya pada suaminya yang justru hanya memandang tanpa berkedip sangking terpesonanya.

"Kamu cantik pakai baju apa aja. Ngga pakai baju lebih cantik," canda Andi tanpa senyuman dan tawa. Namun sukses membuat Febby tersipu malu.

"Bisa aja kamu Mas," ucapnya mengulum senyum. "Jadi pakai ini aja kan? Apa ngga keliatan seksi? Bajunya transparan."

Andi menggeleng. "Badan kamu bagus, untuk apa malu pakai baju seksi? Kalau badan kamu burik, baru malu."

"Ya, ngga gitu juga Mas. Aku takut kamu marah kalau aku pakai baju seksi."

"Ngga," sahut Andi, cuek. Dia kembali melanjutkan kegiatan merapikan kumis dan jenggot tipis.

Sementara, Febby bersiap-siap memakai sepatu high heels pemberian mertuanya dua tahun lalu.

Karena jarang keluar rumah dan diajak ke pesta, semua baju dan sepatunya awet tersimpan di dalam lemari.

Entah kenapa, malam ini dia ingin berpenampilan cetar membahana. Biasanya, meskipun dia datang ke pesta pernikahan saudara Andi, dia hanya memakai baju batik couple dengan suaminya.

"Yuk Mas, aku udah siap," ajak Febby melangkah mendekati suaminya yang masih sibuk dengan kumis tipis.

"Kamu duluan aja ke mobil, aku mau buang air besar dulu."

Febby mengerutkan kening. "Bukannya dari tadi Mas."

"Baru terasa mau berak. Tadi cuma sakit perut. Masa aku berak di rumah Dirga, ngga lucu."

"Ya udah kamu buang air dulu. Aku tunggu di mobil."

"Jangan lupa bawa bingkisan titipan Ibu." Andi menunjuk kotak cukup besar yang ada di atas meja.

Kotak berisi makanan khas Surabaya, tanah kelahiran Andi yang dikirim oleh Ratih tadi siang.

"Aku nunggu di mobil," ucap Febby setelah mengambil kotak tersebut. Ia melangkah keluar dari kamar. Sedangkan Andi, masuk ke kamar mandi.

Baru masuk ke mobil, Febby sudah ditelepon oleh ibu mertuanya.

"Aku dan Mas Andi udah mau ke rumah Dokter Dirga Bu. Baru aja mau pergi."

"Oh, ya udah. Ibu cuma mau nanya itu. Bagus kalau kalian udah mau ke sana. Hati hati ya. Jangan lupa sampaikan salam Ibu untuk dia dan istrinya."

"Iya Bu. Nanti aku sampaikan." Keduanya mengakhiri telepon.

Di dalam mobil suaminya, Febby menatap wajahnya di cermin sambil tersenyum, menatap kagum pada kecantikannya.

"Masa sih aku jauh lebih cantik daripada istrinya Mas Dirga," gumam Febby, tak sabar bertemu dengan istri mantan kakak kelasnya itu.

Tidak sampai sepuluh menit, Andi datang dan masuk ke mobil. Pria dingin itu duduk di kursi kemudi.

"Ngga ada yang ketinggalan?" tanya Andi celingak celinguk memastikan tidak ada yang terlupa.

"Ngga ada Mas, semuanya udah aku bawa," jawab Febby yakin. "Oh iya, tadi Ibu nelpon aku."

"Dia bilang apa?"

"Katanya jangan lupa titip salam buat Dokter Dirga dan istrinya."

"Oh, kirain apa." Andi menghidupkan mesin, melajukan mobilnya meninggalkan rumah.

Sepanjang jalan keduanya hanya diam, Andi fokus pada pandangan di depan. Sedangkan Febby sibuk memastikan dandanannya sudah sempurna.

Tidak sampai satu jam, mereka tiba di rumah mewah Dokter Dirga.

Andi menghentikan mobil di depan pintu pagar hitam yang menjulang tinggi itu. Memastikan dia tidak salah alamat.

"Ini benaran rumah Dokter Dirga, Mas?" tanya Febby mengagumi arsitektur rumah bergaya Eropa Modern dengan cat hitam putih itu.

"Iya, ini rumahnya. Alamatnya sama seperti yang diberikan Ibu. Rumah cat hitam putih. Nomor dua puluh dua. Paling sudut," jawab Andi mengeja alamat yang dikirim ibunya.

Febby menganggukkan kepala. "Berarti benar ini rumahnya. Besar ya Mas. Bagus, dan mewah."

Andi menghela napas berat. Lagi-lagi dia kalah saing dengan saudara sepupunya. Bahkan teman-temannya dulu.

Salah satu alasan dia malas menghadiri reoni sekolah, karena dia tidak memiliki apapun untuk dibanggakan kecuali istrinya.

Anak, dia tidak punya!

"Turun," ucap Andi membuka sabuk pengaman di pinggang.

Febby melepas sendiri sabuk pengamannya. Berharap Andi yang melepas? Sampai pagi pun tidak akan pernah terjadi.

Keduanya turun berbarengan dari mobil, membiarkan mobil terparkir di luar pagar.

Andi meraba pagar hitam itu, mencari lubang kecil yang biasanya ada di sana.

"Cari siapa?" tanya seorang satpam yang mengeluarkan kepalanya dari lubang pagar.

"Cari Dokter Dirga. Kami diundang makan malam sama beliau," jawab Febby ramah.

"Saya Andi, sepupu Dirga," sambung Andi.

"Oh, tunggu sebentar," angguk satpam itu lalu membuka pintu pagar.

"Siapa Pak?" tanya seseorang yang berdiri di ambang pintu rumah mewah itu.

"Katanya tamunya Bapak, Bu. Sepupu sama istri Pak Dirga," jawab satpam.

"Oh, Mas Andi ya? Sama Febby?" Seorang wanita berjalan masuk ke rumah, memanggil suaminya. "Mas, tamu kamu udah datang tuh."

Dirga yang tengah berdiri di depan lemari kaca dekat ruang tamu, merapikan kemeja putihnya sambil tersenyum simpul melihat pantulan dirinnya di cermin. 'Selamat datang di rumahku. Febby.'

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bekas Luka Ikatan yang Hancur
8.6
Tiga tahun pernikahan Sinta terasa hampa karena sikap dingin Trisna. Situasi memburuk ketika cinta pertama suaminya kembali, memicu munculnya berkas perceraian. Walau Sinta menyatakan dirinya tengah mengandung, Trisna tetap teguh pada keputusannya untuk berpisah. Di atas ranjang rumah sakit, Sinta akhirnya menyerah dan membubuhkan tanda tangan. Namun secara tak terduga, Trisna justru berbalik memohon ampunan serta berjanji memperbaiki diri, membuat Sinta didera keraguan besar.
Sampul Novel Hadiah yang Kusiapkan Untuk Suamiku
8.1
Di tengah acara kumpul bersama, pernikahan modern Jenny hancur seketika. Sambil mengupas udang untuk Jenny, suaminya, Charles Gunandi, diam-diam membahas kehamilan dua bulan selingkuhannya, Shinta, menggunakan bahasa Prancis. Charles berencana membesarkan anak itu di luar negeri sebagai ahli waris karena mengira Jenny membenci anak-anak. Jenny, yang sebenarnya paham bahasa Prancis, hanya bisa menangis dalam diam dan berbohong bahwa air matanya menetes akibat rasa pedas dari saus yang sebenarnya hanyalah kecap asin.
Sampul Novel Ipar Jadi Pacar
9.2
Mimpi Rheana tentang pernikahan indah sirna di malam pertama. Andre, suaminya, ternyata menikah hanya demi warisan dan mencintai wanita lain, Kania. Kemalangan Rheana memuncak saat ia terjebak dalam skandal satu malam di sebuah pesta ulang tahun. Betapa terkejutnya Rheana ketika mengetahui pria di malam itu adalah Samuel Rahardyan, adik iparnya sendiri yang baru pulang dari luar negeri dan belum pernah ia temui.
Sampul Novel Iparku Yang Menggoda
8.8
Pernikahan Lauren dan Matthew terancam goyah sejak Matthias tinggal di rumah utama untuk merawat ibunya yang sakit. Suatu malam, Matthias lancang menyentuh Lauren hingga memicu trauma mendalam. Meski dibenci dan dihindari, Matthias yang terobsesi justru membongkar perselingkuhan Matthew dengan sang sekretaris. Matthias pun menawarkan bantuan untuk balas dendam, mendesak Lauren memilih antara menjaga kesetiaannya atau menuntaskan rasa sakit hatinya.
Sampul Novel Lima Tahun Kebohongan
9.6
Demi warisan dan uang, Damon dan Aurelia menjalani pernikahan kontrak. Lima tahun berpisah, Damon pulang untuk mengurus perceraian. Namun, ia terkejut saat melihat Aurelia merawat seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengannya. Kini, di tengah desakan komitmen dari Mira, sang kekasih, Damon bimbang. Ia harus memilih antara rencana masa lalu atau menjadi ayah. Ketika rahasia besar terkuak, Damon pun terpaksa mempertaruhkan segalanya.
Sampul Novel Miss Villainess Is Wealthy
8.0
Valerie terbangun di masa lalu dan lolos dari kematian, tetapi malah terjebak skandal satu malam dengan Cedric, pemuda misterius. Demi perlindungan dari Keluarga Meyer, keduanya sepakat menjalani pernikahan kontrak selama dua tahun. Meski Cedric melarangnya jatuh cinta, Valerie harus menghadapi kenyataan pahit bahwa sisa umurnya tidak lama lagi. Di tengah badai ujian yang menguji ketegarannya, sanggupkah Valerie bertahan hidup?