APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel A Whore Mate

A Whore Mate

Tinggal serumah, Layla menaruh curiga pada Zeline, mahasiswi Universitas Pembangunan yang kerap pergi tiap malam. Meski jarang masuk kelas, nilai akademis Zeline anehnya mengalahkan Alana. Misteri mulai tersingkap ketika Zeline mendanai pengobatan ayah Layla. Kebenaran mengejutkan akhirnya terbongkar saat Roger, pacar Alana, mengenali Zeline sebagai pemuas nafsu. Ketiganya ternyata berbagi atap dengan seorang pelacur.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Assalamualaikum ....”

“Wa–wa’laikum salam Kak,” jawab Layla tergagap kaget. Menggoyang-goyangkan tubuh Alana yang tertidur di atas sajadah di sebelahnya. Perempuan itu kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.

Mereka baru lunas menunaikan salat asar, benar-benar baru selesai. Masih di masjid, masih di sisi masjid bagian jamaah perempuan, bahkan belum lepas mukena putih yang mereka kenakan untuk salat.

Sementara goyangan tangan Layla seketika membangunkan Alana. Gelagapan membenahi mukena sekenanya, duduk dengan cepat, menatap perempuan yang berdiri merunduk di depan mereka berdua.

Perempuan yang perawakannya jauh lebih cantik dari mereka. Senyum yang manis lengkap dengan lesung pipi. Kulit kuning langsat dengan mata sipit.

Jika bukan bertemu di masjid mereka pasti Alana akan mengira bahwa perempuan ini bukan pemeluk agama Islam. Pasti juga akan mengira bahwa perempuan di depannya ini keturunan Chinesse saking putih dan cantik parasnya.

“Gu–gue boleh duduk di sini kan?” ucap perempuan itu.

“Oh silakan, Kak. Silakan,” jawab Layla ramah. Menggeser tubuhnya hingga kini mereka bertiga tampak seperti melingkar.

Alana yang sudah kembali seratus persen kesadarannya menatap lamat-lamat perempuan itu. “Kaka habis salat asar juga? Saya kok tidak lihat di deretan jamaah tadi?” tanya Alana.

Perempuan itu mengangguk, tersenyum. “Iya gue tadi ketinggalan jamaah karena urusan dokumen di kampus nggak selesai-selesai.”

Layla dan Alana seketika memutar wajah, saling berhadapan, hingga mata mereka bertemu.

“Jadi kaka ini mahasiswa baru?” tanya Layla.

Perempuan itu mengangguk. “Kenapa memangnya?”

“Astaga, saya kira mahasiswa lama di sini Kak,” jawab Layla sambil menepuk jidatnya.

“Iya sama. Aku kira kakak tuh mahasiswa lama di sini. Eh kok ya ternyata kita ki satu angkatan toh,” sambung Alana dengan logat Rambugunungnya yang masih kental.

“Iya gue baru kok di kampus UP. Kalian sama kan? Jurusan apa kalian?” tanya perempuan itu antusias. “Eh, jangan panggil kak dong. Kenalin, nama gue Zeline. Fakultas ilmu ekonomi,” lanjutnya sambil mengajukan tangannya.

Mendengar kata terakhir Alana langsung menyambar tangan Zeline. Menjabatnya erat sambil menggoyang-goyangkannya. Bahkan mungkin sekarang sedang ada pesta kembang api yang sangat meriah di dalam hatinya.

Tampak cerah sekali wajahnya. Senang bukan main setelah akhirnya menemukan teman yang fakultasnya sama dengan dirinya. Bahkan mungkin satu kelas juga bisa jadi.

“Saya Alana, Kak. Eh, Zeline maksudnya. Namaku Alana, Zel. Salam kenal, kita fakultasnya sama loh,” jawabnya dengan penuh rasa gembira. Menatap Layla yang hanya sanggup tersenyum kecut di sebelahnya.

Ya mau bagaimana pun ia pasti merasa iri pada sahabatnya itu. Ingin juga rasanya menemukan teman yang sama satu fakultas dengan dirinya.

“Argggh .... kenapa hidup selalu tidak adil pada orang yang lebih miskin,” dengusnya di dalam hati.

“Oh iya kah? Wah kebetulan sekali kita bertemu sekarang ya,” jawab Zeline sambil meregangkan jabat tangannya. “Lalu kalau kakak? Siapa namanya?” Berpindah menyodorkan telapak tangannya ke arah Layla.

“Layla, namaku Layla, Zeline. Salam kenal ya. Saya dari fakultas sastra Inggris,” jawab Layla datar. Menyambut jabat tangan Zeline dengan tak bersemangat meski tetap memasang senyum terpaksanya.

“Salam kenal juga Layla. Kalian ini dari luar kota ya? Kok rasanya baru sekali lihat kalian salat di masjid ini,” tanya Zeline lagi sambil melepaskan jabat tangannya. “Lagian logatnya juga beda. Kelihatan beda banget sama gue.”

“Cih ...!! Sombong banget baru kenal juga,” batun Layla lagi. Seketika entah kenapa ia jadi semakin tidak suka dengan gadis satu ini. Jujur saja, perempuan di depannya bernama Zeline ini mulai terkesan tidak mengenakkan bagi Layla.

Namun sebagaimana seorang pendatang, Layla tetap saja mengangguk. Mengikuti anggukan Alana yang duduk di sebelahnya. Bedanya, Alana tersenyum dengan penuh antusias. Sementara Layla tersenyum malas.

“Iya benar, Zel. Kebetulan banget hari ini baru sampai di Kota Gani. Kalau kamu?” tanya Alana balik.

“Oh gue asli dari kota ini sih. Em ... tapi,” Kalimatnya terpotong, menekuk wajah terlihat gundah.

“Tapi apa Zel?” potong Alana cepat, penasaran.

Perempuan itu tampak bersimpatik dengan wanita yang kini sekaligus akan jadi teman satu fakultasnya itu.

Perempuan yang tampilannya sangat jauh dari mereka berdua. Rambut yang diwarna pirang di ujungnya. Wajah dan tubuh yang tampak sekali terawat dengan baik.

Bahkan hingga sekilas mata mereka tak dapat menemukan bekas luka bahkan satu pun jerawat di wajah dan tubuh Zeline. Belum lagi pakaian bermerek mahal dengan bahan terbaik. Hanya melihatnya saja dua wanita itu bisa merasakan kelembutan bahannya.

Sudah tentu jauh berbeda dengan Alana, apalagi Layla. Mereka dari desa, bagi mereka berdua penampilan sama sekali tidak penting. Apalagi soal pakaian mahal dengan brand ternama.

Ah, mereka berdua mana tahu soal itu.

Mereka berdua lebih paham dan hafal nama-nama makanan tradisional di daerah mereka daripada brand pakaian ternama. Seperti geplak, lemper, golang-galing, onde-onde, tape ketan dan teman-temannya. Tanya saja ke mereka soal makanan. Mereka punya wawasan yang sangat luas.

“Ya begitulah,” jawab Zeline sambil memaksakan bibirnya tersenyum. Seperti menelan pil pahit rasanya. “Masalah antara remaja dan orang tuanya. Itu kenapa sepertinya aku harus cari kosan untuk sementara waktu,” lanjutnya sambil menelan ludah.

Layla bisa menangkap dengan jelas tenggorokan perempuan itu bergerak. Perasaan nelangsa seakan ikut merayap di hatinya. Ikut merasa kasihan.

Tapi tetap saja ia tak suka Zeline. Perempuan sombong itu, oh ayolah. Jangan bilang Alana tak menyadari itu. Perempuan ini terlihat aneh. Sok kenal dengan mereka berdua. Mungkin ada maksud lain yang disembunyikannya.

Apa pun itu mulai sekarang Layla harus lebih hati-hati. Ini bukan di Rambugunung. Desa itu ada di puluhan bahkan ratusan kilometer jauhnya dari sini. Tidak ada orang yang akan membantu jika mereka kenapa-kenapa di Kota Gani. Tidak akan ada orang yang mau menolong mereka berdua.

Kenangan Layla melayang, jatuh di siang itu saat ia tergopoh masuk rumah. Berteriak memanggil bapak dan mamaknya. Memberi tahu mereka bahwa ia diterima kuliah.

Satu hal yang Layla ingat betul dan tahu posisinya sekarang.

Terjebak di satu mimpi dan dua orang hebat terkasihnya yang menyerah. Bagian terberat dari perjuangan. Meletakkan dua tumbal sekaligus untuk satu mimpi. Formula yang belum tentu berhasil untuk hidup yang dinamis.

“Wah kebetulan sekali bukan, Lay?” pekik Alana tiba-tiba. Membuat lamunan perempuan di sebelahnya buyar. Mengembalikan kenangannya berpendar cepat kembali jatuh di kenyataan.

“Hah? Gimana? Gimana, Al?” jawabnya gelagapan bingung. “Keb–kebetulan apa weh?”

Alana mengerutkan kening. Sementara Zeline terkekeh melihat tingkah Layla yang mirip seperti mesin motor baru dinyalakan.

“Itu! Kos an, rumah, atau apa lah, kita lagi nyari kan? Kebetulan banget Zeline juga sedang nyari,” jawab Alana sebal. Kenapa penyakit sahabatnya satu ini mesti kumat di waktu yang tidak tepat.

“I–iya Zel, kebetulan banget. Hehehe .... sorry galpok. Gagal pokus tadi,” ujar Layla menutupi salah tingkahnya.

“Fokus, Lay. Fokus, bukan Pokus. Ah, kamu ye bisa aja ngelawak. Eh gimana kalau kita nyari bareng aja bertiga. Syukur-syukur kan kalau bisa dapet satu rumah untuk bertiga,” jelas Alana. Menelisik mata dua perempuan di sebelahnya bergantian. “Ya nggak, ya nggak?”

“Nah Boleh banget! Ide bagus tuh,” sambar Zeline. “Tapi sebenarnya gue ada satu rumah incaran sih. Buset incaran, udah kayak mau maling aja nih gue,” jawab Zeline diiringi tawa dari dua orang di kiri kanannya.

“Eh tapi gue juga belum ke sana langsung buat lihat sih. Ceritanya sih ini rumah bude gue, ya kakak dari nyokap gitu deh. Tapi udah nggak ditempati. Eh, tapi nggak lama kok. Baru tiga harian yang lalu mereka pindah ke luar kota. Jangan bayangkan rumah tua penuh hantu ya. Kalau itu mah Zeline juga nggak mau nempatin! Amit-amit,” lanjutnya sambil tertawa lagi.

Mendengar kalimat terakhir Zeline dua orang di sebelahnya ikut tertawa lagi. Siapa juga yang mau tidur dengan para makhluk halus. Ada-ada saja Zeline.

“Eh tapi mahal nggak Zel sewanya?” tanya Alana terus terang. Alana tidak mau kalau rasa senangnya kena PHP karena harga sewa yang mahal. Mana sudah beranjak semakin sore lagi. Tidak banyak waktu yang mereka punya.

“Em ... kalau itu sih gue belum tahu ya. Nanti deh biar gue yang tanyain langsung ke Bude. Itu soalnya kan rencananya hari ini gue cuma mau lihat lokasinya. Nah karena kebetulan hari ini kita ketemu, ya mau gimana lagi? Mungkin kalau cocok kita bisa langsung bersih-bersih terus kita tempatin bertiga deh. Gimana-gimana? Lay? Jangan diam doang dong,” protes Zeline.

“Iya kan kamu lagi ngomong, Zel. Masa’ iya aku potong. Hehehe .....” Jawaban polos yang sebenarnya lebih menunjukkan bahwa mungkin pikiran buruk di kepala Layla ini memang ada benarnya.

“Gini Zel, aku cuma lagi mikir lokasinya itu. Jauh atau enggak sama kampus. Ya, secara kan kita berdua, aku dan Alana tidak punya kendaraan transportasi jarak dekat seperti kamu. Kamu ada motor, kalian bisa berangkat bareng. Sementara aku?” lanjut Layla.

Ayolah, semua orang juga tahu kalau itu bentuk penolakan halus. Bentuk protes verbal yang dikemas dengan alasan yang logis. Sudahlah, Layla intinya tidak suka dengan Zeline sesering apa pun ia tersenyum pada perempuan itu.

Tadi sih katanya karena perempuan itu sombong tapi sekarang karena firasatnya. Dasar memang tidak bisa ditebak.

Terlepas dari firasatnya sekarang. Terlepas dari caranya melihat Zeline, satu rumah untuk tiga orang seperti kata Alana adalah ide paling bagus. Setidaknya sampai saat ini.

Setidaknya sampai ia sapat incaran tinggal lain agar bisa menjauh pelan-pelan dari Zeline.

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balasan Setimpal Untuk Suami & Selingkuhannya
8.2
Kehancuran rumah tangga yang damai memaksa seorang istri menghadapi kenyataan pahit atas pengkhianatan suaminya. Alih-alih tenggelam dalam kesedihan mendalam, rasa sakit itu justru memicu kekuatan baru di dalam dirinya. Ia memilih bangkit dan dengan tenang merancang strategi matang untuk menuntut keadilan. Kisah perjuangan emosional seorang wanita yang bertekad membalas rasa sakit hati, sekaligus memberi ganjaran setimpal bagi suami dan selingkuhannya.
Sampul Novel Beauty and The Mafia
8.4
Rosetta Alighieri diculik oleh Marco Botticelli, seorang mafia kejam, setelah difitnah oleh kembarannya sendiri, Caritta, mencuri kalung pusaka pria itu. Di tengah sekapan bahaya, perasaan cinta yang tak terduga justru bersemi di antara korban dan sang penculik. Saat Marco menawarkan hubungan serius, Rosetta pun didera dilema besar. Haruskah ia menerima cinta sang kriminal dan terjun ke dunia gelap penuh risiko demi perasaan yang kian tumbuh?
Sampul Novel Ketika Suami Tak Lagi Peduli
8.9
Arista mendambakan pernikahan harmonis bersama Yoga, tetapi kenyataan pahit yang harus ia telan. Usai melepas pekerjaannya demi mengabdi pada suami, ia justru ditelantarkan tanpa nafkah dengan dalih upah yang ditangguhkan. Batas kesabaran Arista runtuh kala kebohongan Yoga terbongkar di tengah kondisi anak mereka yang jatuh sakit. Kini, ia bertekad membongkar motif di balik sikap dingin sang suami. Misteri kelam apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Yoga?
Sampul Novel PELUKAN UNTUK LANIA
8.4
Demi keluarga, Amara rela berkorban, tetapi takdir malah menorehkan kepedihan mendalam. Luka lamanya terkoyak kembali saat sang ayah kandung yang dahulu menelantarkannya tiba-tiba muncul. Di saat terpuruk, Angkasa datang menawarkan kehangatan hingga Amara terpikat. Namun, ketulusan itu runtuh ketika Amara menyadari dirinya hanya dijadikan selingkuhan. Kini, terjebak dalam status perusak hubungan, ia mulai kehilangan harapan akan masa depannya.
Sampul Novel SUAMI PILIHAN KAKAK UNTUKKU
7.9
Setelah menolong Andreas yang terluka, Viola justru terjebak pernikahan kontrak dengan pria kejam itu akibat paksaan kakaknya, Henry. Tragisnya, Henry kemudian tewas di tangan Andreas tepat di depan mata Viola. Meski didera dendam, Viola bertahan hingga akhirnya melarikan diri dalam kondisi hamil. Lima tahun berselang, takdir mempertemukan mereka kembali. Viola kini dirundung dilema besar antara menuntut balas atau menerima kenyataan bahwa Andreas adalah ayah kandung putrinya.
Sampul Novel Terjerat Cinta Pria Bayaran
8.9
Akibat gagal melupakan Megan, Saga nekat menjadi pria panggilan untuk janda-janda kaya hingga reputasinya melejit. Suatu hari, Bella, seorang istri muda yang tidak pernah mendapat kepuasan batin dari suaminya, memutuskan menyewa jasa Saga dengan bayaran fantastis. Seringnya pertemuan mereka justru menumbuhkan perasaan cinta di hati Bella terhadap Saga. Akankah Saga membalas cinta sang klien atau memilih tetap menjaga profesionalisme kerjanya?