
18 Kali Gagal Nikah
Bab 5
Pukul 11 malam, Nathan yang biasanya jarang pulang muncul di rumah.
Setelah melepas mantelnya dan hendak menggantung mantelnya di balik pintu, dia menyadari tempat yang biasanya terpajang foto kami kosong. Dia tertegun untuk cukup lama.
"Kenapa foto kita di balik pintu hilang?"
Dia bahkan tidak menggantungkan mantelnya dan bergegas masuk ke kamar untuk menanyakan hal ini.
"Fotonya jatuh, pecah."
Mendengar jawabanku, dia melirik pecahan kaca yang berada di dekat tempat sampah. Saat ini, dia tampak lebih tenang. Dia meletakkan mantelnya di samping, lalu mengeluarkan sebuah kantong berisikan tas bermerek.
"Kemarin, aku nggak sempat memberimu hadiah. Kebetulan hari ini adalah hati peringatan tiga tahun pernikahan kita. Tas ini untukmu, selamat ulang tahun pernikahan."
Dia meletakkan tas itu di kasur. Seketika, aku curiga bahwa aku salah dengar.
Setelah tiga tahun menikah, ternyata dia masih ingat hari peringatan pernikahan kami?
Namun, ketika melihat waktu yang tertera di struk belanja, tepatnya setengah jam yang lalu, aku pun tersadar. Sepertinya keterangan yang tertera di unggahan Shilla mengingatkannya, dia mampir untuk membeli tas ini dalam perjalanan pulang.
Namun, dia tidak tahu bahwa aku sudah memiliki dua tas seperti ini di dalam lemari.
Aku tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatapnya.
"Oh, ya, sudah mau akhir tahun. Bisakah kamu melewatkan penghargaan tahun ini? Shilla sudah berkecimpung di industri ini selama tiga tahun, keinginan terbesarnya adalah memenangkan penghargaan terbaik seperti kamu. Kamu sudah memenangkannya selama beberapa tahun berturut-turut, tahun ini bolehkah kamu mengalah padanya?"
Ketika mengucapkan kalimat ini, dia agak terbata-bata.
Aku tersenyum masam. Ternyata inilah balasan yang dia harapkan dari hadiah itu.
"Boleh."
Aku mengangguk dengan tenang.
Bukan hanya tahun ini, tahun depan, dua tahun kemudian dan penghargaan di masa mendatang, aku tidak akan bersaing dengan Shilla. Karena setelah malam ini berlalu, besok aku akan pergi.
"Kamu ... kamu setuju?"
Mungkin jawabanku yang lugas membuatnya terkejut. Nathan berulang kali melirikku dengan sudut matanya.
Kemudian, dia berkata, "Shilla adalah muridku dan kamu adalah istri gurunya, sudah seharusnya seperti ini."
"Oh, ya, besok aku nggak ada jadwal penerbangan. Besok pagi, ayo pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk mendaftarkan pernikahan."
Aku tidak menanggapi.
Sepertinya dia teringat bahwa hari ini aku sedang mengemas koper. Setelah terdiam sejenak, dia bertanya dengan lembut, "Aku hampir lupa, sepertinya besok kamu ada jadwal penerbangan, jam berapa?"
"Jam tiga sore."
Aku menatapnya dan hendak memanfaatkan kesempatan ini untuk memberitahunya bahwa aku akan pergi. Namun, sebelum aku berbicara, ponselnya sudah berdering.
Shilla meneleponnya. Melalui sambungan telepon, terdengar suara centil Shilla. Shilla sedang menstruasi dan tidak memiliki pembalut, jadi dia meminta bantuan pada Nathan.
Setelah Nathan mengakhiri panggilan, dia menatapku dengan rasa bersalah. "Itu ... Shilla alami sedikit masalah. Dia agak kesulitan, aku mungkin harus pergi menemuinya."
Saat mengucapkan kalimat ini, dia seolah-olah sedang meminta izin.
Aku mengurungkan kata-kata yang hendak kuucapkan, lalu tersenyum padanya sambil mengangguk. "Nggak apa-apa, pergilah."
Kata-kataku membuatnya lega.
Dia segera berdiri. Sebelum pergi, dia berkata, "Jadwalmu jam tiga sore, masih sempat. Besok pukul 10 pagi, kita pergi daftarkan pernikahan. Tenang saja, kali ini apa pun yang terjadi, aku pasti datang."
Aku tersenyum masam. Pada akhirnya, dia tetap tidak memberiku kesempatan untuk mengucapkan perpisahan secara langsung.
Keesokan paginya.
Aku mengemas barangku dan langsung berangkat ke bandara, aku tidak pergi ke Kantor Catatan Sipil.
Hingga siang hari, Nathan masih belum meneleponku untuk menanyakan kenapa aku tidak pergi ke Kantor Catatan Sipil.
Sore hari, ketika aku hendak masuk ke pesawat, aku menerima pesan dari Nathan. [Maaf, hari ini Shilla nggak enak badan. Aku baru mengantarnya ke rumah sakit dan nggak sempat mendaftarkan pernikahan kita. Setelah kamu pulang, aku akan langsung menemanimu pergi ke Kantor Catatan Sipil.]
Ketika membaca pesan ini, hatiku sangat tenang.
Memang benar, ini adalah ke-18 kalinya kami akan mendaftarkan pernikahan dan Nathan tetap tidak pergi.
[Nggak usah, Nathan. Aku sudah mengundurkan diri dan akan pergi ke Doma. Mulai hari ini, kita nggak akan bertemu lagi.]
Aku mengirimkan pesan terakhir padanya dan hendak mematikan ponsel.
Namun detik berikutnya, kotak obrolan yang sudah lama hening itu tiba-tiba bergetar hebat.
Anda Mungkin Juga Suka





